Buletin Remaja Islam STUDIA

Buletin's posts with tag: edisi 332

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Blog EntrySave the World with ISLAMMar 6, '07 10:59 PM
for everyone

STUDIA Edisi 332/Tahun ke-8 (12 Maret 2007)

 

Baru dua bulan kita memasuki tahun 2007. Namun awan hitam yang tengah menggelayuti negeri ini seolah enggan beranjak (ciee... lagi nyastra nih ceritanya hehehe...). Setiap minggu, ada aja peristiwa yang cukup menyita perhatian media massa dan kita. Mulai dari kecelakaan pesawat Adam Air, tenggelamnya KM Senopati, banjir nasional yang menggenangi ibukota dan beberapa daerah lain di nusantara, tanah longsor yang menimpa Manggarai, NTT (korban tewas sekitar 40 orang), hingga berita seputar tenggelamnya bangkai KM Levina I saat ditarik ke pelabuhan Tanjung Priok. Udah jadi bangkai, tetep aja makan korban. Eh, kemudian kejadian terbaru adala gempa bumi yang mengguncang Sumatera Barat (6/3/07) yang sampai tulisan ini ditulis, korban tewas mencapai 71 orang. Tragis ya?

Musibah yang menyapa kita udah kayak arisan aja. Setiap minggu datang silih berganti. Bisa jadi besok, lusa, atau berikutnya giliran kita yang dapet arisan. Maaf, bukannya ngedoain. Hanya sekadar ngingetin aja, kalo musibah bisa terjadi kapan saja, di mana saja, en ama siapa saja. Lantaran itu bagian dari ekspresi sayang Allah ama umatnya. Makanya jangan mentang-mentang kita atau keluarga kita nggak jadi korban, terus kita cuek bebek ama kondisi sekitar kita. Udah deh, buang tuh sikap egois bin individualis. Saatnya kita evaluasi bareng-bareng, ada apa dengan kita dan negeri kita?

 

Saat Islam kian tenggelam

Sobat, kepikiran nggak sih kalo rentetan musibah yang mendera negeri kita boleh jadi bagian dari ‘teguran keras’ Allah pada kita. Kenapa? Lantaran banyak aturan Allah yang direndahkan oleh individu maupun negara selaku pengatur urusan rakyat. Nggak percaya? Coba kita lihat yuk!

Di bidang politik, aturan manusia dalam bingkai demokrasi masih dipake untuk nambal sulam kebijakan-kebijakan negara yang merugikan rakyat. Padahal Allah Swt. udah ngasih aturan yang komplit untuk ngatur rakyat biar kebutuhan hidup mereka terpenuhi dengan layak. Tapi tetep aja, nggak dilirik oleh penguasa. Aneh bin ajaib ya?

Di bidang ekonomi, privatisasi dan swastanisasi kekayaan alam yang jelas bertentangan dengan aturan Islam dilegalisasi oleh negara. Hutang luar negeri yang selalu jadi monster penguras keuangan negara, masih dilestarikan. Akibatnya, roda ekonomi negeri ini cuma berputar lancar di kalangan konglomerat. Sementara rakyat jelata kudu berdesak-desakan bersimbah keringat memperebutkan jatah beras murah dari bulog saat operasi pasar. Cuape deh!

Dibidang sosial dan budaya, beratnya beban hidup yang ditanggung rakyat melahirkan sikap napsi-napsi alias individualis. Demi mempertahankan hidup, segala cara dihalalkan. Pekerja seks komersil alias pelacur banyak jadi pilihan hidup, jadi bandar narkoba juga menggiurkan. Belum lagi pelaku kriminal yang meningkatkan grafik permasalahan sosial di tengah masyarakat.

Terus di bidang hankam, kerjasama dengan militer asing yang menjadi jalan masuk penjajahan masih dipertahankan. Dengan kedok perang melawan terorisme, negara adidaya seolah punya hak istimewa untuk ikut nimbrung kebijakan hankam dalam negeri. Padahal, Islam dengan tegas mengharuskan menutup setiap celah yang memancing para penjajah itu masuk dan menguasi umat.

Sobat, inilah kondisi negeri kita yang kian jauh dari Islam. Ya, aturan Islam kian tenggelam dalam keangkuhan sistem demokrasi yang harusnya kita eliminasi. Masa kita belum ‘ngeh’ dengan ‘teguran’ Allah melalui rentetan musibah yang melanda negeri kita? Pada nyadar ngapa? (sori rada nyelekit nih. Hehehe...)

