STUDIA
Edisi 303/Tahun ke-7 (24 Juli 2006)
Lingkungan
baru, temen-temen baru, atau guru-guru baru. Kondisi ini yang sering ambil
bagian dalam balada para siswa baru saat menginjakkan kakinya di sekolah baru.
(Hmm…jadi nostalgia deh. Inget waktu masih muda). Yup, memasuki lingkungan baru
di sekolah emang punya daya tarik tersendiri. Ada yang bikin bahagia, tapi
nggak sedikit juga yang bikin manyun. Ih sebel deh!
Yang
bikin bahagia, apalagi kalo bukan petualangan menaklukkan lingkungan baru.
Berusaha mencairkan kekakuan antara kita dengan orang-orang ‘aneh’ yang baru
dilihat. Atau saat kita mulai mengkoleksi ‘benda-benda’ yang bikin kita tetep
semangat untuk berangkat sekolah. Mulai dari temen deket, tempat ngeceng,
jajanan favorit, guru favorit, lawan jenis favorit, kakak kelas favorit, sampe
penjaga pintu gerbang favorit (biar bisa diizinin masuk kalo kesiangan). Seru
kan?
Yang
bikin manyun, biasanya kita dianggap junior alias anak bawang yang udah dikutuk
kudu ngikutin segala bentuk aturan tak tertulis dari para senior.
Hiks..hiks..hiks.. Terutama pas hari pertama jalanin masa-masa orientasi atau
perkenalan. Bukannya karpet merah atau sambutan meriah yang kita dapet, malah
seabrek tugas untuk membawa barang-barang aneh bin ajaib keesokan harinya.
Bayangin aja, udah mah rambut di multi-kepang (kepang banyak) pake tali rapia,
tas dari keresek item, kaos kaki bola, masih kudu bawa telor seperempat matang
atau guling yang isinya benang. Kalo nggak cerdas, alamat kena hukuman tuh. Ampun
dah!
Santai
aja sobat, suka dan duka di sekolah baru, emang udah biasa. Yang nggak boleh
dianggap biasa, saat kita bikin masalah atau malah jadi biang masalah di
lingkungan baru. Kita bakal dianggap songong ama kakak kelas, dicemberutin
temen seangkatan, dan yang lebih parah berurusan dengan pihak sekolah. Berat
tuh tanggung jawabnya. Makanya mumpung masih jadi siswa baru, dari awal kita
bikin kesan yang baik untuk semua. Biar pendidikan kita lancar dan yang penting
nggak bikin ortu kecebong eh kecewa. Yuk?
Saatnya mencari bekal
Sobat,
kisah petualangan kita selaku siswa baru di sekolah baru pastinya diawali saat
masa orientasi yang unforgetable. Yup, sejak saat itu pelan-pelan tapi
pasti, tanpa kita sadari otomatis kita ngumpulin ‘bekal’ buat jalanin hari-hari
berikutnya. Emang, bekal apa sih yang doyan dikumpulin siswa baru?
Pertama,
teman. Keberadaan seorang teman udah jadi kebutuhan primer buat kita dalam
bergaul. Apalagi saat memasuki sekolah baru. Berburu teman pantes diagendakan
di awal-awal sekolah. Selain bisa berbagi rasa, kecewa, atau bahagia, adanya
teman juga bikin kita nggak sendiri dalam lingkungan yang belum dikenal. Meski
penting punya teman, bukan berarti kita dapetinnya asal. Bukan berarti pula
kita sampe perlu ngadain audisi untuk nyari teman. Ribet amat. Yang penting,
kita punya temen selevel sahabat yang saling bantu baik materil maupun
spirituil. Kayak Audi dan Nindi gitu deh. Ehm..
Kedua,
tempat tinggal (buat yang nge-kost). Untuk pelajar atau mahasiswa yang dateng
jauh-jauh dari luar kota, nyari tempat tinggal sementara buat nge-kost nggak
bisa disepelein. Selain untuk menghemat ongkos, jadi anak kost punya keuntungan
bisa belajar bareng dan lebih bersosialisasi dengan teman sebaya atau
masyarakat luas. Nggak heran kalo di lingkungan kampus, aneka macam kost sudah
tersedia. Dari yang murah meriah hingga yang mewah dengan fasilitas serba wah.
Sesuaikan aja dengan kocek ortu.
