STUDIA
Edisi 284/Tahun ke-7 (13 Maret 2006)
Ramadhan 92 H, atau
bertepatan dengan tahun 711 M, Thariq bin Ziyad dan pasukannya merapat di
pantai Spanyol, dengan membawa misi untuk menyebarkan dakwah Islam. Sayang,
Raja Roderick dan pasukannya menolak, dan bahkan mengobarkan peperangan.
Peperangan itu sebenarnya bermula dari pertikaian antara sesama Kristen
Spanyol. Raja Roderick yang berkuasa saat itu, memaksakan keyakinan Trinitas
Kristen yang dianutnya kepada umat Nasrani Aria.
Berbeda dengan para
pendukung Roderick yang meyakini Nabi Isa sebagai Yesus, yaitu Allah Bapak,
Anak Tuhan, dan Ruh Kudus, kaum Nasrani Aria meyakini Nabi Isa semata sebagai
utusan Allah. Pemaksaan keyakinan Trinitas oleh Raja Roderick ini menimbulkan
penindasan di kalangan Nasrani Aria. Lantas, pimpinan mereka meminta bantuan
kepada Pasukan Thariq bin Ziyad yang memang sudah merapat di Spanyol dalam misi
dakwah dari khalifah.
Panglima Thariq
menerima permintaan pemimpin Nasrani Aria. Itu sebabnya, dalam sebuah pidatonya
sesaat sebelum melakukan pertempuran dengan pasukan Raja Roderick, Thariq bin
Ziyad memerintahkan pembakaran kapal-kapal yang telah membawa seluruh awak
pasukannya dari Afrika, kecuali beberapa pasukan kecil yang diminta pulang untuk
meminta bantuan kepada khalifah.
Pidato
‘kontroversial’ itu karuan aja membuat pasukannya keheranan. Namun beliau
mengatakan, “Di belakang kita ada lautan luas, di hadapan kita pasukan musuh.
Jadi, kita datang ke sini tidak untuk kembali. Kita hanya punya dua pilihan;
menaklukkan negeri ini dan menetap di sini serta mengembangkan Islam, atau kita
semua binasa (syahid)”.
Peristiwa di tahun
711 M itu mengawali masa-masa Islam di Spanyol. Pasukan Thariq sebenarnya bukan
misi pertama dari kalangan Islam yang menginjakkan kaki di Spanyol. Sebelumnya,
Gubernur Musa Ibnu Nushair telah mengirimkan pasukan yang dikomandani Tharif
bin Malik. Tharif sukses. Kesuksesan itu mendorong Musa mengirim Thariq. Saat
itu, seluruh wilayah Islam masih menyatu di bawah kepemimpinan Khalifah
al-Walid dari Bani Umayah.
Thariq mencatat
sukses. Ia mengalahkan pasukan Raja Roderick di Bakkah. Setelah itu ia maju
untuk merebut kota-kota seperti Cordova, Granada dan Toledo yang saat itu
menjadi ibukota kerajaan Gothik. Ketika merebut Toledo, Thariq diperkuat dengan
5.000 orang tentara tambahan yang dikirim Musa Ibnu Nushair.
Thariq kembali
sukses. Bukit-bukit di pantai tempat pendaratannya lalu dinamai Jabal Thariq,
yang kemudian dikenal dengan sebutan Gibraltar. Musa bahkan ikut menyeberang
untuk memimpin sendiri pasukannya. Ia merebut wilayah Seville dan mengalahkan
Penguasa Gothic, Theodomir. Musa dan Thariq lalu bahu-membahu menguasai seluruh
wilayah Spanyol selatan itu.
Pada 755 Masehi,
Abdurrahman tiba di Spanyol. Abdurrahman ad-Dakhil, demikian orang-orang
menjulukinya. Ia membangun Masjid Cordova, dan menjadi penguasa di Andalusia
dengan gelar Amir. Keturunannya melanjutkan kekuasaan itu sampai 912 Masehi.
Kalangan Kristen sempat mengobarkan perlawanan “untuk mencari kematian” (martyrdom).
Namun penguasa Bani Umayah di Andalusia ini mampu mengatasi tantangan tersebut.
Sekadar kamu tahu,
bahwa peperangan dalam Islam adalah untuk menghidupkan manusia bukan untuk
memusnahkan. Itu sebabnya, ketika kaum muslimin menang perang dan menguasai
wilayah tidak bertujuan menjajahnya. Berbeda dengan ideologi Kapitalisme yang
memang tujuan mereka berperang adalah untuk menguasai wilayah dan menjajahnya
(baca: menguras seluruh potensi wilayah itu untuk kepentingan bangsanya).
Sejarawan Barat beraliran
konservatif, W. Montgomery Watt dalam bukunya Sejarah Islam di Spanyol,
mencoba meluruskan persepsi keliru para orientalis Barat yang menilai umat
Islam sebagai yang suka berperang. Menurutnya, “Mereka (para orientalis)
umumnya mengalami mispersepsi dalam memahami jihad umat Islam. Seolah-olah
seorang muslim hanya memberi dua tawaran bagi musuhnya, yaitu antara Islam dan
pedang. Padahal, bagi pemeluk agama lain, termasuk ahli kitab, mereka bisa saja
tidak masuk Islam meski tetap dilindungi oleh suatu pemerintahan Islam.” Hmm..
perlu dicatet tuh.