 

Dunia remaja nggak jauh beda

Islam yang terasingkan juga kita temui di dunia remaja. Gencarnya serangan budaya hedonis yang dibalut dalam gaya hidup trendi, memaksa remaja muslim untuk menanggalkan identitasnya. Islam cuma tertulis di kartu pelajar atau mahasiswa. Sementara dalam berperilaku, nilai-nilai Islam dianggap kuno bin nggak populer. Walhasil, remaja kian bebas dalam berbuat dan berekspresi. Berabe tuh!

Hasil survei yang dilakukan oleh Annisa Fondation baru-baru ini cukup mengejutkan karena 42,3 % pelajar perempuan telah melakukan hubungan seks pra-nikah. Siaran pers lembaga independen yang bergerak di bidang kemanusian dan kesejahteraan gender ini, menerangkan sebanyak 42,3 persen pelajar di Cianjur sudah hilang keperawanannya saat duduk di bangku sekolah. Parahnya, mereka yang terlibat kegiatan seks bebas itu bukan berarti karena tidak mengerti atau tidak paham nilai agama atau budi pekerti. Sebab hampir 90 persen dari mereka mengaku praktik hubungan seksual di luar nikah merupakan perbuatan dosa yang seharusnya dihindari. (Hidayatullah.com, 12/02/07) waduh!

Ketika remaja jauh dari Islam, mereka kehilangan pegangan hidup yang membantunya memecahkan setiap persoalan yang dihadapi. Mereka lebih suka lari dari masalah dan terjebak dalam cengkeraman narkoba. Seperti kata Pak I Made Mangku Pastika, Ketua Pelaksana Harian (Kalakhar) BNN, jumlah pengguna narkoba di Indonesia mencapai 3-4 juta orang. Dua tahun lalu dari hasil penelitian BNN diketahui kalau penyalahgunaan narkoba sudah dilakukan oleh teman-teman yang berusia 10 sampai 19 tahun. (Republika, 25/06/06).

Jauhnya Islam dari kehidupan remaja, keliatan juga dari cara remaja berbelanja. Yup, bombardir iklan dan promosi yang membidik remaja menjebak temen-teman kita masuk dalam budaya konsumtif. Ikut ambil bagian sebagai penikmat segala kecanggihan teknologi yang dibalut dalam gaya hidup trendi.

Buktinya, separuh uang mahasiswa di Indonesia ternyata digunakan untuk kegiatan nonpendidikan. Hasil penelitian Resist Book menyebutkan, sebanyak 50% uang mahasiswa dihabiskan untuk biaya komunikasi, seperti membeli ponsel dan voucher. Demikian disampaikan Koordinator Resist Book,  Eko Prasetyo. (Hidayatullah.com, 25/12/06)

Sobat, seks bebas, narkoba, atau budaya konsumtif hanya sebagian kecil permasalahan remaja yang muncul ketika mereka jauh dari Islam. Masalah lain akan terus lahir selama gaya hidup hedonis sekuler banyak menyerang remaja, terutama via media massa. Karena itu, hanya Islam yang bisa membantu remaja ngasih manfaat pada setiap detik kehidupan yang dijalaninya.

 

Save our live with Islam!

Yup, saatnya kita selamatkan hidup kita dengan Islam. Kenapa Islam? Lantaran aturan selain Islam terbukti bikin masalah tambah runyam. Cuma bisa trial and error untuk ngatasin masalah. Bukannya terbebas, malah justru nambah masalah baru. Berabe kan?

Misalnya nih, saat pemerintah berusaha mengurangi mewabahnya virus HIV/AIDS yang menyebar via kebebasan seks. Bukannya fokus memangkas gaya hidup hedonis yang disebarkan via media massa, kemudian mengatur hubungan pria-wanita, atau membasmi pornografi dan pornoaksi seperti yang ditawarkan Islam, eh malah sibuk ngegelar kampanye pemakaian kondom nasional. Padahal jelas-jelas kehidupan seks bebas yang jadi biang keladi, malah dilestarikan. Gimana mo beres coba? Itu sih ibarat genteng rumah yang bocor, tapi yang dilakukan malah nampung air pake ember. Gentengnya sih biarin aja bocor. Lha, kalo musim hujan kayak gini? Bocor terus!