Ketiga,
kakak kelas. Sebagai senior, kakak kelas yang udah duluan makan asam garam
(nggak ada kerjaan ya pake makanin asem ama garem segala) di sekolah pasti
punya segudang pengalaman berharga. Pengalaman suka-duka mereka bisa bantu kita
lebih siap menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Syukur-syukur nggak cuman
pengalaman yang mereka wariskan, tapi juga buku pelajaran yang masih bisa
dipake. Lumayan dari pada beli. Seperti kata tukang loak, biar bekas yang
penting berkualitas. Makanya, punya kenalan kakak kelas itu penting. Tinggal
pandai-pandai kitanya aja nempatin diri di hadapan senior. Nggak pake SKSD (sok
kenal sok deket) atau cuek bebek. Yang wajar-wajar aja lah. Ekoy, eh, okey?
Keempat,
kegiatan. Setiap sekolah pasti punya kegiatan ekstra kurikuler sebagai media
penyaluran bakat seni, olahraga, intelektual, atau agama bagi para siswanya.
Nggak ada salahnya kalo kita ambil salah satu. Siapa tahu bisa menggali bakat
kita yang terpendam. Plusnya lagi, para penghuni eks. skul biasanya nggak bikin
gap meski beda generasi dan latar belakang. Temen beda kelas, kakak
kelas, alumni, sampe guru semuanya berbaur. Itu artinya kita bakal punya lebih
banyak temen dan kenalan. Asyik dong?
Ngumpulin bekal yang
asyik
Sobat,
daftar perbekalan yang kita kumpulin untuk ngadepin situasi kondisi di
lingkungan sekolah baru selalu punya dua kencenderungan. Baik dan buruk.
Tergantung bekal seperti apa yang kita pilih. Itu sebabnya, kita kudu hati-hati
bin selektif dalam memilihnya. Bukannya pilih kasih, cuma jaga-jaga aja. Kalo
salah pilih, bukannya membantu malah menjerumuskan kita. Berabe banget kan?
Pertama,
teman. Untuk urusan temen, Rasulullah saw. mengingatkan kita dalam sabdanya: “orang
itu mengikuti agama teman dekatnya, karena itu perhatikanlah dengan siapa ia
berteman dekat” (HR. Tirmidzi)
Teman
yang baik akan memberikan pengaruh yang baik buat kita. Dalam belajar, bergaul,
atau menghadapi masalah. Sehingga kita merasa nyaman bersamanya tanpa khawatir
melupakan kewajiban belajar atau beribadah pada Allah Swt. Itu berarti teman
yang baik nggak sungkan untuk saling menasihati dan mengingatkan di saat
khilaf. Figur teman yang baik model gini lahir dari ketaatannya pada Allah dan
RasulNya. So, carilah teman yang bisa ngajak kita untuk taat, bukan
bermaksiat. Kalo soal penampilan, itu mah selera masing-masing. Silahkan aja
pilih yang borju, gaul, sporty, tawadhu, funky, atau nyantri, yang penting
takwa. Yuk!
Kedua,
tempat tinggal. Selain teman, lingkungan sekitar juga punya pengaruh yang kuat
dalam membentuk watak dan karakter kita. Abu Musa meriwayatkan bahwa Rasulullah
saw bersabda: “perumpamaan tentang teman duduk yang shalih dan teman duduk
yang buruk adalah ibarat penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Maka dari
penjual minyak wangi kalian bisa mendapatkan minyak wangi atau mencium
keharumannya, sedangkan dari tukang pandai besi kalian bisa terjilat api yang
membakar pakaian atau kalian akan terkena asapnya. (HR Bukhari)
Saran
kita carilah tempat tinggal/kost-an yang nyaman untuk belajar; kondusif dalam membentuk kebiasaan baik (good
habit) kita sehari-hari; mengajarkan kita untuk mandiri dan disiplin;
mendorong diri kita untuk lebih dekat dengan Allah Swt. Seperti bangun tidur on
time untuk shalat shubuh, berolahraga, menjaga kebersihan kost-an, ada
waktu untuk mencairkan sikap ego bin individualis antar penghuni, dan yang
terpenting ada kegiatan keagamaan yang membantu kita mengenal Islam lebih
dalam. Hmm...indahnya....
