STUDIA Edisi 306/Tahun ke-7 (14
Agustus 2006)
Cewek cerdas,
kayaknya saat ini lagi laris manis bak kacang goreng. Ungkapan-ungkapan yang
terlontar dan sering terdengar ‘udah keren, cakep, cerdas lagi’. Dan berbagai
ungkapan sejenis. Bahkan dalam ajang yang notabene umbar aurat semisal
pemilihan model dan Miss Universe yang sudah berlalu, kategori brain
juga dimasukkan sebagai faktor kemenangan. Biar keren gitu loh kelihatannya.
Meski pada faktanya juga kecerdasan mereka pada nggak bisa
dipertanggungwajabkan. Inget kasus Nadine Chandrawinata kan?
Eh, tapi kenapa juga yang sering cerdas dalam nilai akademis,
apalagi lomba-lomba sains dan teknologi, seringnya didominasi para cowok? Apa
bener sih cewek itu memang makhluk lemot dan hanya punya fisik sebagai andalan?
Hmm... untuk menjawab hal beginian emang nggak mudah sih. Yuk kita bahas satu
per satu, yuk.
Cewek cerdas, ada nggak sih?
Baru-baru ini banyak banget diselenggarakan ajang olimpiade sains
tingkat nasional dan internasional. Tapi kalo kita amati, sepertinya nama-nama
yang muncul mayoritas dari makhluk berjenis cowok. Andhika Putra, Ali Sucipto,
Purnawirman, Michael Andrian dan Ario Prabowo. Kemana nih para cewek-ceweknya?
Apa iya mitos tentang cewek tuh makhluk kelas dua jadi terbukti hanya gara-gara
cowok selalu lebih unggul dari cewek?
Sebetulnya juga nggak gitu-gitu banget kok. Ada juga cewek cerdas
seperti Aulia Tirtamarina dan Thina Ardhiana Mewakili ITS ke Pontianak. Mau
ngapain? Masa’ mau transmigrasi. Ya nggaklah. Mereka inilah yang akan mengikuti
Presentasi Pemikiran Kritis Mahasiswa Tingkat Nasional di Pontianak. Lalu masih
banyak nama-nama cewek lainnya yang berada pada deretan perwakilan lomba karya
ilmiah semisal Dewi Chasanah dan Linda Puspitasari. Di antara mereka ada juga
para muslimah dan berjilbab lagi. Pasti bangga dong.
Kaum Hawa juga punya Ibu Ratna Megawangi (itu lho, istrinya
Menkominfo Sofyan Djalil) yang mengantongi gelar doktor dan post doktoral. Lalu
ada juga ibu Dr. Ing. Gina Puspita, DEA yang lulusan Ecole National
Superieure de I’Euronatique et de; ‘Espace (ENSAE) Toulouse France. Wanita
kelahiran Bogor 8 September 1963 ini pernah menjadi Kepala Departemen Structure
Optimization Divisi Riset & Development IPTN (Industri Pesawat Terbang
Nusantara). Oya, Ibu Gina pernah juga ‘menggegerkan’ dunia kampus dengan
kecerdasannya dan memakai cadar ketika mengajar mahasiswa di ITB.
Bahkan saking nggak umumnya cewek cerdas, di Universitas Stanford,
California ada seorang profesor yang ganti jenis kelamin dari perempuan menjadi
laki-laki. Nama aslinya Barbara Barres diganti menjadi Ben Barres. Sedari lahir
hingga gede, ia memang seorang perempuan tulen. Tapi pengalaman hidup dan
diskriminasi membuatnya merasa tak nyaman menjadi perempuan. Apalagi dengan
kecerdasannya yang di atas rata-rata.
Ketika masih kuliah, kelasnya dipenuhi makhluk yang berjenis
kelamin laki-laki daripada perempuan. Ketika ada soal matematika sulit, ia
adalah satu-satunya perempuan yang bisa mengerjakan soal itu. Apa tanggapan
sang dosen? Si dosen malah mengejek dengan mengatakan soal sulit itu pastilah
dikerjakan pacar si mahasiswi.
Lalu di kota Wellington, ada hakim di sana yang sehari-harinya
memakai pakaian cewek padahal ia adalah laki-laki tulen. Ia bukan banci, wadam
ataupun waria. Ia adalah seorang suami dan bapak dari beberapa anaknya. Bahkan
sikapnya ini didukung oleh istri dan anggota keluarga yang lain. Usut punya
usut ternyata bapak hakim ini memprotes sistem peradilan Wellington yang tak
memberi kesempatan pada kaum perempuan untuk berprestasi utamanya di bidang
peradilan.
See, sebetulnya
bukannya nggak ada perempuan cerdas itu. Tapi ada sesuatu dan lain hal yang
menghalangi perempuan untuk menjadi cerdas. Nah, apakah sesuatu itu?
