STUDIA Edisi 337/Tahun ke-8 (16
April 2007)
Bulan April,
apa sih yang ada di benak kamu? Hari Kartini, pastinya. Hari yang diyakini
sebagai tonggak emansipasi kaum wanita. Nggak bosan-bosannya topik ini
dibicarakan terutama di kalangan aktivis feminisme dengan judul baru bernama
pemberdayaan perempuan. Seakan-akan tanpa program mereka, kaum perempuan tak
berdaya.
Diperparah dengan beberapa lagu yang sengaja memanas-manasi para
perempuan untuk mau ‘berjuang’. Nah, salah satunya lagu di bawah ini neh.
Di era tahun 80-an, ada lagu yang berlirik seperti ini :
Semenjak Kartini itu lahir di hari itu
Contoh dan teladan diberi pada kaumku
Wanita bukan budak yang hina
Anggapan lama semua kaum pria
Gunung kan kudaki laut kuseberangi
Mencari Bahagia
Aku disakiti aku diingkari
Dan aku dihina
Apa pria tega menghina wanita
Sayang sayang sayang
Adam tanpa hawa
Tak ada artinya
Sayang sayang sayang
Waduh, hapal banget yah? Hehe, kebetulan aja kakak-kakak saya yang
cewek adalah penggemar lagu melow, salah satunya adalah lagu ini. Dan
kebetulan aja saya yang saat itu masih pake seragam putih merah alias SD
teringat dengan lirik ini. Coba deh kamu tanya ke mamamu yang barangkali aja
ingat dengan lagu ini.
Kita bukan mau berlatih olah vokal. Saya juga tak akan mengajari
kamu bagaimana cara menyanyikan lagu ini. Tapi saya akan ajak kamu untuk
berpikir kritis dalam menyikapi hari Kartini dan juga lagu-lagu sejenis ini.
Supaya apa? Supaya kamu nggak terjebak dan terjerumus dengan ide feminisme yang
kedengarannya aja manis di mulut dengan tajuk perjuangan hak perempuan. Padahal
mah ide ini jauh panggang daripada api, alias nggak ada bagusnya bagi
perbaikan nasib dan harga diri kaum perempuan sendiri. Nggak percaya? Baca aja
lanjut, okay?
Perjuangan Kartini
Tak ada yang salah dengan perjuangan Kartini. Toh beliau memang
hidup di alam penjajahan dan jaman feodalisme Jawa masih mengungkung erat.
Jaman ketika perempuan masih dianggap rendah sekedar ‘konco wingking’ alias
teman di belakang bagi para pria. Maksudnya perempuan itu tempatnya cuma dapur,
sumur dan kasur. Walah! Perempuan nggak boleh ikut mengurusi selain ketiga hal
itu. Karena urusannya cuma itu, maka nggak perlu perempuan sekolah
tinggi-tinggi. Nggak ada gunanya. Toh, nanti kembalinya juga bakal ke dapur
lagi.
Kartini, sebagai seorang perempuan cerdas, nggak terima dengan
kondisi ini. Apalagi lingkungan bangsawan Jawa membuatnya sering bergaul dengan
noni-noni Belanda yang dianggapnya mempunyai derajat lebih tinggi. Kartini pun
ingin seperti mereka. Ia ingin derajat kaumnya meningkat melalui dunia
pendidikan. Nah, seringkali perjuangan Kartini dipelintir, berhenti cukup
sampai di sini. Jadilah mereka menjadikan sosok Kartini sebagai sosok pejuang
emansipasi yang berusaha memperjuangkan hak perempuan.
Mereka lupa (atau pura-pura lupa?) bahwa ada lanjutan dari kisah
hidup perjalanan Kartini. Selain berkorespondensi dengan noni-noni Belanda,
Kartini juga belajar membaca al-Quran dengan salah satu Kyai di jaman itu.
Sayangnya, guru yang menjadi guru ngaji Kartini adalah orang yang berpikiran
kolot dengan menyatakan bahwa kitab ini terlalu suci untuk diterjemahkan.
Kartini sedih, bagaimana mungkin ia bisa memahami isi kitab suci bila ia tak
mengerti makna apa yang dibacanya.
Dari sinilah diskusi-diskusi kecil Kartini muda tentang Islam
dimulai. Hingga salah satu buku fenomenal yang berjudul Habis Gelap
Terbitlah Terang adalah terinspirasi dari salah satu ayat al-Quran (minadzulumaati
ila nuur—dari gelap menuju cahaya). Tidak berhenti sampai di sini, Kartini
pun akhirnya menyadari bahwa apa yang diperjuangkannya, bukan karena ingin
bersaing dengan para pria. Sebaliknya, pendidikan bagi perempuan yang ia
maksudkan adalah sebagai upaya agar perempuan bisa mendidik anak-anaknya dengan
baik. Karena anak-anak yang baik dan berkualitas hanya bisa terlahir dari
ibu-ibu yang terdidik, bukan yang bodoh. Jadi pendidikan yang perjuangkan
adalah dalam rangka mempersiapkan perempuan untuk menjadi sosok ibu yang
berkualitas demi terciptanya generasi yang berkualitas pula. Inilah yang nggak
pernah disinggung oleh mereka yang mengaku sebagai pejuang hak perempuan.
