STUDIA Edisi 322/Tahun ke-8 (1
Januari 2007)
Saya pernah
merasakan kehilangan seorang teman yang begitu dekat dalam hidup saya. Ia
menjadi inspirasi, sering memberi motivasi dan dengan kepolosan khas anak SMP,
ia menjadi teman akrab saya. Sayangnya, kebersamaan kami akhirnya dipisahkan
ketika sama-sama lulus SMP. Bahkan kami dipisahkan oleh jarak yang cukup jauh.
Saya melanjutkan studi di kota lain. Hari-hari pertama jauh darinya, saya
merasa kehilangan candanya, tawanya, dan gaya marahnya jika saya guyonin. Saya
memang cukup iseng kepadanya, bahkan tak jarang kami marahan. Meski akhirnya
baikan lagi. Ya begitulah anak-anak. Kami pasangan sahabat yang sangat akrab
waktu itu.
Untuk mengobati kerinduan di antara kami, kami rajin saling berkirim
surat. Hampir setiap bulan surat darinya saya terima. Lengkap dengan kabar
terbaru tentang dirinya dan juga tentang kehidupannya. Begitupun yang saya
kabarkan. Sampai suatu hari, bukan surat darinya yang datang ke saya. Tapi
surat dari adik saya yang mengabarkan bahwa sahabat saya itu meninggal dunia
dalam sebuah kecelakaan saat olahraga renang yang diadakan sekolahnya. Ia
tenggelam dan akhirnya meninggal dunia. Saya sangat terpukul. Benar-benar
kehilangan. Innalillaahi wa inna ilaihi roojiuun.
Ya, itu kehilangan untuk kedua kalinya. Pertama, merasa kehilangan
saat kami harus berpisah karena masing-masing melanjutkan studi ke sekolah yang
berbeda. Dan kedua, ternyata kami harus berpisah dari dunia ini. Tentu, tak
mungkin bisa berkomunikasi lagi dengannya untuk menanyakan kabarnya.
Meski saya sudah merasa paham bahwa kehidupan ini tidaklah abadi,
tapi baru merasakan pedihnya ketika kehilangan orang yang begitu dekat di hati.
Ya, benar. Kita memang tidak abadi. Kita suatu saat pasti menghembuskan nafas yang
terakhir dalam hidup kita. Menyusul teman dan saudara kita yang lain yang sudah
lebih dulu ‘hijrah’ dari dunia ini dan meninggalkan gemerlapnya.
Sobat muda muslim, ini sekadar kisah pengantar tulisan sederhana
ini. Bahwa apa yang kita miliki bisa begitu saja meninggalkan kita. Harta yang
kita miliki bisa hilang. Begitu pun sahabat yang telah menemani hidup kita,
bisa saja pergi tanpa pesan meninggalkan kita dan dunia ini. Dan, suatu saat
justru kita sendiri yang akan meninggalkan teman-teman kita, saudara kita, dan
indahnya dunia ini. Bahkan, dunia ini pun akan berakhir dengan datangnya
kiamat. Benar, dunia dan seluruh isinya ini adalah fana, Bro. Nggak abadi.
Memang benar bahwa kehidupan kita fana, dunia ini juga fana, tapi
yang harus menjadi perhatian kita dan kekhawatiran kita adalah: dengan cara apa
kita meninggalkan dunia ini? Pada saat seperti apa kita wafat? Dan, bekal amal
apa yang kita bawa untuk dibawa menghadap Allah Swt.? Amal baikkah, atau justru
amal buruk? Pilihan ada di tangan kita.
Pilihan? Betul. Sebab keyakinan kita tentang akhir dunia dan
kehidupan akhirat adalah pilihan yang kita dapatkan setelah memahami hakikat
penciptaan kita, alam semesta, dan kehidupan ini. Begitu pula dengan amalan
yang kita lakukan, adalah atas dasar pilihan yang kita dapatkan setelah
memahami hakikat dan tujuan kita selama di dunia ini. Masing-masing kita
membawa amal kita. Bukan amalan orang lain.
Sobat, kita berasal dari Allah Swt. dan akan kembali kepadaNya
pada waktu yang telah ditentukan. Nah, selama di dunia ini kita juga diminta
untuk beribadah kepada Allah Swt. Melaksanakan semua perintahNya dan nggak
melakukan segala hal yang memang dilarang Allah Swt. Ini memang sederhana
secara teori, tapi jarang yang bisa sukses dalam prakteknya. Semoga kita sih masuk
ke dalam golongan orang-orang yang beriman kepada Allah Swt. dan beramal sholeh
untuk bekal kehidupan setelah dunia ini. Amin.