Kenapa cewek cerdas langka?
Wah... pertanyaan apa pula ini? Pernah nggak sih pertanyaan
seperti ini terbersit di benakmu? Kenapa jarang banget kita mendapati cewek
cerdas di tengah masyarakat? Umumnya yang muncul selalu laki-laki. Sistem hidup
yang mendiskriminasikan perempuan, jawabnya. Lihatlah sistem hidup yang ada
saat ini dengan falsafah sekuler plus kapitalis yang katanya membela kesetaraan
gender. Lihat pula negara yang mengaku kampium demokrasi alias si congkak
Amerika.
Apa yang dilakukan oleh sistem dan negara ini? Ternyata mereka
sangat meminggirkan perempuan dengan segenap potensinya. Kamu tahu mengapa ada
isu kesetaraan gender? Karena memang pada dasarnya gender perempuan tak pernah
benar-benar diakui dan dihormati dalam sistem Kapitalisme-sekularisme itu.
Coba bandingkan dengan Islam yang sudah sejak awal konsepnya
laki-laki dan perempuan diperlakukan sama di depan hukum syariat. Bila
laki-laki ada kewajiban sholat, puasa, zakat hingga menunaikan ibadah haji,
maka perempuan mempunyai kewajiban yang sama pula. Bila laki-laki wajib untuk
menuntut ilmu, berdakwah dan berjihad, maka perempuan mempunyai hak yang sama
pula.
Karena syariat Islam berasal dari yang menciptakan manusia, Ia
pula yang tahu ukurannya. Sehingga Ia pula yang berhak membuat hukumNya. Meski
laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan kewajiban sama, tapi nggak semuanya
dipukul rata agar sama semua.
Contoh sederhana adalah jatah untuk kamu dan temanmu. Kamu yang
biasanya makan cukup sepiring diberi jatah dua piring hanya gara-gara kepingin
sama porsinya dengan temanmu yang olahragawan, misalnya. Atau temanmu yang
biasanya jatah makan dua piring cuma diberi satu piring karena biar sama dengan
dirimu. Apakah ini bisa dibilang adil?
Sama juga dengan kedudukan laki-laki dan perempuan dalam Islam.
Adil adalah ketika porsi masing-masing diberikan secara tepat guna. Perempuan
cerdas itu tidak diukur dari seberapa tinggi nilai IP-nya. Tapi perempuan
cerdas adalah perempuan yang mampu menyelesaikan seluruh permasalahan dalam
hidupnya dengan satu tolok ukur tertentu yang bertanggung jawab.
Apakah itu? Hukum syara’. Karena seperti kata Om Daniel Goleman
bahwa kecerdasan otak saja tidak akan membawa seseorang kepada kesuksesan.
Harus ada cerdas secara emosi. Bahkan akhir-akhir ini muncul istilah kecerdasan
secara spiritual. Kenapa harus dibagi-bagi seperti itu? Kenapa tidak kita pilih
saja kecerdasan yang memberi paket all in dalam satu kemasan?
Tapi, cerdas seperti apa sih yang emang top banget? Soalnya kalo
cuma cerdas sebatas nilai kimia, matematika dan fisika hampir sempurna, itu mah
udah biasa. Yang nggak biasa adalah yang cerdas tapi sesuai syariat. Emang ada?
Makanya terus baca aja tulisan ini yee. Jangan bengong aja. Hehehe...
Cerdas sesuai syariat
Cerdas sesuai syariat adalah seseorang yang dengan kecerdasannya
akan semakin menambah keimanannya pada Allah Swt. Bukan sebaliknya. Banyak juga
kok pemuda-pemudi muslim yang karena kecerdasannya sampe dikirim ke luar
negeri. Di sana mereka menuntut ilmu dan diharapkan sekembalinya ke Indonesia
menjadi sarjana yang bisa mengaplikasikan ilmunya. Lebih luas lagi, mereka
diharapkan memberi kontribusi bagi kemjuan umat ini. Tapi apa yang terjadi?
Dengan bertambahnya ilmu dan gelar yang dimilikinya, bukannya
semakin menambah baik iman dan amalnya,eh mereka malah menjadi antek-antek
Barat untuk menghancurkan Islam dari dalam. Ketika berangkat ke negeri Barat,
mereka adalah seseorang yang meyakini bahwa Allah adalah al-Khaliq dan
al-Mudabbir, pencipta dan pengatur.
Keimanan dan keyakinannya tentang betapa lemahnya manusia tanpa
aturan dariNya begitu membubung. Sehingga dia rindu dunia ini diatur dengan
aturan dari Yang Maha Pengatur. Tapi, apa yang terjadi ketika ia ada di negeri
Barat dan bersentuhan dengan ide-ide Barat? Makmur dan sejahteranya
negeri-negeri Barat telah menyilaukannya. Karena silau, ia malu dengan kondisi
negerinya dan mayoritas umat Islam yang dianggapnya masih terbelakang dan
bodoh.