Lirik lagu di atas dan mungkin lagu lain yang sejenis, seringkali
menyesatkan maknanya. Kartini nggak perlu mendaki gunung dan menyeberangi
sungai untuk meraih cita-citanya. Dengan tegas, ia tolak tawaran beasiswa ke
Belanda untuk sekolah. Bahkan dengan penuh harga diri, ia tulis surat untuk
sahabatnya di Belanda itu bahwa ia tak hendak lagi menjadikan mereka sebagai
panutan. Perjuangannya adalah di sini, di tanah Jawa Indonesia untuk mendidik
perempuan-perempuan di sekitarnya.
Kartini menerima pinangan seorang laki-laki bijak yang memberinya
ijin dan kesempatan untuk melanjutkan cita-citanya. Ia pun menikah.
Andai Kartini tahu
Betapa Islam yang menjadi agamanya itu sudah mempunyai konsep
tentang perempuan secara ideal. Betapa semua yang ia perjuangkan sudah
tercantum dengan gamblang dalam kitab suci al-Quran. Betapa yang ia rindukan
tentang perempuan yang berpendidikan untuk mencipta generasi terdidik sudah
pernah terterapkan. Yah…andai Kartini tahu itu.
Generasi selevel Imam Ibnu Taimiyah, Ibnu Sina, Imam Bukhari,
Muslim, Abu Hanifah dan masih banyak jutaan lain ilmuwan yang mengguncang dunia
dengan karya-karyanya, adalah hasil didikan dari sosok ibu yang berkualitas dan
terdidik. Sosok laki-laki yang sebagian tersebut di atas adalah sosok yang
sangat memuliakan perempuan. Jadi lagu era 80-an itu sangat menyesatkan ketika
menyatakan bahwa anggapan lama semua kaum pria bahwa wanita itu hina.
Bila yang dimaksud anggapan lama itu adalah sebelum Islam datang,
itu memang iya. Tapi bila anggapan lama itu adalah masa sebelum tahun 80-an
ketika lagu itu digubah, maka itu juga tak sepenuhnya salah. Kok bisa?
Perempuan jadi terperosok lagi ke lumpur kehinaan, secara resmi yaitu sejak
tahun 1924. Ada apa di tahun 1924, tepatnya 3 Maret?
Runtuhnya Khilafah Islam yang menjadi satu-satunya payung dan
benteng terakhir untuk menjaga kewibawaan dan harga diri kaum muslimin termasuk
perempuan. Sejak saat itulah harga diri perempuan dengan sah diinjak-injak
dengan dalih kesetaraan. Perempuan ditarik ke sektor publik dengan jargon
emansipasi. Pabrik dan jalanan penuh sesak oleh perempuan. Padahal, rumah
adalah tempat ternyaman bagi perempuan untuk beraktivitas dibandingkan dengan
pabrik yang penuh dengan kebisingan itu.
Sejalan dengan cita-cita perjuangan Kartini, pendidikan bagi
perempuan bukanlah untuk bersaing dan menyamai laki-laki. Tapi semata-mata
sebagai fungsi awal yang sesuai dengan fitrah yaitu sebagai pendidik utama bagi
anak-anaknya.
Kartono menuntut hak
Ketika ide emansipasi tak lagi murni, para Kartono eh…maksudnya
laki-laki pun berusaha menuntut haknya pula. Sebagai ayah, ia menuntut haknya
untuk dihormati oleh istri dan anak-anaknya. Bagaimana pun ia adalah wali bagi
anak perempuannya. Ijinnya mutlak diperlukan oleh istri bila akan keluar rumah.
Tapi ketika hak ini semakin memudar, istri dan anak tak lagi mau mengakuinya
sebagai pemimpin rumah tangga, maka wajar bila kaum pria ini juga berhak
menuntut.
Sebagai suami, keberadaannya semakin tak dihargai. Posisinya
sebagai qowwam alias kepala rumah tangga dihujat. Istrinya menuntut
posisi sama, tak mau kalah hanya karena perbedaan jenis kelamin. Maka,
muncullah fenomena paguyuban STI alias Suami Takut Istri.
Anak-anak perempuannya tak lagi mengindahkan kata-katanya. Dengan
dalih demokrasi dan kebebasan perempuan, anak-anaknya menolak menutup aurat.