Ketiga,
kakak kelas. Menjaga hubungan baik dengan kakak kelas bukan semata-mata jadi
kambing congek yang melulu dengerin pengalamannya, pengen jadi ahli waris buku
pelajarannya atau malah nyari ‘beking’ (pelindung) lho. Walaupun ada oknum
kakak kelas yang jutek, sok kuasa, atau gila hormat, kita tetep menghormatinya
sebagai senior yang udah duluan menghuni sekolah. Jadi hubungan baik dengan
mereka lantaran kita satu keluarga besar dalam sekolah yang sama.
Di
sisi lain, kita boleh aja deket (bukan pacaran lho) dengan kakak kelas sejenis
(cowok-cowok atau cewek-cewek). Karena secara pribadi mereka bisa kita jadikan
panutan. Untuk urusan ini, baiknya kita dekat dengan senior yang punya track
record bagus. Baik dari sisi prestasi akademis maupun perilaku. Agar bisa
ngasih pengaruh yang baik juga buat kita.
Keempat,
kegiatan. Untuk yang satu ini, kita sarankan carilah komunitas pengajian
sebagai kegiatan utama. Bukan apa-apa, karena kegiatan ini yang paling besar
manfaatnya buat kebaikan kita di dunia dan akhirat. Di tempat ini, kita bisa
bersama-sama belajar mengenal Islam lebih dalam. Sama-sama membangun benteng
akidah yang akan menjaga diri kita dari pengaruh buruk lingkungan. Dan yang
terpenting, kita termotivasi untuk melatih diri agar menjadi orang yang
bermanfaat untuk keluarga, lingkungan, dan umat. Siip kan?
Kenalilah diri kita
Sobat,
status junior bukanlah aib yang kudu dibenci. Apalagi sampe punya niat untuk
balas dendam kalo udah jadi senior. Idih, nggak lah yauw!
Makanya
nggak usah pake minder atau ngerasa rendah diri cuma lantaran status kita
junior. Justru kita kudu bersyukur. Soalnya, sebagai pendatang baru yang belum
banyak tahu biasanya punya rasa ingin tahu yang gede. Rasa penasaran ini bisa
jadi modal buat kita untuk menimba ilmu. PDOD alias percaya diri over dosis
tanya sana-sini-situ ama guru, kakak kelas, satpam, tukang bersih-bersih
sekolah, atau para penjual di kantin. Ujung-ujungnya kita punya kenalan banyak
dan punya banyak info tentang lingkungan baru kita. Asyik kan? Yuuk!
Dan
yang kita nggak boleh lupa, suatu saat kita akan dapat giliran menggantikan
orangtua yang udah waktunya turun tahta. Itu berarti keberadaan kita sekarang
akan melanjutkan kehidupan di masa depan. Untuk diri kita, lingkungan,
masyarakat, maupun umat. Tolong dicatat ye.
Itu
sebabnya, mumpung kita masih muda, galilah ilmu di mana saja, kapan saja, dan
dari siapa saja. Hiasilah hari-hari kita dengan mengulang pelajaran sekolah,
membaca buku/bacaan yang bermanfaat, atau nonton berita untuk mengetahui
kondisi saudara-saudara kita di belahan dunia lain. Bergeraklah. Jangan biarkan
diri kita seperti air yang menggenang yang akan berbau busuk dan menjadi sarang
penyakit. Jadilah air yang mengalir yang akan memberikan manfaat pada setiap
jalan yang dilaluinya.
Kembangkanlah
potensi yang kita miliki untuk kebaikan, kemaslahatan orang lain, dan dakwah
Islam. Jangan biarkan kita tergoda untuk mencicipi jalan pintas meraih
popularitas melalui ajang pencarian bakat seperti yang kini marak tayang di
televisi. Jauhkanlah bayangan bahwa semua kesuksesan akan mendatangkan
keuntungan materiil yang melimpah di atas piring emas. Yang ada, justru
kemenangan terburuk akan kita peroleh jika selalu dan hanya mengukur kesuksesan
dengan keuntungan duniawi. Berlombalah mendapatkan kemenangan terbaik ketika
ridha Allah selalu menyertai setiap perilaku kita.
Terakhir,
mari kita sama-sama menjadi pengemban dakwah Islam yang handal. Generasi muda
yang rindu surgaNya. Sebagaimana tercermin pada sosok pemuda pahlawan Islam
seperti Thariq bin Ziyad yang menaklukkan Spanyol atau Muhammad al-Fatih yang
menaklukkan Konstantinopel (Istambul). Nah, kalo nggak sekarang, kapan lagi,
coba? Selamat menempuh ‘hidup baru’! [Hafidz: hafidz341@telkom.net]