STUDIA
Edisi 297/Tahun ke-7 (12 Juni 2006)
Ini
bukan sedang berandai-andai mempertemukan timnas sepak bola Jerman dengan tim
sepak bola PSIM Yogyakarta atau PSS Sleman. Bukan pula sedang bermimpi untuk
saling berhadapan klub asal Jerman, Bayern Muenchen melawan Persiba Bantul.
Nggak banget. Karena menurut feeling saya sih, Arab Saudi yang udah
keren aja digunduli 8 gol tanpa balas di Piala Dunia 2002 oleh Michael Ballack
dan kawan-kawan. Pikir-pikir, apalagi kalo kesebelasan PSIM Yogyakarta, PSS
Sleman dan kesebelasan Persiba Bantul? Bukan tak mungkin kalo terjadi hujan gol
ke gawang PSIM Yogyakarta, PSS Sleman atau Persiba Bantul.
Bukan
pesimis dan ngerendahin, tapi emang prestasi kita jauh banget dibanding Jerman
(PSS Sleman aja terancan degradasi ke Divisi I menemani Persiba Bantul). Lagian
kebangetan kalo ngebandingan Bayern Muenchen ama PSIM, PSS dan Persiba. Hehehe.
Oya, bahkan PSIM dan PSS udah ngajuin pengunduran diri dari Divisi Utama Liga
Djarum, sementara Persiba juga akan ngundurin diri dari Divisi I Grup III Liga
Indonesia dengan alasan seluruh fasilitas hancur dan pemainnya trauma gara-gara
gempa. Maklumlah, klub-klub ini didanai dari APBD (Anggaran Belanja dan
Pendapatan Daerah) dari pemda masing-masing. PSIM Yogyakarta aja tahun ini
dapat jatah Rp 8,9 miliar (duit segitu sih setara dengan gajinya Andriy
Shevcenko sebulan di Chelsea musim depan).
Sobat
muda muslim, dengan judul tulisan “Jerman Vs Yogya” ini sekadar ingin merenung
aja, bahwa perhatian kita, perhatian rakyat negeri ini, dan perhatian warga
dunia akan lebih fokus ke Jerman ketimbang fokus ke Yogyakarta dan sebagian
Jawa Tengah. Gemerlap pesta Piala Dunia akan mampu ‘menyihir’ kita untuk
memalingkan perhatian dari mengurus atau merhatiin korban gempa. Saat ini aja penanganan
terhadap korban gempa masih jauh dari
memuaskan, apalagi kalo udah digelar hajatan Piala Dunia pada 9 Juni ampe 9
Juli 2006 nanti, sebulan penuh, kayaknya makin terlantar aja deh. Kasihan
banget ya?
Memang
sih, nggak bakalan mungkin semua perhatian kita tumpahkan kepada
saudara-saudara yang menjadi korban gempa. Kita semua adalah manusia, yang
sudah punya tugas dan kewajiban sendiri. Pemerintah pusat dan daerah juga punya
tugas lain selain ngurus korban gempa, negara lain juga sama harus memikirkan
negerinya sendiri. Itu sebabnya, nggak bisa ngelarang juga bagi siapa pun untuk
meminta orang lain lebih fokus ngurusin satu masalah. Karena memang
masing-masing udah punya kegiatan tersendiri.
Hanya
saja, kita sangat prihatin banget dengan cara penanganan yang dilakukan
pemerintah negeri ini. Bukan ngejelek-jelekkin, tapi emang nggak memuaskan.
Sejak Sabtu pagi, 27 Mei 2006, gempa melanda Yogyakarta dan sebagian Jawa
Tengah, terutama Klaten, sampai sekarang masih aja ada korban gempa yang nggak
keurus. Bahkan, gempa yang terjadi pada dua pekan menjelang digelarnya Piala
Dunia di Jerman itu, kini mulai kehilangan daya tarik masyarakat, kalah dengan
gemerlap pesta Piala Dunia.
Padahal,
gempa berkekuatan 5,9 pada skala Richter (menurut catatan Badan Geologi
Departemen ESDM angkanya 6,2 pada skala Richter) telah memakan lebih dari 6.000
korban jiwa dan merusakkan hampir 100 ribu bangunan.Cukup besar memang. Karena
kekuatan ini konon kabarnya setara dengan ledakan 56 ribu ton bom atau setara
dengan bom atom yang dijatuhkan Amerika di Hiroshima, Jepang pada 1945.
Buruknya kita
Ungkapan
sebuah iklan rokok yang cukup menyindir rumitnya birokrasi di negeri ini
seharusnya menjadi renungan. Kayaknya banyak juga deh di antara kita yang tahu
bunyi ungkapan itu. Yup, “Jika masih bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah.
Tanyaken apa?”
Udah
jadi rahasia umum kalo ngurus KTP aja bisa berhari-hari, malah saya sendiri
mengalaminya. Sehari-dua hari masih saya tanya. Seminggu saya tanya lagi, belum
kelar. Sebulan, juga belum kelar. Akhirnya saya biarkan hanya karena ingin tahu
apakah benar selama ini anekdot dari temen-temen kalo ngurus KTP aja bisa lama.
