STUDIA Edisi
301/Tahun ke-7 (10 Juli 2006)
Adios Brasil!
Inggris Menangis! Argentina Terkapar! Mimpi Ukraina tak berlanjut! Mereka
dikalahkan lawan-lawannya pada duel seru di lapangan hijau di babak perempat
final dalam ajang sepak bola sejagat bernama World Cup 2006 di Jerman.
Magico Quartet
Brasil: Ronaldinho, Kaka, Ronaldo dan Adriano bertekuk lutut di hadapan pasukan
“Ayam Jantan” yang dimotori dua gelandang hebat Perancis, yang kebetulan
keduanya muslim: Zinedine Yazid Zidane dan Frank Ribery. Bahkan, Ribery yang
dijuluki “si mobil balap” dengan sebutan Ferraribery oleh suporter klub
Galatasaray Turki tempatnya bermain, mengatakan bahwa, “Islam memberi saya
kekuatan di atas lapangan,” ujar pemuda kelahiran 7 April 1983 yang menikahi
gadis muslimah al-Jazair ini. Brasil pun pergi meninggalkan Jerman dengan
cemoohan dan cacian dari para penggemarnya yang kecewa.
Inggris lebih parah, dua kali ketemu Portugal dua kali gagal.
Pertama di Euro 2004 dan kini di World Cup 2006. ‘Kutukan’ adu
penalti itu membuat Inggris tak pernah menang lawan Portugal di dua ajang
hajatan sepak bola bergengsi itu. Inggris menangis. Sementara pendukung
fanatiknya melampiaskan kekecewaan atas kekalahan timnya dengan aksi brutal.
Polisi menahan sedikitnya 180 hooligan di Gelsenkirchen, Jerman sesaat
setelah tim kesayangannya dijegal Portugal. Mereka juga ngamuk di Kepulauan
Jersey, London, yang dihuni lebih dari 5.000 warga keturunan Portugal. Yeee..
kalah kok ngamuk!
Roberto Ayala dan Esteban Cambiasso mungkin akan menjadi ‘kambing
hitam’ kekalahan Argentina gara-gara tendangan penaltinya dalam tos-tosan
(adu tendangan penalti) digagalkan kiper Jerman, Jens Lehmann. Argentina
terkapar digilas pasukan Der Panzer. Jerman pesta, Argentina berduka. Kalo Jose
Pekerman, pelatih tim “Tango” Argentina cukup mengerti lagu dangdut di sini,
kayaknya langsung deh bilang ke Juergen Klinsmann, pelatih “Tim Panser” Jerman
sambil nyanyi lagu: “Pestamu Dukaku”. Eit, tapi Juergen Klinsmann pun mungkin
akan balas nyanyiin lagu: Don’t Cry for Me Argentina…
Ukraina sebagai tim underdog alias nggak diunggulkan nggak
terlalu dicela para pendukungnya meski dicukur Italia 3-0 lewat gol Gianluca
Zambrotta dan dua gol hasil sumbangan Luca Toni. Para ‘mutan’ Chernobyl ini
pulang dengan tenang sambil menikmati mimpi yang nyaris jadi kenyataan. Sayang,
mimpinya direnggut pasukan elang Azzurri yang ganas. Sementara Italia akan
bertarung saling bunuh dengan Jerman.
Sesaat setelah kemenangan itu, media Italia pun langsung sesumbar.
“Jerman, kami akan mengalahkan kamu!” tulis Harian Italia, Corriere dello
Sport. Ini merupakan balasan atas artikel yang ditulis berita mingguan Der
Spiegel, yang menyebut pemain Italia “Parasit” dan “Anak Mami”. Corriere
menulis lebih lanjut, “Mereka berkata kami akan mengeluarkan uang untuk menang.
Azzurri akan menutup mulut mereka, mengalahkan mereka, di rumah mereka sendiri.
Kami akan melakukan apa pun untuk mewujudkannya. Tunggu saja!”
Dan... ternyata di lapangan hijau pasukan Azzurri Italia berhasil
menghentikan Der Panzer Jerman secara dramatis di babak semi final Piala Dunia
2006 dengan skor 2-0. Jerman pun berurai air mata. Italia suka-cita.
Membangkitkan nasionalisme
Prestasi Ueber Alles yang mengkilap di Piala Dunia
ini--meski cuma sampe di semi final--telah berhasil membangkitkan kembali
semangat patriotisme dan nasionalisme banyak rakyat Jerman yang selama ini
nggak pede dengan kejermanannnya. Mereka malu dengan sejarah kelam Nazi
pimpinan Adolf Hitler yang rasis.
Tapi kini, setelah Jerman cukup perkasa di ajang sepak bola
sejagat itu, mulai merambat rasa percaya diri rakyat Jerman. Bundesflagge
alias bendera hitam-merah-emas yang selama ini jarang disentuh, kini marak
dikibarkan di pelosok kawasan Bavaria itu.
