STUDIA
Edisi 292/Tahun ke-7 (8 Mei 2006)
Siapa
sih yang nggak ngarepin kebaikan? Kita yakin banget bahwa setiap orang pengen
dapetin kebaikan. Ia berdoa dan berusaha untuk mendapatkan kebaikan tersebut.
BTW,
nggak ada salahnya juga kalo ngarepin kebaikan dalam urusan pendamping hidup.
Namanya juga pendamping hidup, berarti harapannya, selama kita hidup ya si dia
menjadi pendamping kita. Begitu pun sebaliknya.
Sobat
muda muslim, kalo pekan kemarin kita bahas dari sisi ikhwan yang punya hajat,
sekarang kita pengen menelusuri harapan dan impian para akhwat tentang ikhwan.
Maksudnya biar adil (satu sama), gitu lho.
Oya,
buat kamu yang masih SMA (apalagi SMP), tolong jangan merasa kalo bahasan kita
kali ini tuh dewasa banget. Jangan ya. Soalnya, kalo kamu udah baligh kan
disebut dewasa juga. Itu sebabnya, insya Allah masih cocok. Cuma mungkin perlu
dengan catatan tambahan, bahwa kalo sampe mikirin nikah sementara masih
berseragam putih-biru dan putih-abu, jangan dulu deh. Oke? Jadiin aja tulisan
ini sebagai info penting buat ke depannya.
Yup,
pembelajaran seperti ini insya Allah penting banget. Sebab, kita juga ngeri
dengan perkembangan temen-teman yang kayaknya udah “siaga satu” dalam kasus
pergaulan bebas (termasuk seks bebas di dalamnya). Bahaya banget gitu lho. Jadi
intinya, daripada anak-anak SMP or SMA dijejali dengan gaya hidup permisif dan
hedonis, yang akhirnya membuat mereka salah asuh dan salah arah, mendingan kita
kenalkan model pergaulan dalam Islam, khususnya dalam membentuk prinsip mencari
pendamping hidup. Bukan mencari teman kencan saat pacaran. Tul nggak?
Sobat
muda muslim, setiap perbuatan yang kita lakuin tuh pasti sesuai dengan cara
pandang kita terhadap perbuatan tersebut. Lebih luas lagi cara pandang kita
tentang hidup. Kalo kita memandang hidup tuh sekadar tumbuh, berkembang, lalu
sampai titik tertentu mati (dan nggak ada kehidupan akhirat), maka perbuatan
kita pun bakalan ngikutin apa yang kita pahami tentang kehidupan tersebut. Kita
bisa bebas berbuat apa saja sesuai keinginan kita, karena kita merasa bahwa
hidup cuma di dunia. Kehidupan setelah dunia kita anggap nggak ada. Artinya,
kita jadi nggak kenal ada istilah pahala dan dosa.
Sebaliknya,
bagi kita yang meyakini bahwa kita berasal dari Allah Swt. yang menciptakan kita
semua, terus hidup di dunia juga adalah untuk ibadah kepadaNya, dan setelah
kematian kita akan hidup di alam akhirat sesuai dengan amalan yang kita lakukan
di dunia. Kalo banyak amal baik yang kita lakukan, insya Allah balasannya
pahala dan di tempatkan di surga. Sebaliknya, kalo lebih banyak atau selama
hidup kita maksiat, jelas dosa dan kita ditempatkan di akhirat di tempat yang
buruk, yakni neraka. Naudzubillahi min dzalik.
Nah,
dengan sudut pandang terhadap kehidupan yang benar, maka ketika berbuat apapun
kita akan menyesuaikan dengan cara pandang kita tentang kehidupan yang benar
itu. Termasuk ketika mencari pendamping hidup kita. Nggak sembarangan lho.
Nggak asal seneng ngeliatnya aja. Nggak asal bisa dipamerin (emangnya piala?).