Ternyata setelah dua tahun pun belum kelar juga. Mungkin arsipnya udah hilang.
Ah, untung uangnya nggak besar yang saya keluarkan, jadi nggak terlalu rugi.
Atau… jangan-jangan karena nggak besar itulah akhirnya nggak kelar-kelar
KTP-nya? Hehehe…
Nah,
budaya birokratis ini pun ternyata menimpa korban gempa, lho. Di Yogya, ada
oknum petugas posko bantuan yang memberikan syarat bagi korban gempa yang
hendak ngambil jatah bantuan kudu nunjukkin KTP-nya. Walah, keburu kelaparan
dong. Karena birokrasinya harus berbelit. Jangan-jangan nanti kudu ngurus KTP
dulu? Lama lagi dong? Aduh, nggak kebayang gimana ribetnya.
Belum
lagi soal meratanya bantuan. Meski bantuan terus mengalir dari berbagai pihak,
termasuk dari luar negeri, tapi masih banyak rakyat yang mengaku tak menerima
bantuan. Bahkan seorang teman di Yogyakarta yang kebetulan menjadi bagian dari
korban gempa, menuturkan bahwa di tempat tinggalnya saja, bantuan yang datang
nggak sebanding dengan jumlah korban gempa. Akibatnya, ketua RT setempat rela
nombokkin dari kas RT untuk membeli beras senilai Rp 2 juta. Ah, di mana
bantuan itu? Terasa begitu lambat datangnya.
Sudah
hampir dua minggu setelah gempa, ketika
artikel ini ditulis, pemerintah masih kebingungan ngurus korban gempa. Hari
pertama bengong dan terkaget-kaget. Hari kedua, sibuk koordinasi. Hari ketiga,
kewalahan nerima bantuan. Hari keempat, baru kirim-kirim bantuan. Hari kelima
banyak warga yang nggak tersentuh bantuan. Hari keenam mulai ribut saling
menyalahkan. Ah, jangan-jangan nanti malah lupa karena sibuk nonton Piala Dunia
yang kayaknya nggak mungkin banget untuk dibatalin gara-gara gempa di negeri
ini. Menyedihkan sekali.
Lebih
lucu dan parah lagi adalah masih juga ada pihak-pihak atas nama penjaga situs
bersejarah malah mikirin gimana caranya ngerenovasi Candi Prambanan yang rusak
dihajar gempa. Kalo sampe kejadian kayak gitu, sementara nasib manusia masih
terlantar, kasihan banget nasib makluk hidup bernama manusia yang kalah
bersaing untuk mendapatkan perhatian dengan benda mati bernama candi. Aneh tapi
nyata!
Entah,
mungkin ketika pertandingan perdana Piala Dunia 2006 digelar pada 9 Juni 2006
ini di Stadion Allianz-Arena, Munich, yang mempertemukan tuan rumah Jerman dan
Kosta Rika, nasib saudara kita di Yogyakarta dan sekitarnya justru sedang sibuk
mencari makanan, tempat berteduh untuk tidur, dan sambil khawatir diguncang
gempa susulan.
Bukan
mustahil pula ketika Miroslav Klose berhasil menyarangkan bola ke gawang Kosta
Rika, bukan hanya stadion Allianz-Arena yang bergemuruh sorak-sorai menyambut
kemenangan, tapi seluruh jutaan pendukung Jerman di dunia akan berteriak senang
dan mungkin menangis haru. Pada saat bersamaan, ada jerit dan tangis warga
korban gempa di Yogyakarta dan sekitarnya yang menahan lapar dan diliputi
kecemasan. Bukan mustahil kan?
Ketika
pertandingan demi pertandingan digelar, mungkin saja warga korban gempa juga
bisa menikmati hiburan dari para bintang sepak bola dunia yang berlaga di Piala
Dunia. Tapi, apakah urusan perut bisa kenyang hanya dengan melihat aksi
Ronaldinho menggocek bola dan memasukkannya ke gawang lawan? Bagaimana dengan
kita di sini? Jangan-jangan, setiap malam malah begadang nonton sepak bola dan
lupa sama saudaranya, meski dengan hanya mengirimkan doa di shalat malam.
Sobat
muda muslim, dalam sepak bola sering terjadi psywar alias perang urat
syaraf untuk meruntuhkan mental tim lawan. Perang itu bisa berupa menjelekkan
tim lain biar orang mendukung timnya. Sementara ketika gempa di Yogya dan
sekitarnya, perang urat syaraf kerap dilakukan oleh para oknum politisi yang
memanfaatkan kondisi ini untuk menjelekkan lawan politiknya. Ah, menyedihkan
sekali.
