STUDIA
Edisi 283/Tahun ke-7 (6 Maret 2006)
Bagi sebagian kita,
tanggal 3 Maret mungkin nggak ada bedanya ama tanggal-tanggal yang laen. Nggak
lebih istimewa dari tanggal 1 Januari atau 14 Pebruari yang yang dinanti jutaan
penduduk bumi untuk berpesta-pora. Padahal 82 tahun lalu, tanggal 3 Maret
merupakan detik-detik sakaratul maut kaum Muslim sedunia saat akan kehilangan
pengayom, pelindung, penjaga, dan pelayan mereka.
Yup, di tanggal itu
pemersatu kaum Muslimin di seluruh dunia berhasil dihapuskan dari muka bumi
oleh seorang Mustafa Kemal at-Turk yang didukung penuh oleh Inggris. Akibatnya
cukup fatal. Kaum Muslim nggak punya pemimpin yang satu sehingga dengan mudah
terzhalimi dan terpecah belah dalam sekat-sekat nasionalisme.
Padahal dulu, di
bawah payung Kekhilafahan, Islam mampu menjamin keamanan dunia, menyatukan umat
manusia, menciptakan kemajuan ekonomi, menjamin kesehatan masyarakat,
melahirkan para ilmuwan legendaris, dan menebar rahmat ke seluruh alam selama
hampir 14 abad. Yang jadi pertanyaan, kenapa eh kenapa.. khilafah bisa kalah?
Runtuhnya kekhilafahan Islam terakhir
Pada perang Dunia I
(1914 M), Inggris berhasil menduduki Istambul, Turki. Seorang agen Inggris
keturunan Yahudi Dunamah dari Salonika, Mustafa Kemal Pasha, ditugaskan untuk
menjalankan agenda Inggris di Turki sebagaimana tercantum dalam “pernyataan
Curzon”, yaitu: penghapusan Khilafah secara total, pengusiran khalifah sampai
keluar batas-batas negara, penyitaan kekayaan khalifah, dan pernyataan sekularisasi
negara. Pernyatan ini merupakan syarat yang harus dipenuhi Turki untuk
mendapatkan kemerdekaannya dari Inggris.
Untungnya mayoritas
anggota Majelis Nasional Turki yang berpusat di Ankara dengan tegas menentang
apa yang tercantum dalam pernyataan Curzon. Sialnya, konco-konco Kemal berhasil
menghasut anggota Majelis yang tengah merumuskan pemerintahan baru sehingga
berujung permintaan bantuan kepada Mustafa Kemal untuk membentuk pemerintahan
baru. Dalam kesempatan ini, Kemal me-launching
rencananya untuk merubah pemerintahan Turki menjadi negara republik sekuler.
Para anggota Majelis Nasional yang tidak setuju dengan rencananya diancam akan
dibunuh dan dihukum gantung.
Akhirnya Majelis Raya
Nasional menggelar sidang pada tanggal 01 Maret 1924 selama tiga hari untuk
mensikapi adanya dualisme pemerintahan di Ankara dan Istambul. Terjadi
perdebatan alot dan sengit karena Mustafa Kemal sebagai pimpinan majelis
terang-terangan hendak menghapus kekhilafahan Islam yang dipimpin Khalifah
Abdul Majid II di Istambul.
Dan tepat pada pagi
hari tanggal 03 Maret 1924, Majelis Nasional mengumumkan telah menyetujui
penghapusan khilafah dan pemisahan agama dari urusan-urusan negara. Malamnya,
Khalifah Abdul Majid II diusir dari rumah kediamannya atas perintah Mustafa Kemal.
Khalifah dipaksa masuk mobil dan dibawa melintasi perbatasan negara menuju
Swiss. Kemudian diturunkan dengan dibekali satu kopor berisi beberapa potong
pakaian dan sejumlah uang.
Dengan demikian,
Mustafa Kemal telah berhasil memenuhi persyaratan Curzon, Menteri Luar Negeri
Inggris saat itu, untuk mendapatkan pengakuan atas kemerdekaan Turki. Di Gedung
Parlemen Inggris, Curzon menyatakan, “...Turki telah dihancurkan dan tidak
akan pernah bangkit lagi, karena kita telah menghancurkan kekuatan spiritual mereka,
yaitu Khilafah dan Islam...”
