STUDIA Edisi 327/Tahun ke-8 (5
Februari 2007)
Pernah jatuh
cinta? Bagaimana rasanya? Pasti senang dong ya. Enak aja bawaannya. Hidup
berasa nikmat banget. Rasanya nggak mantep kalo nggak cerita kepada teman-teman
kalo kita sedang jatuh cinta. Biar teman-teman juga merasakan apa yang sedang
kita rasakan. Bila perlu, kita cerita kepada siapa saja tentang orang yang
sedang kita cintai meski orang yang kita cintai itu tak tahu bahwa dia sedang
kita cintai. Kita begitu percaya diri dan mulai mencari cara untuk
mendekatinya.
Sobat muda muslim, kenapa kita merasa senang dan bahagia kalo
jatuh cinta? Menurut Robert Sternberg, cinta adalah sebuah kisah, kisah yang ditulis oleh setiap orang. Kisah
tersebut merefleksikan kepribadian, minat dan perasaan seseorang terhadap suatu
hubungan. Ada kisah tentang perang memperebutkan kekuasaan, misteri, permainan
dan sebagainya. Kisah pada setiap orang berasal dari “skenario” yang sudah
dikenalnya, apakah dari orangtua, pengalaman, cerita dan sebagainya. Kisah ini
biasanya mempengaruhi orang bagaimana ia bersikap dan bertindak dalam sebuah
hubungan. (http://e-psikologi.com, pada pembahasan tentang “Cinta”)
Ketika jatuh cinta, kita tiba-tiba merasakan dorongan ingin
bertemu dengan orang yang kita cintai. Dorongan itu bahkan sangat kuat menekan
kita manakala ada orang yang membicarakan si dia, atau ada orang yang
menyebutkan namanya, lebih lucunya ketika membaca tulisan yang kemudian
menuliskan sebuah nama yang sama dengan nama orang yang kita cintai. Kita jadi
rindu berat ingin bertemu, atau sekadar ingin berkomunikasi dengannya. BTW,
ngerasain kayak gini nggak?
Tapi anehnya, seringkali kita juga merasa harus jaim alias jaga
imej. Pura-pura jual mahal ketika berkomunikasi atau kebetulan bertemu dengan
orang yang kita cintai. Meski rasa ingin mencurahkan perasaan itu begitu kuat
menekan. Lucu juga memang. Itu artinya, bahwa jatuh cinta memang unik. Tapi
dengan catatan nih, biasanya jika yang jatuh cintanya itu masih malu-malu. Eh,
umumnya memang malu-malu kan? Jarang yang agre, gitu deh. Meski ketika
jaman sudah berubah kayak sekarang, banyak pula yang agre (baca: agresif) untuk
ngungkapin cintanya. Ya, seperti pada reality show, “Katakan Cinta” itu.
Sobat muda muslim, ketika jatuh cinta, kita jadi merasa lembut.
Baik lisan kita atau saat kita menulis. Kita mulai belajar mengatur pilihan
kata saat bicara. Terutama ketika bicara dengan si dia yang telah membuat kita
jatuh hati. Itu kita lakukan biasanya untuk mendapat perhatiannya. Untuk
memberikan imej bahwa kita baik di hadapannya. Ujungnya, bukan tak mungkin kalo
akhirnya kita mendapat simpati darinya. Awalnya memang simpati, siapa tahu
lama-kelamaan menumbuhkan empati dan akhirnya jatuh hati. Bukan tak mungkin
kan?
Karakter cinta
Jatuh cinta membuat kita merasa harus menumbuhkan perhatian,
merasa harus bertanggung jawab, merasa harus hormat di hadapan orang yang kita
cintai, dan merasa harus mengetahui segala seluk-beluk tentang dirinya. Erich
From, murid kesayangan Sigmund Freud pernah menyampaikan bahwa dalam cinta itu
harus ada empat unsur yang perlu dimiliki, yakni:
Pertama, Care (perhatian). Cinta harus melahirkan perhatian
pada objek yang dicintai. Kalau kita mencintai diri sendiri, maka kita akan
memperhatikan kesehatan dan kebersihan diri. Kalau kita mencintai orang lain,
maka kita akan memperhatikan kesulitan yang dihadapi orang tersebut dan akan
berusaha meringankan bebannya. Termasuk jika kita jatuh cinta dengan mencintai
lawan jenis kita, maka segala bentuk perhatian akan kita tunjukkin sama si dia.
Kita jadi sering menulis namanya, menyebutkan namanya, mungkin diam-diam
mengoleksi fotonya. Apalagi dengan berkembangnya teknologi informasi kita bisa
mengintip diary online (blog) dirinya yang mungkin saja memajang foto
dirinya. Diam-diam kita menjadi secret admirer-nya. Minimal itu. Karena
tujuan mulianya adalah mendapat perhatiannya sebagai seorang kekasih.