Seorang kolumnis ternama bernama Franz Josef Wagner, 63 tahun,
mengakui hal tersebut. Dia menulis di harian Berliner Zeitung setelah
menyaksikan kegairahan masyarakat Jerman mengibarkan bendera Schwarz-Rot-Gold
(Hitam-Merah-Emas) untuk mendukung tim nasional mereka di Piala Dunia.
Bendera nasional ditemui di segala sudut kota dan desa, di kaca spion mobil, di
atas atap rumah, juga di dekat kanal-kanal air yang tersebar di hampir semua
daerah.
Para suporter Jerman juga
mulai rajin dan bangga menyanyikan kalimat pertama dari lagu kebangsaan Jerman,
Das Deutschlandlied: Deutschland, Deutschland ueber alles…! (Jerman,
Jerman di atas semua…!) dengan semangat patriotik di setiap pertandingan tim
kesayangannya tersebut.
Bahkan Kanselir Jerman, Angela Merkel—yang tumbuh dalam tradisi
Jerman Timur—menyebut hal ini sebagai nasionalisme dan patriotisme Jerman yang
baru. Tak ada hubungannya dengan Ueber Alles dalam doktrin Hitler, yang
hanya mengakui keunggulan ras Arya mereka.
Ketika empat negara yang
masuk semifinal semuanya dari benua Eropa, maka ada saja orang yang kemudian
menghubungkan bahwa Eropa lebih baik ketimbang tim dari benua Amerika, Asia,
dan Afrika. Apalagi Asia, hampir semua wakilnya gugur di babak awal: Iran,
Korea Selatan, dan Arab Saudi. Hanya Australia (yang mulai 2005 lalu resmi
disetujui FIFA untuk masuk AFC, federasi sepak bola kawasan Asia) yang berhasil
menembus babak kedua, sebelumnya akhirnya dihempaskan Italia lewat kemenangan
kontroversialnya.
Afrika? Negeri ini hanya menyisakan pasukan “Bintang Hitam” Ghana
di babak kedua sebelum akhirnya harus mengakui keperkasaan Brasil. Ghana angkat
koper dari Jerman setelah digunduli Brasil 3 gol tanpa balas. Empat negara
Afrika sudah KO di babak pertama: Tunisia, Togo, Angola, dan Pantai Gading.
Sobat, dengan kondisi seperti ini, meski diakui bahwa sepak bola
tuh sekadar olahraga, bahkan diakui bisa mempersatukan beragam bangsa yang
berbeda warna kulit, bahasa, dan budaya—tapi ternyata pada parktiknya tetap
saja kerepotan menahan laju nasionalisme yang digerakkan para pendukung tim
kesayangan masing-masing. Itu sebabnya, meski FIFA sudah mengantisipasi dengan
mengeluarkan semboyan “Let’s Kick Racism Out of Football!”, tapi tak kuat juga
menahan gelombang nasionalisme (termasuk kesukuan, ras dan etnis) yang sangat
boleh jadi akan membawa-bawa sikap rasis dari para pendukung tim sepak bola
negara yang berlaga di ajang tersebut.
Yup, sepak bola yang seharusnya bisa dinikmati sebagai tontonan
dan hiburan malah menjadi petaka dan bikin ribet. Awalnya saling ejek, tapi
lama-lama malah jadi adu fisik.
Masih inget Tragedi Heysel di Belgia saat berlangsung final Liga
Champions yang mempertemukan Juventus (klub asal Italia) dan Liverpool (klub
jawara Inggris)? Yes, tragedi berdarah yang menewaskan 39 orang itu—kebanyakan
pendudukung Juventus—dikenang sebagai sejarah buruk sepak bola. Sejak saat itu,
Liverpool dihukum beberapa tahun untuk tidak bermain di ajang Eropa dan FIFA
harus selalu mewaspadai para hooligan—boneknya Inggris—jika kesebelasan
sepak bola Inggris atau klub-klub dari Inggris bertanding di negara lain. Bikin
rese aja!
Lain hooligan, lain pula para suporter Real Madrid.
Suporter klub asal Spanyol ini terkenal rasis. Sambil menemani klub
kebanggaannya bermain di stadion Santiago Bernabeu, mereka bernyanyi dengan
irama lagu kebangsaan Spanyol, tapi syair diplesetkan: “Fuera, Fuera,
maricones, negros, basque, catalan” (pergi, pergi: waria, negro, basque,
dan catalan!)
Memang, tanpa suporter,
sepak bola kering bin garing. Karena merekalah yang akan rela menyemangati
pemain tim sepak bola kesayangannya dari tribun penonton, berteriak histeris
jika timnya unggul, mengibar-kibarkan bendera negara kesayangannya, sudi
berpeluh keringat dan memoles tubuh dengan cat warna bendera negara
masing-masing. Mereka juga yang telah membeli tiket jutaan rupiah dan meludeskan
duitnya untuk membeli segala macam merchandise tim kesayangan mereka
mulai dari kaos, slayer, bendera, ikat kepala dan sejenisnya. Tapi, ribet juga
kalo bikin rese.