Setelah berhasil
menduduki singgasana kekuasaan Turki, Musthafa Kemal makin arogan. Ia melarang
penggunaan peci dan sorban yang digantinya dengan topi ala Barat. Ia melarang
penulisan dengan huruf Arab dan memerintahkan penulisan dengan huruf latin. Ia
melarang kaum wanita mengenakan busana muslimah. Malah memerintahkan untuk
mengumbar aurat dan bergaul bebas dengan lawan jenis. Ia membubarkan
sekolah-sekolah agama dan menghapuskan pelajaran agama di sekolah. Bahkan ia mewajibkan
para muazin mengumandangkan Azan dalam bahasa Turki.
Lucunya, banyak kaum
Muslim yang tertipu dengan sosok yang satu ini. Dalam pelajaran Sejarah yang
diajarkan di sekolah, julukan tokoh Pembaharu Turki yang bergelar Ataturk (Bapak
Turki) membawanya sejajar dengan para pahlawan mulia pejuang kemerdekaan.
Padahal jelas banget dia yang memusuhi dan menghancurkan kekhilafahan Islam
serta memaksa umat Islam hidup dengan aturan sekuler Barat. Makanya kita kudu
hati-hati dengan manipulasi sejarah. Betul?
Khilafah Islamiyah, kudu ada!
Sobat, saat ini
setiap hari mata dan kuping kita diempanin berita-berita seputar keadaan kaum
Muslimin di seluruh dunia. Baik di Timur tengah, Eropa, Asia, Afrika,
Australia, hingga dalam negeri sendiri. Dari sekian banyak berita yang mampir
di telinga kita, sedikit banget kabar baik yang kita terima kalo nggak dibilang
nol. Yup, hampir di seluruh dunia keadaan kaum Muslimin terpuruk sampe level
mengenaskan.
Di Timur tengah,
kemenangan HAMAS dalam pemilu tak menghentikan agresor Israel dalam menumpahkan
darah sodara-sodara kita di Palestina. Seperti yang terjadi pada ahad (26/2)
kemaren ketika militer zionis memaksa
muslimah melepas jilbab dan menembak 2 Muslim Palestina yang berusaha menolong
muslimah itu (Eramuslim, 27/02/06).
Di Eropa, ajaran
Islam dan kaum Muslimin menjadi bulan-bulanan ekspresi kebencian musuh-musuh
Islam. Seperti yang pernah terjadi di Perancis saat pemerintahan Jacques Chirac
melarang muslimah menggunakan jilbab di tempat-tempat umum. Atau pemuatan kartun
yang melecehkan Nabi Muhammad saw oleh surat kabar Denmark Jylland Posten yang
memicu kemarahan kaum Muslim sedunia.
Di kawasan Asia,
pemerintahan Karimov tak henti-hentinya membekap suara-suara lantang dari para
pejuang Islam Uzbekistan yang membongkar kezhaliman pemerintahannya. Hingga
terjadi tragedi dalam aksi damai di Andijan (13/05/05) yang memakan korban
tewas sekitar 500 warga muslim dan 2000 lainnya terluka akibat penembakan
brutal aparat keamanan Karimov terhadap pengunjuk rasa.
Di Afrika, dengan
status minoritas yang disandang kaum Muslim, diskriminasi kerap menghampiri
mereka. Seperti yang terjadi di Afrika selatan dalam kasus pemecatan seorang
Muslimah dari tempatnya bekerja karena mengenakan jilbab. (Eramuslim,
26/07/05).
Di Australia, diskriminasi
terhadap kaum Muslim menjadi bagian dari perilaku pemerintahan John Howward.
Menteri Keuangan Negara Australia, Petter Costello menyatakan, warga Muslim
yang tidak menghormati hukum dan anti sekularisme, dipersilahkan untuk
meninggalkan Australia. (Eramuslim, 25/08/05).
Di dalam negeri,
kebijakan-kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat berhamburan. Ada kenaikan
BBM sampe dua kali di tahun 2005 yang otomatis diikuti dengan kenaikan Tarif
Dasar Listrik, Telepon, hingga harga-harga kebutuhan pokok. Sampe kehadiran
nenek moyang media porno, Majalah Playboy yang pengen buka cabang di negeri
berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini.
Permasalahan yang
menimpa umat Islam sedunia seperti yang dipaparkan di atas, berawal ketika kaum
Muslim kehilangan institusi Khilafah Islamiyah yang menyelamatkan kehidupan
umat manusia. Kini saatnya kita ngeh kalo keberadaan Khilafah Islamiyah penting
banget nggak cuma bagi umat Islam, tapi untuk seluruh dunia. Catet tuh!