Karena itulah kita perlu syariah Islam untuk mengatur hidup kita. Aturan mulia yang bisa mendeteksi masalah yang akan terjadi, mengatasi masalah yang sudah terjadi, dan mencegah agar masalah tidak terjadi lagi. Komplit kan? Ini bukan omong kosong lho. Apalagi sekedar janji. Tapi sudah terbukti selama berabad-abad di masa kejayaan Islam.

Sobat, Islam akan kehilangan khasiatnya yang mujarab untuk menyelamatkan hidup kita kalo cuma ditempatkan di pojok-pojok mesjid dan majelis taklim doang. Kudu ada upaya lebih dari sekadar mengenal Islam sebagai agama ritual atau pengisi kekosongan jiwa. Karena Islam adalah aturan hidup, udah seharusnya setiap dari kita mengenal Islam lebih dalam. Mengkaji, memahami, dan mengamalkan Islam dalam keseharian. Baik dalam aspek politik, ekonomi, sosial budaya, hankam, atau dunia remaja. Allah Swt. berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (QS al-Anfâl [8]: 24)

Sekarang, pilihan ada di tangan kita. Tetep hidup sengsara di bawah aturan hidup buatan manusia atau save our live with Islam? Orang cerdas, pasti ambil pilihan kedua. Setuju kan ya?

 

Menjadi pembela Islam

Pepatah bilang, silent is golden alias diam itu emas ketika kita berada dalam situasi yang gampang memancing emosi. Tapi pepatah ini nggak cocok dipake di saat kita hidup di tengah-tengah kemaksiatan yang merajalela seperti sekarang. Lantaran kita juga yang bakal ngerasain akibat perilaku tukang maksiat itu. Allah Swt. berfirman:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaanNya.” (QS al-Anfâl [8]: 25)

Rasulullah saw. juga mengingatkan dengan sabdanya: “Sesungguhnya manusia, bila melihat kemungkaran sedangkan tidak berupaya mencegahnya, maka tunggulah  saatnya Allah akan menurunkan azabnya secara menyeluruh.” (HR Abu Dawud)

      Untuk itu, udah seharusnya kita ikut ambil bagian dalam dakwah Islam. Aktivitas mulia yang mengajak orang agar bersama-sama menjadikan Islam sebagai aturan hidup dan menendang jauh-jauh gaya hidup sekuler beserta anak cucunya. Hanya dengan dakwah Islam kita bisa mencegah meluasnya kemaksiatan. Rasulullah saw. bersabda: “Kalian harus mengajak mereka kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran. Bila tidak demikian, tentu Allah akan menjadikan orang-orang jahat di antaramu menguasai kalian. (Dan) bila ada orang baik di antaramu berdoa (untuk keselamatan) maka doa mereka tidak akan dikabulkan.” (HR al-Bazzar dan Thabrani)

Agar dakwah kita maksimal en nggak pake serabutan, kita harus berjamaah. Menjadi bagian dari sebuah komunitas yang concern pada dakwah Islam ideologi demi tegaknya hukum Allah di muka bumi ini. Sehingga aktivitas dakwah lebih terorganisasi dengan rapi, solid, dan pastinya punya kekuatan lebih besar untuk membumikan syariah Islam di tengah masyarakat.

Selain itu, kita pun bisa mengemas dakwah Islam dengan penampilan yang menarik. Berbagai uslub alias cara bisa dilakukan: menulis, menyampaikan ceramah, pidato, melalui seni, menyebarkan di internet, lewat multimedia lainnya dsb. Yang penting, jangan sampe dakwah Islam terjebak dalam format sebatas entertaintment alias hiburan, komersialisasi, atau mode. Hati-hati ya.

Nah, untuk menjadi pembela Islam, ada baiknya kita punya percaya diri, kaya dengan wawasan ilmu pengetahuan, memiliki semangat tinggi, tak kenal lelah, nggak pernah bosan, berani menghadapi risiko, mengamalkan Islam dalam kehidupan sehari-hari, dan memiliki kesadaran politik yang cukup. Meski nggak mudah melahirkan ‘sifa-sifat ajaib’ ini, bukan berarti mustahil. Kuncinya, asal kita komitmen untuk mencintai dan mendalami Islam. Sehingga , kita bisa dengan lantang mengobarkan semangat dakwah kita: Save the World with Islam! [Hafidz: hafidz341@telkom.net]


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.