Kedua, Responsibility (tanggung jawab). Cinta harus
melahirkan sikap bertanggungjawab terhadap objek yang dicintai. Orangtua yang
mencintai anaknya, akan bertanggung jawab akan kesejahteraan material,
spiritual dan masa depan anaknya. Suami yang mencintai istrinya, akan
bertanggung jawab akan kesejahteraan dan kebahagiaan rumah tangganya. Seorang
jejaka atau gadis yang saling jatuh cinta, ia akan berusaha untuk memposisikan
bahwa mereka bertanggung jawab terhadap hubungannya. Menjaganya dan merawatnya
jangan sampai kebablasan. Mereka yang ngerti ajaran Islam, maka jatuh cinta itu
bukan untuk melakukan perbuatan yang dibenci oleh Sang Pemilik Cinta, yakni
Allah Swt. Ia akan menjaga pandangannya, perasaan, hatinya, dan juga
aktivitasnya agar tak kebablasan. Tapi, cinta bukan lagi tanggung jawab jika
sepasang remaja yang dilanda cinta itu mengekspresikannya dengan cara yang
membuat mereka dibenci Allah Swt, seperti seks bebas misalnya.
Ketiga, Respect (hormat). Cinta harus melahirkan sikap
menerima apa adanya objek yang dicintai, kelebihannya kita syukuri,
kekurangannya kita terima dan perbaiki. Tidak bersikap sewenang-wenang dan
selalu berikhtiar agar tidak mengecewakannya. Inilah yang disebut respect.
Itu sebabnya, seringkali kita mendengar cerita ada orang yang saling jatuh
cinta itu meski berbeda etnis, berbeda bahasa, berbeda budaya, bahkan ada yang
sampe cinta buta, yakni berbeda agama. Itu karena merasa bahwa cinta akan
melahirkan sikap menerima apa adanya. Wah, jika tak ada filter akidah memang
akhirnya akan hancur. But, ini kita bicara secara umumnya lho. Bahwa
cinta akan melahirkan respect kepada obyek yang kita cintai. Betul
nggak?
Keempat, Knowledge (pengetahuan). Cinta harus melahirkan
minat untuk memahami seluk beluk objek yang dicintai. Kalau kita mencintai
seorang wanita atau pria untuk dijadikan isteri atau suami, maka kita harus
berusaha memahami kepribadian, latar belakang keluarga, minat, dan ketaatan
beragamanya. Nggak asal jatuh cinta juga. Eh, kalo kita bicara secara umum pun,
sebenarnya ketika jatuh cinta kita bakalan nyari tahu dari obyek yang kita
cintai. Nah, tentu standar yang diinginkan dalam pencarian itu tergantung
kepribadian orang yang bersangkutan. Ada yang merasa agama tak perlu menjadi
pertimbangan, tapi ada pula yang merasa bahwa agama harus menjadi pertimbangan
saat jatuh cinta. Kepada siapa kita harus mencintai. Begitu kan? But,
intinya secara umum, cinta memang akan melahirkan rasa ingin tahu untuk
menyelidiki si dia yang kita cintai, yang telah membuat kita jatuh hati dan
jatuh cinta kepadanya. Setuju?
Tetap iffah selama
jatuh cinta
Menurut Hamka, “Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus
asa, bukan menimbulkan tangis sedu sedan. Tetapi cinta menghidupkan
penghargaan, menguatkan hati dalam perjuangan, menempuh onak dan duri
penghidupan.”
Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, ada persoalan besar yang harus
diperhatikan oleh orang yang cerdas, yaitu bahwa puncak kesempurnaan,
kenikmatan, kesenangan, dan kebahagiaan yang ada dalam hati dan ruh tergantung
pada dua hal. Pertama, karena kesempurnaan dan keindahan sesuatu yang dicintai,
dalam hal ini hanya ada Allah, karenanya hanya Allah yang paling utama
dicintai. Kedua, puncak kesempurnaan cinta itu sendiri, artinya derajat cinta
itu yang mencapai puncak kesempurnaan dan kesungguhan. (dalam kitab al-Jawabul
Kafi Liman Saala’ Anid Dawaaisy-syafi, edisi terjemah. hlm. 255)
Lebih lanjut Ibnu Qayyim menjelaskan, “Semua orang yang berakal
sehat menyadari bahwa kenikmatan dan kelezatan yang diperoleh dari sesuatu yang
dicintai, bergantung kepada kekuatan dorongan cintanya. Jika dorongan cintanya
sangat kuat, kenikmatan yang diperoleh ketika mendapatkan yang dicintainya
tersebut lebih sempurna.”
Mungkin kayak kita lagi haus nih, udah gitu di siang hari dengan
terik matahari yang menyengat, maka kita akan semakin haus dan semakin ingin
mencari air untuk memenuhi rasa haus kita. Nah, begitu dapetin air, maka
nikmatnya bener-bener terasa. Tanya kenapa? (Yee.. jadi malah ngikutin iklan?)