Nggak asal cuma banyak harta. Intinya sih, kita bakalan berpikir gimana
seharusnya menurut aturan Islam. Bukan berpikir sebagaimana adanya kehidupan
tersebut.
Ini
penting dan perlu. Sebab, kalo yang berpikirnya “sebagaimana adanya kehidupan”,
ya akan berpikir bebas nilai. Misalnya ketika manusia itu dianggap berhak
melakukan apa saja, maka tentu akan berbuat apa saja sesukanya (berzina, minum
khamr, konsumsi narkoba, judi, pacaran dsb). Karena merasa mereka berhak
ngelakuin hal tersebut. Nggak terikat aturan yang benar.
Sementara
yang berpikirnya “sebagaimana seharusnya”, maka ia akan nyocokkin dengan aturan
yang benar. Karena menganggap kehidupan yang ada ini harus sesuai aturan yang
benar, gitu lho. Dan Islamlah yang benar.
BTW,
kayak gimana sih ikhwan yang dicari, diharepin, dan diinginkan akhwat?
Keimanannya dong ya…
Sebagai
seorang muslim, tentunya setiap perbuatan kita wajib menyesuaikannya dengan
aturan Islam. Nggak boleh sesukanya. Nah, termasuk dalam hal memilih calon
pendamping hidup, baik ikhwan maupun akhwat. Tapi di edisi pekan ini kita
pengen tahu pendapat para akhwat soal ikhwan idamannya.
Sebut
saja Mawar, ia punya kriteria ikhwan idaman, “Yang saleh, baik, cakep,
pengertian, ngerti agama,” paparnya via e-mail yang pertanyaan udah disebar
STUDIA via beberapa mailing list.
“Kalo
aku sih pengennya tuh ikhwan taat beribadah alias sholeh, hormat sama ortu,
sopan, baik hati, pinter. Tapi yang jelas yang pertama agamanya harus OK dan
punya semangat berjuang di jalan Allah dengan istiqomah,” tulis Ninink dalam
e-mailnya.
Mila,
bukan nama sebenarnya ikutan ngasih komen, “Tipe ikhwan yang disukai, biasa,
standar akhwat: Baik agamanya, baik akhlaknya, baik sama keluargaku,
mengerti aku (egois banget ya? Hehe..), lebih pinter dari aku (tapi bukan
pinter ngeboong ya), punya inner (enak dipandang juga boleh), udah punya
penghasilan en mapan (kalo ini request-an ibuku... hehehe),” Mila
ngejembrengin via e-mailnya.
Hmm..
para ikhwan, kedengarannya sederhana ya? Pengen ngarepin tipe ikhwan yang
sholeh. Nah, masalahnya, amal sholeh tuh kan selalu digandeng dengan keimanan.
Sebab, nggak mungkin ada amal sholeh tanpa keimanan. Nggak mungkin pula ada
orang yang sholeh tapi nggak beriman. Tul nggak?
Cakep? Boljug deh...
Ehm...
akhwat juga manusia lho. Maka wajar dong kalo kepengen ‘gandengannya’ (truk
kaleee..) tuh sedap dipandang mata. Meski nggak semua ngelihat tampang, tapi
ada juga yang ngarepin nilai plusnya. Artinya, imannya oke tapi ganteng juga
dong. Boleh-boleh aja sih.
“Jujur
aja kalo ngeliat ikhwan yang cakep mupeng alias muka pengen juga kali ya, apa
lagi kalo dia rajin beribadah. Tapi kayaknya hanya suka sebatas penglihatan aja
kali. Syukur-syukur sih bisa berjodoh ama dia he..he..he..” tulis Ira di surat
elektroniknya.
