STUDIA Edisi 319/Tahun ke-7 (11
Desember 2006)
Stasiun
televisi Lativi memang akhirnya nggak menayangkan SmackDown sejak
29 Nopember 2006 lalu. Itu pun setelah gencarnya protes dari banyak kalangan.
Selain Komisi Nasional Perlindungan Anak dan Komisi Penyiaran Indonesia yang
melakukan protes, masyarakat juga gencar mengkampanyekan agar SmackDown
dihapus dari daftar mata tayang stasiun Lativi.
Namun, langkah ini kayaknya masih belum efektif benar. Sebab, SmackDown
udah terlanjur mewabah dalam bentuk video game dan VCD bajakannya karena
program acara ini sudah ada sejak tahun 2000 lalu yang pernah ditayangkan oleh RCTI
dan TPI.
Boys and gals, SmackDown
emang ngajarin kekerasan. Meski tuh gulat bo’ong-bo’ongan karena memang sekadar
hiburan (bunyi gemeretak tulang patah pun adalah bagian dari efek audio), tapi
ketika udah ditonton anak-anak, mereka nggak bisa bedain lagi soal sandiwara
atau beneran ketika para petarungnya saling gebuk dan saling piting. Lha, kalo
petarung SmackDown mah udah terlatih dan sangat boleh jadi adalah
para stuntman, tapi tentu nggak banget dengan anak-anak TK dan SD yang
meniru adegan John Cena dkk.
Adalah Vince McMahon, orang yang punya ide untuk bikin SmackDown.
Di pikirannya yang terbayang hanyalah fulus dan popularitas saat
memproklamasikan acara gulat pura-pura pada 29 April 1999 silam itu. Terbukti,
dolar dan popularitas akhirnya benar-benar diraih oleh Vince McMahon yang pada
tahun 1976 pernah mempertarungkan petinju Muhammad Ali versus pegulat Jepang,
Antonio Inoki, itu.
SmackDown
sebenarnya boleh dibilang terinspirasi dari tayangan World Championship
Wrestling (WCW) Thunder yang muncul di TV kabel TBS pada 1988. Nah,
baru deh pada 29 April 1999, World Wrestling Federation (WWF) meniru Thunder
dengan membuat SmackDown. Untuk melengkapi kesuksesan SmackDown,
pada Februari 2000, Toy Headquarters membuat sembilan seri game-nya.
Sekadar tahu aja bahwa pada pertengahan 2003, pemilik SmackDown
mengakuisi WCW.
SmackDown
bukan cuma terkenal di Indonesia, tapi hampir di seluruh dunia. Di Amerika,
Eropa, dan Asia, SmackDown begitu populer dan nggak jarang penggemarnya
(terutama anak-anak) ngikutin gulat gaya bebas tapi pura-pura yang diperagakan
bintang-bintang SmackDown seperti John Cena, Rey Mysterio, Stone Cold,
dan juga Kent.
Tayangan SmackDown boleh dibilang efektif merangsang
‘insting binatang’ dari manusia. Pakar pendidikan Arief Rachman menuturkan
adegan kekerasan yang ditayangkan televisi sangat efektif merangsang insting
manusia yang paling rendah yang menyamai binatang. “Insting ini yang paling
berbahaya,” katanya. (Koran Tempo, 29 Nopember 2006)
Sekadar tahu aja, anak-anak yang jadi korban gara-gara meniru
adegan gulat gaya bebas SmackDown lumayan banyak. Beberapa di antaranya
adalah: Reza Ikhsan Fadillah, 9 tahun, siswa SD Cingcing 1 Ketapang, Soreang,
Bandung (meninggal 16 Nopember 2006). Angga Rakasiwi (11), siswa SD Babakan
Surabaya 7 di Kiaracondong, Bandung (dijahit lima jahitan di kening). Fayza
Raviansyah (4 tahun 6 bulan), siswa TK al-Wahab di Margayahu, Bandung (luka,
muntah darah). Ahmad Firdaus (9), siswa kelas III SD 7 Babakan Suraaya Selatan,
Bandung (pingsan). Nabila Amal (6 tahun 6 bulan), siswa kelas I SD Margahayu
Raya 1, Bandung (patah tulang paha). Mar Yunani, siswa kelas III SD Wates IV Kulonprogo,
Yogyakarta (gegar otak). Yudhit Bedha Ganang (10), siswa kelas V SDN 05 Duren
Tiga, Jakarta Selatan (luka pada kepala dan kemaluan).
