STUDIA Edisi 328/Tahun ke-8 (12
Februari 2007)
“Only You The
One that I Love The Most in The Whole World”. Tulisan yang berisi ungkapan rasa cinta model gini gampang kita
temuin di bulan Februari. Yup, bulan Februari jadi istimewa dan penuh cinta
lantaran kehadiran Valentine’s Day (VD) yang jatuh pada tanggal 14-nya. Nggak
heran kalo jutaan remaja di seluruh dunia tak sabar menantinya. Lantaran VD
menjadi hari dimana mereka bebas nunjukkin kasih sayangnya pada pacar alias
kekasih gelapnya. Nah lho, sephia dong? Ya iyalah, soalnya kan kebanyakan
mereka belon pada merit alias nikah. Hubungan resmi laki-perempuan kan melalui
ikatan pernikahan, bukan pacaran. Betul?
Bagi para pelaku bisnis, VD berarti momen penting untuk mengeruk
keuntungan sebanyak mungkin dari penjualan produk dan pernak-pernik Valentine.
Lantaran menjelang VD, daya beli masyarakat terutama remaja mendadak dangdut,
eh meningkat drastis. Remaja berlomba-lomba berburu kado spesial yang unik dan
menarik agar perayaan VD ngasih kesan yang mendalam bagi pasangannya. Ada buket
bunga mawar nan cantik, coklat dalam kotak berbentuk hati, perhiasan, CD lagu
romantis, permen, kartu Valentine, hingga sepasang sendal jepit!
Nggak cuma pernak-pernik, perayaan VD juga dilengkapi dengan acara
bernuansa pesta pora bin hura-hura yang bikin remaja terlena. Mulai dari acara
yang romantis abis hingga yang berbau erotis yang pastinya nggak pake gratis.
Ada konser musik dari para musisi idola yang melantunkan lagu-lagu melankolis,
pesta pribadi yang mendatangkan penari striptease, atau acara arisan teman
kencan yang berujung pada perilaku seks bebas. Ih najis!
Padahal nggak semuanya tahu asal-usul VD. Kebanyakan mungkin cuma
ikut-ikutan tren aza. Jangan-jangan, VD cuma mitos yang digede-gedein dan dianggap
istimewa. Bisa jadi kan?
VD, hari kasih sayang?
The World Book Encyclopedia (1998) melukiskan banyaknya versi mengenai Valentine’s Day.
Sebagian memahaminya sebagai Perayaan Lupercalia yang merupakan rangkaian
upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama,
dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata.
Pada hari ini, para pemuda mengundi nama-nama gadis di dalam
kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya
keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek
hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari
gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit
binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan
membuat mereka menjadi lebih subur.
Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara
ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama
gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar
Konstantine dan Paus Gregory I (The Encyclopedia Britannica, sub judul:
Christianity).
Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus
Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja
dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St Valentine yang kebetulan
mati pada 14 Februari (The World Book Encyclopedia 1998).
Sementara The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St.
Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang
di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian
nggak jelas siapa “St. Valentine” yang dimaksud. Malah kisahnya juga nggak
ketahuan ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda. (idem).
Sobat, dari sejarahnya aja udah keliatan kalo Valentine’s Day
nggak jelas asal-usulnya alias banyak versi yang nggak pasti. Cuma akal-akalan
doang yang dipake untuk menyebarkan agama kristiani termasuk budaya dan tradisi
Barat. Nggak heran kalo kini makna VD kian tulalit. Lebih ke arah kebebasan
yang kebablasan untuk nunjukkin kasih sayang kepada pasangan yang dicintainya,
khususnya kalangan remaja. Bahaya tuh!
Sex on Valentine’s Day
Menjelang hari Valentine, banyak remaja sibuk nyari kado spesial
sebagai tanda cinta bagi sang kekasihnya. Di balik kegembiraan anak muda
merayakan VD ternyata tersembunyi bahaya besar yang mengintai para aktivisnya.
Mulai dari penularan HIV/AIDS hingga kehamilan tak dikehendaki. Waduh!
Ini dikemukakan oleh dr Andik Wijaya SMSH, seorang Seksolog dari
Surabaya. “Sekarang Valentine’s Day nuansanya cenderung romantis dan erotis,”
tutur dr Andik. Ini bukan omong kosong lho. Salah satu faktor yang mensukseskan
erotisme saat perayaan Valentine adalah makanan khas Valentine`s Day berupa
coklat. Emang kenapa dengan coklat? Menurut dr Andik, coklat mengandung zat
yang disebut Phenyletilamine atau zat yang bisa membangkitkan gairah seksual.
Nah lho. Ternyata eh ternyata...
Bukti lain, lanjutnya, pergeseran makna Valentine‘s Day, di
Inggris 14 Februari malah dicanangkan sebagai The National Impotence Day
(hari impoten nasional) dengan tujuan meningkatkan kewaspadaan masyarakat
terhadap ancaman impotensi 2 juta pria Inggris. Sedang di AS lebih parah lagi.
14 Februari ditetapkan sebagai The National Condom Week (pekan kondom
nasional). “Maksudnya kampanye nasional penggunaan kondom, karena tiap perayaan
Valentine‘s Day diikuti peningkatan kasus HIV/AIDS. Padahal tingkat kegagalan
kondom mencapai 33,3 persen,” imbuh dr. Andik.
Bagaimana di dalam negeri? dr Andik menuturkan, tiga tahun lalu ia
diundang sebuah hotel berbintang di Surabaya menghadiri pesta Valentine‘s.