Sobat muda muslim, kita sering mendengar bahwa jatuh cinta dan
akhirnya mencintai orang yang kita cintai adalah sebagai anugerah terindah.
Mungkin ada benarnya juga. Meski menurut saya itu terlalu didramatisir. Sebab,
urusan cinta ini sangat kompleks, sobat. Tidak seperti hitungan matematika yang
serba pasti. Tapi yang jelas dan yang paling utama, cinta bagi kita sebagai
Muslim, harus sesuai sudut pandang Islam. Bukan yang lain.
Guys, setiap
perbuatan yang kita lakuin tuh pasti sesuai dengan cara pandang kita terhadap
perbuatan tersebut. Lebih luas lagi cara pandang kita tentang hidup. Kalo kita
memandang hidup tuh sekadar tumbuh, berkembang, lalu sampai titik tertentu mati
(dan nggak ada kehidupan akhirat), maka perbuatan kita pun bakalan ngikutin apa
yang kita pahami tentang kehidupan tersebut. Kita bisa bebas berbuat apa saja
sesuai keinginan kita, karena kita merasa bahwa hidup cuma di dunia. Kehidupan
setelah dunia kita anggap nggak ada. Artinya, kita jadi nggak kenal ada istilah
pahala dan dosa.
Sebaliknya, bagi kita yang meyakini bahwa kita berasal dari Allah
Swt. yang menciptakan kita semua, maka hidup di dunia juga adalah untuk ibadah
kepadaNya, dan setelah kematian kita akan hidup di alam akhirat sesuai dengan
amalan yang kita lakukan di dunia. Kalo banyak amal baik yang kita lakukan,
insya Allah balasannya pahala dan di tempatkan di surga. Sebaliknya, kalo lebih
banyak atau selama hidup kita maksiat dan nggak sempat bertobat, jelas dosa dan
kita ditempatkan di akhirat di tempat yang buruk, yakni neraka. Naudzubillahi
min dzalik.
Nah, dengan sudut pandang terhadap kehidupan yang benar, maka
ketika berbuat apapun kita akan menyesuaikan dengan cara pandang kita tentang
kehidupan yang benar itu. Termasuk ketika kita jatuh cinta. Jangan
mentang-mentang jatuh cinta, lalu mengekspresikan cinta seenak hawa nafsu kita.
Nggak dong, Brur. Nggak asal seneng ngeliat enak dipandang mata lalu
main tubruk. Nggak banget. Tapi intinya sih, kita bakalan berpikir gimana seharusnya
menurut aturan Islam. Bukan berpikir sebagaimana adanya kehidupan yang saat ini
dilakoni. Tolong dicatet ye.
Ini penting dan perlu. Sebab, kalo yang berpikirnya “sebagaimana
adanya kehidupan”, ya akan berpikir bebas nilai. Misalnya ketika manusia itu
dianggap berhak melakukan apa saja dalam kehidupan yagn ada sekarang, yakni
Kapitalisme-Sekularisme, maka tentu akan berbuat apa saja sesukanya (berzina,
minum khamr, konsumsi narkoba, judi, pacaran dsb). Karena merasa mereka berhak
ngelakuin hal tersebut. Nggak terikat aturan yang benar. Bahaya besar, Bro!
Sementara yang berpikirnya “sebagaimana seharusnya”, maka ia akan
nyocokkin dengan aturan yang benar. Karena menganggap kehidupan yang ada ini
harus sesuai aturan yang benar, gitu lho. Dan Islamlah yang benar. Bukan yang
lain.
Itu sebabnya, ketika jatuh cinta pun kita harus tetap iffah
alias menjaga kehormatan dan kesucian diri. Ibnu Abbas berkata bahwa orang yang
jatuh cinta tidak akan masuk surga kecuali ia bersabar dan bersikap iffah
karena Allah dan menyimpan cintanya karena Allah. Dan, ini tidak akan terjadi
kecuali bila ia mampu menahan perasaannya kepada ma’syuq-nya (kepada
orang yang dicintainya), mengutamakan cinta kepada Allah, takut kepadaNya, dan
ridha denganNya. Orang seperti ini yang paling berhak mendapat derajat yang
disebutkan oleh Allah Swt. dalam al-Quran:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ
وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى.فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada
kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka
sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” (QS an-Naazi’aat [79]: 40-41)
Kita boleh dan wajar-wajar aja
untuk jatuh cinta. Tapi, tetap harus menjaga kehormatan dan kesucian diri.
Yakni dengan cara tetap menjadikan Allah dan RasulNya sebagai pemandu hidup
kita. Kita melakukan perbuatan atas dasar petunjuk dari Allah lewat al-Quran
dan petunjuk dari Rasulullah saw. berupa as-Sunnah. Inilah pedoman hidup kita.
Oke? [solihin: sholihin@gmx.net]