Sobat, kayaknya nggak usah jauh-jauh, kerusuhan sepak bola di
negeri kita juga sering terjadi. Final Liga Indonesia tahun 1998 mungkin masih
ingat di benak para bonek atau masyarakat Jakarta. Waktu itu, ribuan
bonek—suporternya Persebaya—nekat turun ke jalanan di ibu kota begitu tim Bajul
Ijo berhasil menerkam Maung Bandung Persib Bandung. Parahnya, aksi
yang mungkin seharusnya “syukuran” itu malah jadi anarkis.
Mereka menjarah toko dan puluhan mobil dibakar. Aparat keamanan
pun kerepotan mengawal mereka sampe Stasiun Senen, Jakarta. Tapi, keberingasan
para bonek yang cuma modal nekat datang ke Jakarta itu berlanjut di atas kereta
yang membawa mereka ke Surabaya. Kawasan pinggir rel yang membentang sepanjang
jalur Jakarta-Cirebon dihujani batu!
Singkirkan nasionalisme!
Sobat, nasionalisme merupakan ikatan antar manusia yang didasarkan
pada ikatan kekeluargaan, klan, dan kesukuan. Nasionalisme ini muncul di
tengah-tengah manusia tatkala pemikiran mendasar yang mereka emban adalah
kehendak untuk dapat mendominasi. (Ahmed, A. dan Abid, K. The Roots of
Nationalism in The Muslim World,
hlm. 6.)
So, bagi mereka
yang menghayati realitas, ikatan nasionalisme ini sebenarnya bukan membentuk
persatuan antar manusia, tetapi justru melahirkan superioritas suatu bangsa
atas bangsa lain. Coba deh tengok, dalam sepak bola aja udah ketahuan banget
nunjukkin keunggulan bangsa atau etnis tertentu. Dibanding sebagai alat
pemersatu, ternyata lebih banyak jadi alat pemecah belah.
Buktinya, para penganut ideologi ultra-kanan di Jerman sangat
membenci kulit berwarna di Tim Panser. “Sebuah tim nasional haruslah sebuah tim
nasional,” kata juru bicara Partai Nasional, Klaus Beier. “Asamoah mungkin
seorang pemain yang bagus dan memegang paspor Jerman. Tapi dia tak akan pernah
menjadi orang Jerman,” imbuhnya.
Sekadar tahu aja, di Tim Panser ada Gerald Asamoah dan David Odonkor
yang keturunan Ghana dan berkulit gelap. Bahkan ada Lukas Podolski dan Miroslav
Klose yang asli Polandia, negeri pembenci Hitler karena diinvasi oleh pemimpin
Nazi tersebut. Lagian para pengagung ras di Jerman lupa, kalo salah satu wanita
tercantik di negerinya, Heidi Klum, ternyata sang model ini menikah dengan
penyanyi Inggris berkulit hitam, Seal. Tapi, itulah nasionalisme.
Membingungkan, menyesatkan dan membuat perpecahan.
Eh, kebayang nggak sih kalo seandainya tim sepak bola Iran
berhadapan dengan kesebelasan Indonesia di partai final Piala Dunia, akankah
terjadi ‘perang’ antar sesama kaum muslimin? Jawabannya, tergantung sejauh mana
nasionalisme menancap kuat dalam pikiran dan perasaan kaum muslimin. Kalo
perang, berarti kita telah teracuni nasionalisme yang memang merusak itu.
Ati-ati deh.
Sobat, Islam ngelarang banget kita bersikap ta’ashub.
Bangga dan fanatik ama kelompok. Fanatisme kelompok seperti kesukuan dan
nasionalisme terbukti memecah belah manusia, dan mempersempit pergaulan. Selain
itu, fanatikme kelompok bikin kita ngerasa jadi beda dengan orang lain. Kita
ngerasa jadi orang yang lebih ‘tinggi’ dibandingin mereka yang ada di luar
kelompok kita. Wajar aja, agama kita nutup rapat buat fanatik kelompok ini.
Sabda Nabi saw.: “Bukan golongan kami yang menyeru pada ashabiyyah,
berperang karena ashabiyyah dan mati karena ashabiyyah.” (HR Abu Daud)
Oke deh, tendang jauh-jauh
nasionalisme dari hidup kita. Karena kita hanya terikat dengan akidah Islam dan
Allah Ta’ala hanya akan memuliakan kita karena ketakwaan kita kepadaNya.
Hanya Islam yang akan bisa mempersatukan manusia. Allah Swt. pun nggak
mengistimewakan dan memuliakan manusia berdasarkan bangsa dan etnisnya. Allah
Swt. juga nggak memuliakan manusia dari warna kulitnya. Kick out nationalism!
[solihin: sholihin@gmx.net, berbagai sumber]