Itulah yang terjadi
sepanjang perjalanan sejarah masuknya Islam ke Spanyol. Islam, tak hanya masuk
dengan damai, namun dengan cepat menyebar dan membangun peradaban tinggi hingga
Spanyol mencapai puncak kejayaannya. Kota-kota terkemuka Spanyol seperti
Andalusia dan Cordova, menjadi center of excellent peradaban dunia.
Keren nggak?
Berkembangnya iptek
Montgomery
menganalisa tentang rahasia kemajuan peradaban Islam, ia mengatakan bahwa Islam
nggak mengenal pemisahan yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika, dan ajaran
agama. Satu dengan yang lain, dijalankan dalam satu tarikan nafas. Pengamalan
syariat Islam, sama pentingnya dan memiliki prioritas yang sama dengan
riset-riset ilmiah.
Nggak mengherankan
tentunya jika para ulama terkemuka seperti Ibnu Rusyd (1126-1198) misalnya,
yang terkenal di Barat dengan nama Averous, diakui pula sebagai ilmuwan yang
handal di bidangnya. Ibnu Rusyd adalah filosof, dokter, dan ahli fikih
Andalusia. Bukunya yang terpenting dalam bidang kedokteran ialah al-Kulliyat
yang berisi kajian ilmiah pertama kali mengenai tugas jaringan-jaringan dalam
kelopak mata. Bukunya dalam bidang fikih adalah Bidayatul Mujtahid.
Spanyol juga punya
az-Zahrawi yang dikenal sebagai orang pertama yang memperkenalkan teknik
pembedahan manusia. Az-Zahrawi yang lahir dekat Cordova pada 936 Masehi,
dikenal pula sebagai penyusun ensiklopedi pembedahan yang karya ilmiahnya itu
dijadikan referensi dasar bedah kedokteran selama ratusan tahun. Sejumlah
universitas, termasuk di Barat, menjadikannya acuan.
Kontribusi ilmuwan
Islam di bidang astronomi nggak kalah seru. Adalah az-Zarkalli, astronom muslim
kelahiran Cordova yang pertama kali memperkenalkan astrolobe. Yaitu suatu
instrumen yang digunakan untuk mengukur jarak sebuah bintang dari horison bumi.
Penemuan ini menjadi revolusioner karena sangat membantu navigasi laut. Dengan
begitu, transportasi pelayaran berkembang pesat selepas penemuan astrolobe.
Jadi jelas, ilmu
pengetahuan, bukanlah bagian yang terpisahkan dari syariat Islam dan etika
moral. Menurut Montgomery, nggak ada yang dapat melukiskan relasi antara ilmu
pengetahuan, etika, dan agama daripada kata-kata filosofis Ibnu Rusyd:
“Filsafat, tak berarti apa-apa jika tak bisa menghubungkan ilmu pengetahuan, agama
dan etika dalam suatu relasi harmonis.”
Ibnu Rusyd pernah
mengatakan, bahwa ilmu pengetahuan dibangun di atas fakta-fakta dan logika
hingga sampe kepada suatu penjelasan rasional. Etika, merefleksikan manfaat
setiap riset ilmiah, sehingga harus bisa memberi nilai tambah bagi kehidupan.
Sedangkan firman Allah, yakni al-Quran, menjadi satu-satunya pembimbing kita
untuk sampai pada tujuan hakiki dari hidup ini.
Itu sebabnya
barangkali, W.E. Hocking berkomentar, “Oleh karena itu, saya merasa benar dalam
penegasan saya, bahwa al-Quran mengandung banyak prinsip yang dibutuhkan untuk
pertumbuhannya sendiri. Sesunguhnya dapat dikatakan, bahwa hingga pertengahan
abad ke tigabelas, Islamlah pembawa segala apa yang tumbuh yang dapat
dibanggakan oleh dunia Barat.” (The Spirit of World Politics, 1932, hlm. 461)
Menurut Montgomery,
cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh
proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi
‘dinamo’nya, Barat bukanlah apa-apa. Wajar jika Barat berhutang budi pada
Islam.
Benteng terakhir itu bernama Granada
Sayangnya, masa
pencerahan bagi seluruh dunia ini kemudian dikotori oleh para pemimpin Eropa
yang bersepakat meninggalkan agama dalam segala aspek kehidupan dan mengembangkan
dengan apa yang kemudian dikenal sebagai sekularisme. Akibatnya, keagungan
peradaban Islam yang dibangun di Spanyol, berakhir dengan tragis. Yaitu saat
penguasa kafir Eropa menghancurkan semua karya pemikiran para ilmuwan muslim.
Tak hanya karya-karyanya yang dimusnahkan, para ilmuwannya pun disingkirkan.