Cinta dunia? Sewajarnya saja
Mencintai dunia boleh saja. Sebab, dunia adalah tempat tinggal
kita saat ini yang dipenuhi dengan segala gemerlap dan keindahan yang membuat
kita terpesona. Tapi jangan khawatir, kita boleh kok menikmatinya. Allah Swt.
berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا ءَاتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآْخِرَةَ
وَلاَ تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan carilah
pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat,
dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi…” (QS al-Qashash [28]: 77)
Sobat, kalo kamu pengen nikmatin keindahan dunia, silakan aja.
Nggak dilarang kok. Ingin kaya? Monggo aja. Ingin mendapatkan status
sosial yang tinggi menurut ukuran dan pandangan manusia, juga boleh-boleh saja.
Belajar jenjang demi jenjang untuk mendapatkan ilmu dan gelar akademis, Islam
pun tak pernah membatasi. Silakan.
Cuma nih, yang perlu dapet perhatian adalah jangan sampe kita
terlalu silau dengan gemerlap indahnya dunia, sehingga malah bikin kita lupa
diri dan melupakan Allah Swt. Kalo kita menikmati dunia bukan cuma yang halal,
tapi yang haram pun diembat juga, itu namanya kita udah lupa diri, Bro. Bener.
Ada syair yang bagus dari sebuah nasyid yang mengingatkan agar
kita tidak mudah tertipu dengan gemerlap dunia dan segala perhiasannya yang
membuat kita lalai dan bahkan meninggalkan kewajiban. Begini sebagian lirik
dari nasyid berjudul Fatamorgana yang dipopulerkan oleh Hijaz yang
berkolaborasi dengan In Team: “...Deras arus dunia, menghanyutkan yang
terlena/indah fatamorgana melalaikan menipu daya/dikejar dicintai bak bayangan
tak bertepi/ tiada sudahnya dunia yang dicari/Begitu indah dunia siapa pun kan
tergoda/harta pangkat dan wanita melemahkan jiwa/Tanpa iman dalam hati kita kan
dikuasai/syaitan nafsu dalam diri musuh yang tersembunyi/Pulanglah kepada Tuhan
cahaya kehidupan/Keimanan, ketakwaan kepadaNya senjata utama...”
Alangkah lebih mengenanya jika tak sekadar membaca syairnya
seperti ini. Coba deh dengerin lagunya yang easy listening ini.
Biasanya, nasyid seperti ini memang bisa menggugah nafsiyah kita yang mungkin
saja udah tertimbun begitu banyak kesibukan dan urusan dunia lainnya.
Benar, dunia begitu indah gemerlapnya. Tapi tak semua yang
ditawarkan itu baik, bahkan mungkin adalah jebakan untuk tergoda mencicipi kemaksiatan
yang dikemas dengan manis dan menarik. Minuman keras, perzinahan, judi dan
sejenisnya, menurut hawa nafsu manusia memang menyenangkan. Tapi, karena semua
perbuatan itu dilarang oleh Allah Swt., maka hanya akan menuai siksa dan dosa
jika dilakukan. Jika tak bertobat, tentunya nerakalah tempat kembalinya. Naudzubillahi
min dzalik. Yuk, kita sadar diri ya.
Belajar, berdakwah, berjihad, dan amal shalih lainnya seringkali
memberatkan kita. Belajar seringkali dihinggapi rasa malas, berdakwah pun kerap
mendapatkan tekanan yang akhirnya kita futur, termasuk berjihad dan
amalan shalih lainnya menjadi beban berat kita. Padahal, semua itu jika kita
tunaikan dan dibarengi dengan keikhlasan, insya Allah akan mendatangkan pahala,
dan juga menjadi jalan menuju surga yang telah dijanjikan Allah Swt. bagi
hamba-hambaNya yang beriman dan beramal shalih.
Dunia memang gemerlap, dan boleh saja kita nikmati. Tapi, jangan
sampai gemerlap dunia itu membuat kita lalai dan meninggalkan kewajiban kita.
Sewajarnya saja menikmati dunia, karena selebihnya dunia itu adalah ladang
ujian yang harus menjadi perhatian kita agar tak terjerumus dalam tipu dayanya.
Itu sebabnya, kita memang boleh saja memiliki banyak harta, tapi
jangan sampe kekayaan yang kita miliki menjeremuskan kita ke dalam kesesatan
atau membuat kita lalai dari mengingat Allah Swt. dan RasulNya. Yakni membuat
kita malas berbuat baik atau enggan menginfakkan harta demi kemajuan Islam dan
umatnya ini.