Okelah, mungkin tayangan kekerasan di televisi relatif berkurang
dengan digusurnya SmackDown. Tapi, tentu bukan jaminan juga bagi kita,
khususnya para orangtua untuk leha-leha. Sebab, video game SmackDown
masih beredar dan dimainkan dengan penuh suka-cita oleh anak-anak. Pun VCD-nya
sangat murah dan masih ada di pasaran meski mungkin sekarang sembunyi-sembunyi
pas ngejualnya. Jadi, kekerasan masih mengintai kita. SmackDown belum
berakhir. Waspadalah!
SmackDown nggak sendirian
Kekerasan yang ditayangkan televisi sejatinya bukan cuma SmackDown.
Sebab, film bertema kekerasan pun kerap hadir di televisi. Berita-berita kriminal
yang dikemas seperti ‘drama’ pun—karena sering menampilkan adegan pengejaran
atau penggerebekan polisi terhadap penjahat (termasuk di dalamnya reka ulang
tentang adegan pembunuhan)—bukan tak mungkin pula akan menginspirasi individu
masyarakat untuk berbuat yang sama atau minimal menganggap bahwa kekerasan
adalah hal yang biasa dan wajar.
Pola kekerasan yang ‘diajarkan’ televisi bisa juga lewat film
kartun, lalu film dewasa yang kental dengan violence, dan seabrek
tayangan lainnya yang menyisipkan kekerasan. Lihat aja film kartun macam Road
Runner dan Tom and Jerry, di situ banyak banget adegan ketembak,
digebuk, meledak sampai ketiban bongkahan batu sudah lumrah ada.
So, tayangan
televisi memang sangat berpengaruh pada perkembagan penontonnya, apalagi usia
penonton yang masih tergolong anak-anak dan remaja. Yang harus diakui bahwa
mereka lebih mudah tergoda untuk melakukan hal-hal yang ada di televisi.
Motifnya bisa beragam, mungkin ada yang cuma iseng alias mencoba-coba, ada juga
yang lebih ke arah penyaluran untuk memenuhi pencarian jati dirinya. Malah tak
mustahil bila ada yang betul-betul terobsesi menjadi seperti pelakunya dalam
tayangan tersebut. Bila dibiarkan, bahaya besar, Bro!
Yup, SmackDown memang nggak sendirian mengajarkan kekerasan
bagi penontonnya, tapi mungkin ikut menambah daftar panjang sebagai ‘teladan’
yang jelek bagi pemirsanya dalam soal mengajari kekerasan. Saatnya kita nyadar
untuk mikirin dan terus bertindak agar kekerasan nggak terus diekspos di
televisi sebagai media komunikasi massa yang paling efektik menyampaikan pesan.
Ayo, hentikan diam kita!
Bahaya selain SmackDown
Korban SmackDown mungkin saja masih terus berjatuhan.
Sebab, yang nggak tercatat karena nggak melaporkan kejadian gara-gara meniru
adegan gaya gulat pura-pura itu sangat boleh jadi jauh lebih banyak.
Tapi, bahaya selain kekerasan fisik yang diperagakan gulat hiburan
rekaan Vince McMahon ini, ternyata masih ada hiburan lain yang pengaruhnya
boleh dibilang nggak bisa dianggap enteng. Kalo John Cena, Rey Mysterio dan
kawan-kawannya berakting menyuguhkan kekerasan fisik, maka selebritis di dunia
sinetron dan film berlomba memberikan hidangan gaya hidup yang permisif dan
hedonis abis. Khususnya sinetron yang mengajarkan tentang percintaan dan
pergaulan bebas antara cowok-cewek, termasuk seks bebas di dalamnya. Nggak
ketinggalan para musisi yang getol menggarap lagu bertema cinta dalam berbagai
jenis musik ikut menyumbang pembentukan karakter individu dan masyarakat sesuai
dengan tema yang dibuat.
Film remaja seputar cinta dan pergaulan bebas secara tidak
langsung memberikan visualisasi untuk menginspirasi pemirsanya dalam melakukan
hal yang sama seperti di film. Meski mungkin tujuan dibuatnya film sebagai
media penyadaran masyarakat dengan menampilkan realitas yang terjadi di
masyarakat. Tapi, kenyataannya yang terjadi adalah bias. Sebab, sangat tipis
bedanya antara membeberkan fakta dengan ngajarin. Tul nggak seh?
Sobat muda muslim, harus kita akui bahwa pengaruh budaya seperti
ini sudah lama kita rasakan. Bukti bahwa masyarakat kita secara umum udah rusak
bisa dilihat dari gaya hidupnya. Meski mengaku-ngaku sebagai Muslim, tapi gaya
hidupnya sama sekali nggak mencerminkan sebagai Muslim. Nampak kemuslimannya
hanya ketika berada di masjid atau di acara peringatan hari besar Islam. Eh,
begitu berada di luar masjid gaya hidupnya juga berubah. Persis bunglon tuh. Di
masjid tampak alim dan berserah diri memohon kepada Allah Swt. dengan berdoa
hingga berlinang air mata. Tapi begitu keluar dari masjid, malah melakukan
beragam kegiatan yang dilarang agama. Waduh tulalit banget ya?