Aturan Islam antidiskriminasi
Geliat kaum Muslim
yang merindukan kehadiran Khilafah boleh jadi merupakan sebuah mimpi buruk yang
menghantui musuh-musuh Islam. Pasalnya, mereka parno (baca: paranoid) banget
dengan aturan Islam yang dianggapnya hanya menguntungkan kaum Muslim dan
mengancam kehidupan warga non Muslim. Padahal,
sejarah justru menghadirkan fakta yang sebaliknya.
Orang-orang
non-Muslim yang hidup dalam Daulah Islamiyah alias kafir dzimmi, punya hak yang
sama dengan kaum Muslim. Harta dan darah mereka terjaga sama seperti kaum
Muslim. Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang membunuh kafir mu’ahad
(yang mengadakan perjanjian dengan Daulah Islamiyah, red.), dia tidak akan
mencium wangi surga, padahal sesungguhnya wangi surga itu sudah bisa tercium
dari jarak perjalanan 40 tahun.” (HR al-Bukhari).
Nggak ada dalam
kamusnya orang non-Muslim dipaksa untuk masuk Islam. Apalagi sampe memberangus
tempat ibadah mereka. Nggak ada tuh. Yang ada justru Islam melindungi mereka
selama mereka akur-akur aja hidup berdampingan dengan kaum Muslim. Kafir dzimmi
selain wanita, anak kecil, orang miskin, lemah, dan membutuhkan sedekah, hanya
diwajibkan sekadar membayar jizyah saja. Mereka tidak dipungut
biaya-biaya lain, kecuali jika hal itu merupakan syarat yang disebut dalam
perjanjian. (an-Nabhani, asy-Syakshiyyah al-Islâmiyyah, II/237).
Pada waktu Umar bin
al-Khaththab menjadi khalifah, beliau mendapatkan seorang musyrik tua yang
mengemis karena kemiskinannya. Beliau lalu berkata, “Celakalah kita. Kita telah
menarik jizyah darinya sewaktu muda. Lalu apakah kita akan
menelantarkannya ketika tua?” Umar lalu memerintahkan bawahannya agar
memberikan santunan dari Baitul Mal secara teratur kepada orang tersebut dan
membebaskannya dari membayar jizyah.
Islam is the only solution
Sobat, sejak
keruntuhan Khilafah dan dijauhkannya aturan Islam dalam kehidupan, otomatis
aturan Kapitalisme-Sekulerisme yang dibawa penjajah Barat serta merta mengambil
alih. Liberalisasi ekonomi yang diusung IMF telah menjajah negeri-negeri
Muslim. Sistem pemerintahan Demokrasi hanya melahirkan kebijakan-kebijakan yang
memusuhi rakyat. Dan gaya hidup Barat yang bebas cuma bikin puyeng masyarakat
aja dengan makin lestarinya masalah-masalah sosial dan dekadensi moral di
tengah mereka.
Akhirnya, hidup dalam
aturan Kapitalisme emang bikin bete. Kemiskinan yang melahirkan dorongan orang
berbuat nekat kian merakyat. Kriminalitas dijadikan jalan pintas untuk meraih
materi. Pendidikan hanya menjadi klub elit bagi yang berduit. Layanan kesehatan
berjalan mulus bin lancar bagi yang berkantong tebal. Belum lagi ongkos untuk
bisa tetep hidup layak yang kian meninggi. Masa’ mau hidup kaya gini terus?
Tentu nggak dong.
Makanya kita wajib nyadar kalo aturan hidup selain Islam nggak akan pernah
bikin tentram. Mau kapitalisme, sekulerisme, sosialisme, atau komunisme,
semuanya cuma bikin rakyat tambah melarat.
Firman Allah Swt.:“Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu, Maka
Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya
pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thahaa [20]: 124)
Itu sebabnya, cuma
satu pilihan untuk memperbaiki kehidupan kita, back to Islamic Ideology.
Yup, saatnya kita memperjuangkan kembali tegaknya pemerintahan Islam yang akan
beresin semua permasalahan hidup kita dan umat manusia di seluruh dunia dengan
aturan Islam yang mulia. Mari kita sama-sama ambil bagian dalam barisan
perjuangan menegakkan kembali Khilafah Islamiyah ‘ala minhajin nubuwah.
Bukan karena fanatisme golongan atau kelompok dakwah. Tapi semata-mata untuk
memuliakan dan menjaga ajaran Allah Swt. Saatnya Khilafah memimpin dunia dan
mengalahkan dominasi seluruh ideologi kufur yang ada di dunia ini. Yuuuk?! [Hafidz:
hafidz341@telkom.net]