Yup, Islam nggak melarang kita menikmati segala macam perhiasan
dan pernak-pernik yang ditawarkan dunia. Tapi, sewajarnya saja kita meraihnya.
Jangan sampai kita tertipu dan gelap mata mencintainya untuk terus mengejarnya
bak bayangan tak bertepi atau terus dicari seolah tiada bosannya dan tiada
akhirnya. Semoga tidak demikian yang kita lakukan.
Jangan takut mati
Kamu yang ngefans sama grup band Ungu, pasti hapal deh lagu
“Andai Kutahu” yang dinyanyikan Pasha, vokalisnya. Seperti ini nih sebagian
liriknya: “Andai Kutahu, kapan tiba ajalku. Kuakan memohon: Tuhan tolong
panjangkan umurku. Andai kutahu, kapan tiba masaku, kuakan memohon: Tuhan
jangan Kau ambil nyawaku. Aku takut, akan semua dosa-dosaku. Aku takut dosa
yang terus membayangiku…”
Hmm.. sayangnya ‘permintaan’ Pasha dan Ungu-nya nggak bisa
dikabulkan. Sebab, Malaikat Ijrail tuh kalo mo datang nyabut nyawa kita nggak
pake ngasih kabar dulu, bahkan sekadar “missed call” sekalipun. Kalo ajal kita
udah tiba, ya langsung aja diambil, gitu lho. Nggak bisa ditangguhkan. Allah
Swt. berfirman:
فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً
وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ
“Maka jika
telah datang waktunya (ajal), mereka tidak dapat mengundurkannya barang
sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS al-A’raaf [7]: 34)
Bro, meski demikian, kita nggak usah merasa takut mati. Sebab,
semua makhluk hidup pasti akan mati. Cuma nih, kalo pun boleh takut adalah kalo
kita selama di dunia ini nggak nyiapin bekal untuk kehidupan di akhirat kelak.
Kalo udah siap bekal mah insya Allah nggak bakalan takut. Sebab, risiko
orang hidup yang paling tinggi adalah kematian. Berani untuk hidup, berarti
berani menghadapi risiko kematian.
Masalahnya, gimana dengan bekal kita? Kalo dosa yang kita koleksi,
sangat wajar jika kita takut menghadapi kematian. Itu sebabnya, seminimal
mungkin kita nggak berbuat dosa. Syukur-syukur kalo nggak pernah berbuat dosa.
Tapi, manusia nggak ada yang sempurna kayak gitu deh. Pasti ada salahnya. Itu
sebabnya, Rasulullah ngasih tahu bahwa seluruh bani Adam tuh nggak bisa lepas
dari salah (dosa). Nah, sebaik-baik orang yang berdosa adalah orang yang segera
bertaubat. Dan, jangan “tobat sambal”, lho. Tahu istilah “tobat sambal”? Yup,
sekarang bilang tobat, besoknya malah ngulangin lagi kemaksiatan. Aduh, jangan
sampe deh ya. Soalnya, rugi benar kita kalo pas lagi ngelakuin perbuatan dosa,
eh nyawa kita malah diambil. Naudzubillahi min dzalik.
Sobat, betul bahwa kita
jangan takut menghadapi kematian. Tapi bukan berarti kita lantas menikmati
dunia sebebasnya yang kita inginkan seolah nggak akan ada kematian. Justru
sebaliknya, “jangan takut menghadapi kematian” harus diartikan bahwa hal itu
pasti terjadi. Biasa aja gitu lho. Bahkan dunia ini juga akan berakhir. Itu
sebabnya yang diperlukan adalah persiapan. So, tugas kita hanyalah
berusaha sebaik dan sebanyak mungkin untuk mengumpulkan pahala.
Boys and galz,
orang yang baik-baik pasti akan mati, begitu pula dengan orang yang bermaksiat
pasti akan mati juga. Termasuk, orang yang giat berdakwah dan berjuang untuk Islam
juga akan mati, dan tentu orang yang diam sambil bengong juga bakalan mati.
Bedanya adalah nilai dan amal yang dibawanya untuk menghadap Allah Swt. Betul
ndak?
Ayo berjuang, seperti pesan Shoutul Harokah dalam bait
syair di bawah ini: “Mengarungi samudera kehidupan, kita ibarat para
pengembara. Hidup ini adalah perjuangan, tiada masa tuk berpangku tangan.
Setiap tetes peluh dan darah tak akan sirna ditelan masa. Segores luka di jalan
Allah, kan menjadi saksi pengorbanan…”. Kita bisa kok, sobat! Semangat! [solihin:
sholihin@gmx.net]