Sebut
saja akhwat berinisial “sg”, doi nulis begini dalam e-mail yang dikirim ke
STUDIA, “Tergantung sih, saya bukan tipe orang yang gampang suka ama cowok
cakep. Sebab, saya suka cowok yang punya kekhasan cara pandang (ideologis
gituuuh), rambutnya gondrong, celananya rombeng, berani berbicara, seneng baca
buku (kecuali komik), terbuka/bijak (dalam arti, saat menemukan sesuatu yang
benar mau menerima dan beralih dari cara pandang sebelumnya), wawasannya luas,
tegas, PeDe, bertanggungjawab, cerdas booo, jidatnya nggak item, celana nggak nyongklang.”
Waduh, nih sih diborong semua dong? Hehehe.. nggak apa-apa tiap orang kan
berbeda selera.
Silakan
aja kalo mo nyari yang ganteng or cakep. Sah-sah aja. But, pastikan dong
yang Arjuna-mu itu taat beribadah dan sholeh. Tul nggak? Kalo cuma cakep doang
sih rugi. Tapi kalo ada yang keimanannya oke, ilmu agamanya oke, dan cakep
pula, boleh juga diincer. Asal ada syaratnya, dia juga suka sama kamu. Gubrak!
(iya dong, masa’ sih kita harus bertepuk sebelah tangan—Pupus dong
jadinya)
Perilakunya
menyenangkan
Umumnya
sih, ikhwan yang udah oke keimanannya, insya Allah oke juga kepribadiannya.
Sebab, setiap apa yang dilakukan itu pastinya ngikutin cara pandang
kehidupannya. Artinya, apa yang diilakukannya sesuai yang dipahami. Tapi,
kadang praktek beda ama teori.
Nah,
gimana nih dengan ikhwan yang jaim? Atau gimana pula menurutmu kalo ada ikhwan
yang caper bin ganjen ama akhwat?
“Aku
nggak suka kalo ngeliat ikhwan yang jaim. Kayaknya dia tipe orang yang nggak
pede untuk menunjukkan jati dirinya (cieee). Apalagi kalo ngeliat ikhwan yang
caper dan ganjen ama akhwat, aku nggak suka banget. Karena biasanya ikhwan yang
kayak gitu orangnya rese… kan nggak semua akhwat suka diganjenin (99,99 % nggak
suka),” tulis Ira ke STUDIA.
But, karena menurut Ira 99,99 persen akhwat nggak suka, ternyata masih ada
tuh dari 0,01 persen akhwat yang suka tipe ikhwan yang jaim. Sebut aja Yanti,
menurutnya, “Suka, sebab kita-kita jadi tengsin kalau mau jailin ikhwan jaim.
Tapi kalo ganjen dan caper nggak sukaaaaa.... ikhwan kok nggak inisiatif cari kerjaan
selain caper-in akhwat” paparnya.
“Keimanan
so pasti dong ya kudu jadi pilihan utama. But, perilakunya juga harus
mencerminkan keimanannya. Jadi aku nggak suka sama ikhwan yang ganjen, yang
suka caper sama akhwat, yang sombong, yang nggak mau akur sama ikhwan lainnya,
yang ngomongnya nggak sopan. Meskipun dia ilmu agamanya bagus dan rajin
berdakwah,“ jelas Arini.
Waaah...
harap hati-hati buat para ikhwan. Jangan sampe para akhwat udah nggak sreg
duluan sama kita pas ngelihat tampilan kita kayak gitu. Memang sih, ikhwan juga
manusia (yeee.. nggak mau kalah sama akhwat yang juga manusia). Karena manusia,
maka nggak bisa lepas dari kelemahan dan keterbatasan. Memang sih, tapi kan
bisa dipermak jadi oke. Soalnya yang namanya afektif (perasaan or emosional)
itu bisa dilatih dengan pembiasaan.
Jika si dia
melamarmu...