Sobat,
bukan pula maksud kita nuduh yang nggak bener, bukan juga meragukan niat baik
masyarakat kita untuk nyumbang korban gempa dengan menggelar posko-posko di
pinggir jalan. Tapi, maaf, ternyata ada juga yang tega mengais rejeki di atas
penderitaan korban gempa. Itu sebabnya, stasiun Metro TV aja mengumumkan bahwa
mereka tidak pernah membuka posko di sembarang tempat. Itu dilakukan untuk
menghindari pencatutan nama lembaganya dalam menghimpun dana.
Memang
sulit melacak aliran dana dari banyaknya posko yang bertebaran di jalanan,
apakah nyampe ke korban, atau malah menjadi ladang nyari usahanya? Wallahu’alam.
Semoga saja, korban gempa bukan menjadi komoditas unggulan untuk nyari usaha
dari beberapa oknum masyarakat atas nama mereka. Kasihan. Kalo pun kita nggak
bisa menolong mereka dengan harta dan tenaga, ya minimal dengan doa. Jangan
malah mengeksploitasi penderitaan mereka demi keuntungan pribadi. Oke?
Antara Jerman dan
Yogya
Pernah
tahu berapa harga tiket nonton pertandingan langsung di Piala Dunia nanti?
Harga tiket paling mahal dalam acara pembukaan adalah 300 euro atau sekitar Rp
3,57 juta (kategori 1) dan yang paling murah (kategori 4) tiketnya berbandrol
65 euro atau sekitar Rp 773 ribu. Harga tiket itu kian meroket pada babak
final. Paling mahal dibandrol 600 euro (Rp 7,14 juta) dan paling murah Rp 1,42
juta. Coba sekarang kalkulasikan sendiri, harga-harga tiket itu dikalikan
jumlah penonton yang biasanya mencapai puluhan ribu orang di satu stadion, lalu
kalikan 64 pertandingan selama sebulan penuh. Ckckck...
Sekarang
kita nengok ke Yogya dan Klaten, berapa jumlah dana untuk korban gempa yang
berhasil dikumpulkan? Mungkin termasuk besar dan seharusnya bisa segera
menyelesaikan problem korban gempa jika tidak belibet birokrasinya. Bantuan
yang udah kelihatan gede-gede (setidaknya yang tecatat di media massa),
kayaknya cukup bisa membantu deh. Entah itu bentuknya hibah alias cuma-cuma
atau dalam bentuk pinjaman lunak.
Menurut
Koran Tempo edisi 31 Mei 2006, beberapa negara yang ikut menyumbang
untuk Indonesia (di buletin kesayangan kamu ini hanya ditulis sepuluh dari 29
negara yang disebutkan di Koran Tempo), di antaranya: Jepang (Rp 93, 84
miliar); Inggris (Rp 68 miliar); Arab Saudi (Rp 46 miliar); Uni Emirat Arab (Rp
36,8 miliar plus 39 tenaga medis); Kuwait (Rp 36,8 miliar); Amerika Serikat (Rp
23 miliar dan 100 tenaga medis); Italia (Rp 23 miliar); Australia (Rp 21,16
miliar); Korea Selatan (Rp 18,4 miliar plus 19 tenaga medis dan obat-obatan);
Cina (Rp 18,4 miliar). Bayangin deh, dari 10 negara aja yang nyumbang, paling nggak
dananya udah terkumpul Rp 385,4 miliar. Belum lagi dari pemerintah pusat dan
pemerintah daerah plus dari bantuan banyak pihak dan lembaga di negeri ini.
Pastinya udah terkumpul dalam jumlah besar kan?
Mungkin
dana ini, jika disalurkan dengan benar langsung kepada korban gempa, bisa lebih
bermanfaat dan cepat mengakhiri penderitaan saudara kita di sana. Meski
tentunya masih kurang kalo harus membangun puluhan ribu rumah dan bangunan
lainnya yang poranda akibat gempa. Tapi seenggaknya kalo urusan makan, pakaian,
dan tempat yang rada mendingan buat tidur (karena ada warga yang harus
berdesakan di kandang kambing) aja sih insya Allah cukup. Lagian dananya juga
insya Allah akan terus mengalir. Entah, nanti kalo hajatan sebulan penuh Piala
Dunia digelar. Mungkin, aliran dana akan lebih banyak disetor ke para bandar
judi untuk taruhan nebak skor akhir pertandingan. Bukan tak mungkin kan?
Jerman
sebagai shahibul bayt World Cup 2006, akan terus mendapat sorotan dunia.
Dan Yogyakarta, Bantul, Sleman, dan sekitarnya yang poranda digoyang gempa
lambat-lambat laun akan dilupakan. Jeritan histeris menyaksikan pertandingan
sepak bola akan beradu kuat dengan jeritan histeris yang minta pertolongan dan
kelaparan. Jangan-jangan, mungkin akan banyak nyanyian, tangisan, jeritan, dan
haru di Jerman sana ketimbang di Yogyakarta. Wallahu’alam. [solihin:
sholihin@gmx.net. http://sholihin.multiply.com]