Ya, sebab dalam kondisi kehidupan yang didominasi sekularisme ini,
nggak ada jaminan juga kalo orang yang baik tuh bisa selamanya baik. Sebab,
gimana pun lingkungan masyarakat dan negara bakalan mempengaruhi individu.
Kasus beredarnya rekaman video adegan mesum seorang oknum anggota DPR RI dari sebuah
partai dengan
penyanyi dangdut baru-baru ini adalah satu dari sekian ribu kejadian akibat
pengaruh gaya hidup sekularisme. Sekian ribu kejadian? Ya. Coba deh baca di
koran yang getol memberitakan kasus perselingkuhan, ampir tiap hari ada.
Bedanya hanya dalam soal menyedot perhatian publik. Kalo masyarakat biasa yang
ngelakuin perselingkuhan dianggap cemen lah. Tapi kalo pejabat atau
orang terkenal lainnya—karena mereka jadi sorotan publik—maka jadi luar biasa
dan bikin heboh. Padahal, yang dilakukannya sama aja kok. Sama-sama melanggar
aturan agama.
Sobat, sekularisme emang udah menggiring manusia untuk bersikap
mendua. Bukan hanya bagi kaum Muslimin, tapi bagi pemeluk agama lain dan
manusia secara umum. Tuhan hanya ditempatkan di ruang ibadah, tapi hilang dalam
kehidupan sehari-hari di luar tempat ibadah. Menyedihkan banget.
Tumbuhnya kesadaran kita untuk mengubah kondisi ini bukan cuma
ketika ada tayangan di media massa yang pengaruhnya bisa dirasakan secara fisik
dengan banyaknya jatuh korban akibat menirukan gaya SmackDown, misalnya.
Nggak sesederhana itu. Sebab, tayangan perusak kepribadain juga telah menyulap
masyarakat kita menjadi hedonis (menjadikan materi dan kenikmatan jasadi
sebagai tujuan) dan permisif (serba boleh dan bebas nilai).
So, jangan cuma
rame-rame protes saat ada sebuah tayangan di televisi yang pengaruhnya
dirasakan secara fisik, tapi juga kita kudu ambil bagian dan bergerak
untuk—minimal memprotes—beragam tayangan yang merusak cara pandang dalam
berpikir dan bertingkah laku. Sebab, sangat boleh jadi bahaya yang
ditimbulkannya jauh lebih besar dan dahsyat. Buktinya, mungkin saja tayangan SmackDown,
hanya berpengaruh pada anak-anak aja, golongan lain nggak mempan. Tapi tayangan
yang menyebarkan gaya hidup sekularisme, bisa mempengaruhi banyak kalangan
dalam berpikir dan berbuat. Contoh udah banyak, Bro. Benar-benar tragedi.
Hmm... media massa dalam sistem Kapitalisme-Sekularisme ini emang
parah banget. Sebab, media massa, khususnya televisi selalu menjadikan rating
sebagai ukuran kalo acara itu diminati. Kalo ratingnya tinggi, maka bisa
dijadikan modal untuk menjerat pemasang iklan di program tersebut. Itu pula
yang terjadi dengan tayangan SmackDown. Karena tingginya rating
menunjukkan besarnya minat dan jumlah pemirsa terhadap acara tersebut. Padahal,
acara tersebut mengajarkan kekerasan. Ini artinya, media massa lebih
mengedepankan tayangan yang diinginkan sebagian pemirsa. Bukan tayangan yang
seharusnya dibutuhkan oleh pemirsa pada umumnya.
Sobat, kita pantas untuk bersedih dan kesal hidup di bawah naungan
sekularisme. Sebab, televisi lebih banyak dijubeli dengan tayangan yang merusak
cara pandang kita dalam berpikir dan bertingkah laku. Sementara tayangan
religius (khususnya Islam) sekadar tempelan aja. Itu pun disimpan pada jam
dimana orang banyak nggak nonton. Yakni di pagi hari saat orang masih terlelap
atau sedang pergi ke masjid menunaikan sholat subuh, dan di malam hari ketika
orang sudah terlelap tidur. Mengenaskan sekali.
Jadi, tunggu apa lagi? Ayo sadar dan bergerak untuk belajar Islam.
Pahami Islam sebagai akidah dan syariat alias ideologi. Mulai sekarang yuk kita
ngaji sambil terus mengkampanyekan penerapan Islam sebagai ideologi negara agar
beragam problem ini bisa dituntaskan. [solihin: sholihin@gmx.net]