Bahkan sang ayah bisa diajukan ke komisi perlindungan anak dengan tuduhan
pemaksaan dan pemerkosaan hak berekspresi. Hingga taraf pindah agama alias
murtad, wewenang sang ayah tak lagi berguna. UU perlindungan anak akan sigap
melindungi siapa pun yang berstatus anak untuk menjadi murtad. Nah, lho?
Ciloko!
Belum lagi para pria yang jomblo yang semakin merana. Mereka harus
mulai mencari solusi karena ternyata gerakan feminisme radikal telah sebegitu
dalam menanamkan kebencian terhadap makhluk berjenis laki-laki. Dampaknya
adalah perempuan ini tak mau lagi menikah dengan laki-laki dan memilih sesama
perempuan sebagai gantinya alias mempraktikkan lesbian. Naudzhubillah
min dzalik.
Selain penyakit AIDS, menurunnya tingkat kelahiran menjadi satu
masalah tersendiri bagi dunia. Hingga tak heran bila di negara seperti Italia,
ada insentif menggiurkan untuk mereka yang mau punya anak. Jadilah, bank sperma
laris manis tanpa perlu menikah dengan laki-laki. Nasab sang anak jadi kacau
beliau eh, balau. Laki-laki pun harus merana karena defisitnya perempuan untuk
dinikahi. Seperti pernyataan seorang penulis perempuan yang karyanya melulu
pada tema esek-esek bahwa ‘pernikahan adalah ibarat hukum permintaan dan
penawaran. Dan saya tidak menikah untuk mengurangi penawaran di pasar.’ Duile,
sebegitunya si Mbak ini cinta pada Kapitalisme (atau justru tertipu?). Sampe-sampe
penikahan pun ia ibaratkan dan perlakukan ibarat orang jual beli di pasar.
Bukan masalah emansipasi
Dari gambaran di atas, masalah sesungguhnya bukanlah pada
emansipasi. Bukan pula pada kesetaraan hak. Dan nggak juga pada perjuangan
pemberdayaan perempuan atau pun Kartono yang menuntut karena terdzalimi oleh
para Kartini.
Masalah utama terletak pada pemahaman dan kesadaran perempuan yang
masih terjajah oleh ide Kapitalisme dengan anak turunnya bernama feminisme.
Feminisme inilah yang nantinya punya istilah emansipasi bagi perempuan. Karena
bila ini yang kita perjuangkan maka akan ada kutub lain yang bereaksi.
Merekalah kaum pria itu. Meskipun tidak sedikit kaum pria ini juga menjadi
antek dan aktivis feminisme sendiri. Tujuannya jelas yaitu untuk semakin
melanggengkan dominasi Kapitalisme dan Sekularisme dalam kehidupan di tengah
merebaknya kampanye dakwah penerapan Islam sebagai ideologi negara dalam
bingkai Khilafah Islamiyah.
Inilah sebetulnya yang menjadi pangkal masalah perempuan. Ketika
sudut pandang keperempuanan yang ditonjolkan maka solusi yang dihasilkan
pastilah timpang. Mengapa tak coba kita lihat masalah ini sebagai masalah
kemanusiaan yang utuh? Karena laki-laki pun banyak kok yang terdzalimi, banyak
yang tidak mendapat haknya, tidak memperoleh apa yang seharusnya. Jadi harus
ada bentuk penyelesaian masalah yang tidak memihak salah satu pihak saja.
Islam adalah jawabnya. Tak lagi ada sudut Kartini (perempuan)
menuntut hak. Atau Kartono (laki-laki) yang terdepak karena si Kartini yang berulah.
Islam adalah solusinya ketika kedua jenis ini didudukkan pada masing-masing
fungsi yang saling melengkapi. Bukan saling mengiri hati. Perempuan dengan
fitrahnya bukan berarti lemah. Itu adalah sebuah kelebihan untuk mendidik
generasi yang berkualitas. Laki-laki dengan fitrahnya bukan berarti kuat dan
sewenang-wenang terhadap perempuan. Itu maknanya ia berfungsi untuk melindungi,
menyayangi dan menghormati perempuan.
Tak ada lagi perjuangan emansipasi. Tak ada lagi penuntutan hak
perempuan atas laki-laki dan sebaliknya. Yang ada tinggal perjuangan yang
hakiki ketika Islam butuh untuk diterapkan lagi sebagai ideologi negara. Yang
tertinggal adalah penuntutan hak kaum muslimin yang selama ini dirampas dan
dirampok. Hak untuk mengembalikan Islam dalam semua aspek kehidupan. Kartini
(perempuan) dan Kartono (laki-laki) tak lagi saling iri hati. Tak lagi bersaing
hak yang semuanya itu terjamin utuh dalam Islam ketika sistemnya sudah
diterapkan. Mereka boleh bersaing hanya dalam satu hal, berlomba-lomba dalam kebaikan.
Ayo…ayo, para Kartini dan Kartono, mari berlomba tiket ke
surgaNya. Yuuukkk! [ria: riafariana@yahoo.com]