Sehingga ide-ide rusak semacam demokrasi, kesetaraan gender dan
feminisme, hingga ke tataran gaya hidup dengan pola permisif dan hedonis
dianutnya. Ia menganggap bahwa ide-ide itulah yang telah membuat dunia Barat
maju. Sehingga bila kaum Muslimin ingin maju, maka ide-ide itulah yang
seharusnya diambil. Waduh. Parah tenan iki.
Bila cerdas seperti ini yang dimaksudkan, sungguh ini adalah
cerdas yang sangat tidak mencerdaskan. Bahkan cerdas yang kampungan. Cerdas
yangmerusak alias destruktif. Karena ternyata cerdasnya cuma dalam tataran
angka di atas kertas yang bernama IP, tapi secara nyata ia merusak pemahaman
dan akidah umat dengan ide-ide kufurnya.
Padahal cerdas yang sesuangguhnya adalah cerdas yang sesuai
syariat. Cerdas ketika ilmu yang didapatnya semakin manambah kecintaan ia pada
Allah dan berjuang menegakkan kalimatNya. Cerdas ketika beasiswa yang didapat
digunakannya dengan sebaik-sebaiknya kemakmuran umat.
Beasiswa? Jangan salah. Istilah ini pun sebetulnya masih rancu.
Bagaimana mungkin disebut beasiswa ketika uang yang diterimanya untuk membiayai
kuliah adalah uang yang didapat para sponsor semisal bank dunia dari merampok
harta kaum Muslimin. Jadi, sudah sewajarnyalah kalo harta itu memang kembali
lagi pada yang empunya.
Back to cerdas.
Kecerdasan dalam Islam melingkupi semuanya. Ketika kita melihat alam semesta
dan berfikir tentang penciptaannya, pastilah akan muncul sebuah stimulus dalam
serat otak kita untuk mencari jawabannya secara ilmiah. Tidak berhenti sampai
di situ saja. Pengamatan terhadap alam semesta dan alam sekitar membuat kita
semakin yakin akan keberadaan dan kemahabesaran Allah, sang pencipta sekaligus
pengaturnya. Iman—bagi sebagian kalangan dimasukkan kepada kecerdasan
spiritual—kita akan semakin cerdas.
Iman bukan hanya sekadar diyakini tapi juga ada amal nyata dalam
kehidupan sehai-hari. Karena sudah dibekali kecerdasan spiritual yang oke, maka
dalam bermuamalah dan berhubungan dengan orang-orang juga pasti terlahir sikap
dan perilaku yang cerdas. Inilah yang disebut kecerdasan emosional. Kecerdasan
ini berlaku untuk semua, baik laki-laki dan perempuan yang beriman.
Hanya saja karena mereka ini memang berjenis kelamin yang berbeda,
maka porsi yang diberikan Allah juga berbeda. Kecerdasan yang dimiliki kaum
perempuan lebih maksimal digunakan dalam ranah rumah tangga. Karena itulah ia
dibekali kemampuan alami untuk melahirkan, menyusui dan sebagai pendidik utama
anak-anak usia dini. Bukan karena bias gender dan diskriminasi semua ini
diatur, tapi demi saling melengkapi dan untuk kesejahteraan bersama.
Dengan karakter laki-laki yang umumnya seperti kita tahu gagah dan
perkasa, bayangkan bila ia yang diberi kemampuan untuk melahirkan dan menyusui
bayi mungil yang masih lemah dan lembut itu. Maha Besar Allah Yang Maha Tahu
bahwa tugas ini memang spesialisasinya perempuan yang difitrahkan dengan
sifat-sifat kelembutan dan keibuan.
Seperti inilah seharusnya cewek itu, cerdas yang multifungsi. Ya
cerdas otaknya, cerdas emosionalnya dan yang pasti cerdas juga spiritualnya.
Jangan sampe terjadi sebaliknya. Apalagi salah kaprah. Apa gunanya cerdas
secara IQ tapi lupa pada yang memberi kecerdasan itu sendiri? Apa gunanya punya
gelar berderet tapi ternyata kufur nikmat?
Ah, ternyata itu semua memang tak ada gunanya bila kecerdasan yang
ada ternyata tak mampu untuk mengenal Rabbnya. Jadi, kamu jangan mau jadi
cerdas yang bablas alias nggak tahu diri. Cerdas itu kudu taat syariat. So,
cewek cerdas? Kudu lagi! Apakah ada di antara kamu? Semoga semuanya cerdas.[ria:
riafariana@yahoo.com]