Ibnu Massarah
diasingkan, Ibnu Hazm diusir dari tempat tinggalnya di Majorca. Kitab-kitab
karya Imam al-Ghazaly dibakar, ribuan buku dan naskah koleksi perpustakaan umum
al-Ahkam II dihanyutkan ke sungai, Ibnu Tufayl dan Ibnu Rusyd disingkirkan.
Nasib yang sama, dialami juga oleh Ibnu Arabi.
Kebijakan ‘bumi
hangus’ itu menyebabkan sulit merekontruksi perjalanan sejarah Islam di Eropa.
Namun demikian, keberadaan Granada, Cordova, Sevilla, dan Andalusia sebagai
bukti keagungan peradaban Islam di Spanyol tak bisa dipungkiri. Meski akhirnya
sirna juga dihancurkan Pasukan Salib Eropa.
Oya, petaka Perang
Salib juga telah membuat kita kehilangan perpustakaan-perpustakaan paling
berharga yang ada di Tripoli, Maarrah, al-Quds, Ghazzah, Asqalan, dan kota-kota
lainnya yang dihancurkan mereka. Salah seorang sejarawan menaksir, buku-buku
yang dimusnahkan tentara Salib Eropa di Tripoli sebanyak tiga juta buah.
Pendudukan Spanyol
atas Andalusia juga telah membuat kita kehilangan perpustakaan-perpustakaan
besar yang diceritakan sejarah dengan mencengangkan. Semua buku dibakar oleh
pemeluk-pemeluk agama yang fanatik. Bahkan buku-buku yang dibakar dalam sehari
di lapangan Granada menurut taksiran sebagian sejarawan berjumlah satu juta
buku. (Dr. Mustafa as-Siba’i, Peradaban Islam; Dulu, Kini dan Esok, hlm.
187)
Granada tinggal
kenangan, sejak berkecamuknya Perang Salib. Tepat pada 2 Januari 1492, Sultan
Islam di Granada, Abu Abdullah, untuk terakhir kalinya terlihat di Istana
al-Hamra. Granada jatuh ke tangan kaum kafir Eropa. Semua merasa kehilangan
(apalagi kalo kita mengenal Spanyol sebatas klub sepakbola Real Madrid atau
Barcelona. Menyedihkan!).
Sekadar tahu aja
bahwa Granada, kota yang terletak di selatan kota Madrid, ibukota Spanyol
sekarang, adalah salah satu pusat ilmu pengetahuan Islam yang agung dan
tergolong dalam kawasan lainnya yang tak kalah menarik dan bersejarah setelah
Andalusia, Cordova, Balansiah, Bahrit, Ichiliah, Tolaitalah dan yang lainnya.
Granada juga masyhur sebagai kiblat yang menjadi tumpuan harapan para pelajar
yang datang dari segenap kawasan yang berada di sekitar Granada, baik kaum
muslimin maupun nonMuslim. Pusat pengkajian yang masyhur di Granada adalah
al-Yusufiah dan an-Nashriyyah.
Di sini, juga telah
melahirkan banyak ilmuwan muslim yang terkenal. Di antaranya Abu al-Qasim
al-Majrithi sebagai pencetus kebangkitan ilmu astronomi Andalusia pada tahun
398 Hijriah atau sekitar tahun 1008 Masehi. Beliau telah memberikan dasar bagi
salah satu pusat pengkajian ilmu matematika yang masyhur. Selain beliau,
Granada juga masih memiliki sejumlah ilmuwan dan ulama terkenal, di antaranya
adalah al-Imam as-Syatibi, Lisanuddin al-Khatib, as-Sarqasti, Ibnu Zamrak,
Muhammad Ibnu ar-Riqah, Abu Yahya Ibnu Ridwan, Abu Abdullah al-Fahham, Ibnu
as-Sarah, Yahya Ibnu al-Huzail at-Tajiibi, as-Shaqurmi dan Ibnu Zuhri. Di
kalangan perempuan tercatat nama-nama seperti Hafsah binti al-Haj, Hamdunah
binti Ziad dan saudaranya, Zainab.
Amat wajar dong kalo
ilmuwan sekelas Emmanuel Deutch berkomentar, “Semua ini memberi kesempatan bagi
kami (bangsa Barat) untuk mencapai kebangkitan (renaissance) dalam ilmu
pengetahuan modern. Oleh karena itu, sewajarnyalah jika kami selalu mencucurkan
airmata manakala kami teringat saat-saat terakhir jatuhnya Granada.” (M.
Hashem, Kekaguman Dunia Terhadap Islam, hlm. 100)
Granada adalah
benteng terakhir kaum muslimin di Andalusia (Spanyol) yang jatuh ke tangan
bangsa Eropa yang kafir. Semoga Islam kembali memimpin dunia. Mencerahkan dan
menjadi “rahmatan lil ‘alamin”. Yup, Islam yang memberikan masa depan dunia
dengan lebih cerah. Jadi, yuk berjuang untuk membela Islam dan menegakkannya
dalam naungan Khilafah Islamiyyah. Tunggu apalagi sobat? Ayo, berjuang sekarang
juga! [solihin: sholihin@gmx.net]