Maaf,
maaf, jangan keburu kepikiran pembahasan ini khusus dewasa. Ya, mungkin ini
lebih baik, daripada ditulis: “jika si dia memacarimu...”. Tul nggak? Justru
kita harus membiasakan pemahaman bahwa hubungan akrab pranikah (baca:
pacaran—gaul bebas-apalagi seks bebas) itu salah. Sementara hubungan yang sah
untuk saling mencurahkan kasih-sayang dan perhatian antara ikhwan-akhwat,
tentunya lewat pernikahan. Ini yang harus terus dikampanyekan. Itu sebabnya
saya lebih memilih diksi alias pilihan kata, “melamarmu”. Setuju kan? Awas kalo
nggak setuju (idih, ngancem!)
Sobat
muda muslim, kalo suatu saat kamu udah siap nikah, terus ada ikhwan yang mo
ngelamar kamu, apa yang bakalan kamu lakukan?
“Ehm...
siapa pun ikhwan yang dateng. Aku nggak bisa langsung memutuskan. Sholat
istikharah adalah solusinya. Tapi urusan fisik en materi, kayaknya nggak
zamannya lagi dipermasalahkan (yang harus dilobi tuh ortu, coz siapa sih
ortu yang rela anaknya hidup miskin. Kedengeran matre sih, tapi sebenernya ortu
bersikap kayak gitu, aku yakin alasan mendasarnya bukan karena matre, mereka
cuma pengen anaknya hidup bahagia. Ciee.. sok bijaksana gini nih).” Mila
menulis barisan kata-kata ini via e-mailnya ke STUDIA. Bener nih?
Eh,
kalo ada ikhwan yang gagah, keren, pinter, tsaqafah Islamnya juga tinggi, anak
orang kaya, rajin berdakwah, sholeh, keimanannya mantep (wuih, ada nggak sih
se-perfect ini di dunia nyata?), terus kamu ngarepin jadi pendamping
hidupnya nggak?
“Oh...
so pasti gitu looh! Eh, tapi ikhwan yang seperti itu langka ditemukan,” Tika
ngasih jawaban.
“Ingin
banget, tapi semua keputusan akhir kan Allah yang nentuin, kita mungkin cuma
bisa usaha,” Ninink menjawab dengan bijak.
Tapi,
gimana kalo setelah sekian lama menanti ikhwan idaman hati, eh, yang dateng tuh
ikhwannya dengan kriteria: wajah pas-pasan, miskin, ilmu agamanya biasa aja,
hanya rajin sholat dan dakwah. Gimana tuh?
“It’s
ok. I’ll receive. Yang jelas dia orang yang terbuka, bijak, dewasa, dan
merdeka. Kekayaan baginya adalah pemikiran yang diejawantahkan dalam kehidupan
dan perjuangan. Dan atas dasar itu pula, mencuatlah kesadaran dalam dirinya utk
menunaikan kewajiban-kewajiban yang dipanggulnya. Cukup itu, tidak lebih.”
papar akhwat yang punya inisial “sg” dalam e-mailnya ke STUDIA.
Sobat
muda muslim, kayaknya kalo ditampung semua pendapatnya bisa panjang urusannya
neh. Tapi yang jelas, kita bisa punya kesimpulan bahwa umumnya para akhwat
mencari ikhwan idaman yang imannya mantep, sholeh, pengertian, perhatian, dan
punya jiwa pengemban dakwah. Wuih, sederhana dan sangat wajar. Semoga ini
menjadi pegangan dan ukuran kita semua. Karena, yang namanya keimanan (akidah)
tuh kriteria number one euy dalam prioritas pilihan kita untuk
mencari pendamping hidup. Nggak bisa ditawar lagi.
Oke,
tulisan ini sekadar melengkapi aja dari tulisan di edisi pekan kemarin yang
udah dibahas panjang-lebar (lengkap dengan dalil-dalilnya sebagai panduan bagi
ikhwan dan akhwat). Artinya nih, tulisan di edisi ini sekadar penekanan aja
dengan lebih banyak mengeksplor pendapat para akhwat. Mengungkap fakta aja dan
sedikit ngasih penjelasan tambahan. Semoga bermanfaat dan jadi bahan renungan
kita. Makasih. [solihin: sholihin@gmx.net]