Bonusnya undangan boleh check in sehari bersama pasangannya dengan
jaminan tak dicek identitasnya (suami istri atau bukan). (www.beritakesehatan.com,
Rabu, 14/02/2001)
Fenomena sex on valentine dikuatkan juga saat seorang penulis,
menjelang Valentine’s Day tahun 2004, pernah melakukan survei terhadap remaja
pinggiran Kota Bandung seperti Cimahi, Batujajar, Padalarang, dan Lembang.
Dibantu Lembaga Telaah Agama dan Masyarakat (eL-TAM) penulis menyebarkan 500
angket ke siswa siswi tingkat SMA di daerah tersebut. Hasilnya? Mengejutkan!
Dari 413 responden yang menjawab angket secara “sah” 26,4% di
antaranya mengaku lebih suka merayakan Valentine bersama gebetan atau kekasih
dengan jalan-jalan, makan-makan lalu berciuman (melakukan seks). (Lihat, Samsul
Ma’arif, “Valentine Day Bukan Budaya Kita, Tapi ...”Pikiran Rakyat, 12
Februari 2005).
Bahkan lembaga sosial Family Health International (FHI)
Jabar yang berkedudukan di Kota Bandung, mempublikasikan hasil riset dan
surveinya tentang perilaku seks remaja Kota Bandung. Dari penelitian itu
disimpulkan bahwa 54% remaja Kota Bandung pernah berhubungan seks! (Kompas, 25
Januari 2006). Bahkan, persentasenya paling tinggi dibandingkan kota-kota besar
lain, seperti Jakarta (51%), Medan (52%) dan Surabaya (47%).
Prihatin juga ya, ternyata gaya hidup permissif alias serba boleh
dalam berbuat kian banyak menjerat temen-temen kita. Terutama dalam urusan
ekspresi cinta mereka pada pujaan hatinya. Katanya cinta suci, ternyata cuma
cinta birahi. Ini gaswat sobat. Kalo tetep dibiarin, gaya hidup sekuler ini
bisa menyeret remaja pada kehidupan yang menuhankan hawa nafsu. Kalo itu
terjadi, kehidupan kita nggak jauh bedanya dengan marga satwa. Nggak lah yauw!
Amit-amit banget deh.
Hati-hati tertipu...
Sobat, karakter remaja yang doyan having fun gampang
dimanfaatkan para pelaku bisnis untuk menjerat remaja muslim dalam gaya hidup
hedonis demi meraih keuntungan yang bombastis. Remaja muslim digiring agar
aktif merayakan hari kasih sayang. Padahal jelas-jelas VD adalah budaya Barat
yang harus kita hindari bukan malah kita ikuti.
Seperti kebiasaan mengirim kartu Valentine disertai ucapan “Be My
Valentine?”. Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe
It?” (www.korrnet.org) mengatakan bahwa kata “Valentine”
berasal dari Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang
Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi.
Maka disadari atau tidak, kalo kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”,
hal itu berarti memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa” dan menghidupkan budaya
pemujaan kepada berhala. Syirik tuh!
Kamu juga kudu tahu kalo Cupid (berarti: the desire), si bayi
bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut
tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina
dengan ibunya sendiri!
So, nggak usah
minder untuk ngakuin VD yang pastinya bukan budaya Islam. Kalo kita tetep
ngotot ikut ngerayain, bisa-bisa kita bakal termasuk golongan orang-orang kafir
yang menjadikan VD sebagai salah satu hari besar agamanya. Seperti diingatkan
Rasul saw dalam sabdanya: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia
termasuk salah seorang dari mereka.” (HR Abu Dawud, Ahmad, dan
ath-Thabranî)
Sempurnakan cinta kita
Sobat, VD sebagai simbol ekspresi cinta telah menyeret para
aktivisnya keliru memaknai hakikat cinta. Gaya hidup permissif seperti terlihat
dalam perayaan VD selalu memandang baik apa yang diinginkan oleh hawa nafsunya
dan menjadikannya sebagai jalan hidup. Kondisi ini sama dengan menyekutukan
Allah Swt. dengan menuhankan hawa nafsu. Seperti disebutkan Allah swt dalam
firman-Nya:
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ
وَكِيلاً.أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ
هُمْ إِلاَّ كَالأَْنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلاً
Terangkanlah
kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka
apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?,
Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau
memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan
mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). (QS al-Furqaan [25]: 43-44)
Kalo kita nggak mau disamain dengan ayam, kambing, atau sapi
seperti ayat di atas, maka berperilakulah layaknya manusia. Allah Swt. udah
ngasih kita akal agar bisa bedain perilaku yang diridhoin Allah ama yang nggak.
Jangan mau diperbudak hawa nafsu dan ngikutin perasaan aja. Kita ini lebih
mulia dibanding hewan sobat.
So, untuk
nunjukkin kasih sayang, nggak mesti saat VD. Kapan aja boleh kok. Yang
terpenting dan pokok adalah ekspresikan cinta-kasih-sayang sesuai ajaran Islam
yang mulia dan masuk akal. Bukan ajaran lain yang justru merendahkan derajat
kita. Maka, kalo pengen selamat dunia-akhirat: cintai Islam dan pake aturan
Islam dalam keseharian kita. Biar mantep cintanya, kuatkan dengan ikut
pembinaan dan pengkajian Islam. Biar kokoh dan utuh dalam membentuk kerangka
berpikir, maka pembinaan itu harus dilakukan intensif dan rutin. Jangan
setengah-setengah. Kini, saatnya kita bareng-bareng mengkaji Islam untuk
sempurnakan rasa cinta kita! [hafidz341: hafidz341@telkom.net]