STUDIA Edisi 282/Tahun ke-7 (27 Februari 2006)
Ya, jangan bilang cinta kalo kita masih setengah hati mencintai.
Jangan pernah ucapkan kata cinta jika kita masih tak bisa memberikan
pengorbanan terbesar dalam hidup kita demi yang kita cintai. Jangan sampe
keluar kata cinta jika kita tak berani membela yang kita cintai. Sebab, cinta
bukan hanya ucapan yang manis di bibir, bukan kata yang kedengarannya indah di
telinga, dan bukan pula tulisan yang membuat kita merasa bahagia. Bukan hanya itu.
Karena cinta harus diwujudkan dalam perilaku. ‘Kalimah sakti’ itu harus
tercermin dalam perbuatan dan pikiran. Sekali berani bilang cinta, maka
seharusnya kita akan berani berkorban, berani membela, berani bertanggung jawab
terhadap apa yang kita cintai.
Sobat muda muslim, tolong jangan menggombal atas nama cinta.
Jangan pula pura-pura jadi orang yang penuh cinta dengan menipu diri karena
sejatinya kita belum sepenuhnya mencintai apa yang kita cintai. Cinta itu bukan
main-main, cinta adalah wujud dari keseriusan kita bahwa kita akan berusaha
melakukan apa saja demi yang kita cintai. Kalo kita mengecewakan yang kita
cintai, tentunya cinta kita palsu. Kalo kita mengkhianati apa yang kita cintai,
tentunya bukan cinta sejati. Sebab, jika benar-benar cinta kepada apa yang kita
cintai, kita nggak bakalan mengecewakan apalagi mengkhianatinya. Tul nggak sih?
Jangan bilang cinta kepada Allah, jika…
Jika kita masih melanggar aturanNya. Sungguh sangat aneh jika kita
berani mengatakan cinta kepada Allah, sementara kita doyan alias hobi banget
menolak perintahNya, sementara laranganNya malah kita lakukan. Pastinya ada
yang error alias tulalit kalo kita bilang: “Aku cinta kepada Allah
Swt.”, tapi dalam kelakuan kita nggak mencerminkan kecintaan kita kepadaNya.
Misalnya nih, meski sholat rajin dan puasa rajin, tapi perintah
Allah Swt. yang lainnya seperti menutup aurat kalo keluar rumah nggak kita
lakukan. Anak cewek yang tertutup rapat dengan kain mukena ketika sholat,
seharusnya menutup rapat auratnya pula ketika keluar rumah. Seringnya kan nggak
ya. Rapi pada saat sholat, begitu keluar rumah malah tampil mengumbar aurat. Ke
sekolah nggak pake kerudung dan pakaian jilbab (pakaian terusan—buat anak SMA
sebenarnya bisa disambung pakaian atas putih dan bawah abu-abu). Sebaliknya,
malah pake rok. Meski rok itu menutupi lutut, tapi kan nggak disebut pakaian
muslimah. Padahal, Allah memerintahkan lho untuk mengenakan busana muslimah
buat wanita, sebagaimana dalam firmanNya: “Hai Nabi katakanlah kepada
isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin:
“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”.. Yang
demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak
diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.”(QS
al-Ahzab [33]: 59)
Yup, kita coba ngasih penjelasan. Begini sobat, jilbab bermakna milhâfah
(baju kurung atau semacam abaya yang longgar dan tidak tipis), kain
(kisâ’) apa saja yang dapat menutupi, atau pakaian (tsawb) yang
dapat menutupi seluruh bagian tubuh. Di dalam kamus al-Muhîth dinyatakan
demikian: Jilbab itu laksana sirdâb (terowongan) atau sinmâr (lorong),
yakni baju atau pakaian yang longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain
apa saja yang dapat menutupi pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung.
Nah, kalo mau pengen tahu penjelasan tambahannya, ada juga
keterangan dalam kamus ash-Shahhâh, al-Jawhârî menyatakan: Jilbab
adalah kain panjang dan longgar (milhâfah) yang sering disebut mulâ’ah
(baju kurung).
Nah, kapan mengenakan jilbab? Yang pasti kalo seorang muslimah
pergi keluar rumah. Atau kalo pun di dalam rumah, saat ada tamu asing (bukan
mahrom—tentu laki-laki). Sebab memang tujuannya juga adalah untuk menutup
auratnya. Oya, untuk bisa disebut mengenakan busana muslimah, maka seorang
muslimah harus mengenakan jilbab lengkap dengan kerudungnya. Begitu deh, secara
singkatnya.
Bagi anak laki juga sama. Kalo keluar rumah atau kalo di dalam
rumah tapi ada wanita bukan mahrom nggak boleh tuh dipamerin dengkulmu dan
udelmu. Karena aurat laki-laki tuh dari pusar sampe lutut. Wah, kayaknya udah
pada paham deh. Soalnya nih pernah kita pelajari waktu SD dulu. Tul nggak? Ini
sekadar ngingetin aja, gitu lho.
Oya, itu baru kita bahas kewajiban menutup aurat, sementara
kewajiban yang dibebankan oleh Allah kepada kita banyak banget. Sebut saja
tentang sholat, puasa, zakat, pengaturan kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan,
budaya, politik, hukum, sampe pemerintahan. Itu baru pokok-pokoknya, belum
cabangnya dari situ. Wah, kalo ditulis bisa ngabisin jatah halaman di buletin
ini. But, intinya nih, jangan bilang cinta kepada Allah kalo kita doyan
menolak kewajiban yang diperintahkanNya, malah berani mengamalkan apa yang
diharamkanNya.
Jangan bilang cinta kepada Rasulullah saw....
Jika kita masih melanggar aturan yang ditetapkan Rasulullah saw.
Sebab, apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw. sejatinya adalah wahyu dari
Allah Swt. Ditegaskan oleh Allah Swt. dalam firmanNya: “...kawanmu
(Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya
itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah
wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS an-Najm [53]: 2-4)
Kalo kita masih mengumbar hawa nafsu dengan melakukan aktivitas
pacaran, berarti selain melanggar aturan Allah Swt., juga melanggar aturan
Rasulullah saw. Dan, tentu aja itu nggak mencintai Allah Swt. dan RasulNya.
Allah menjelaskan larangan mendekati zina (lihat QS al-Isra ayat 32). Nah,
hadis Nabi juga ada. Beliau saw. bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada
Allah dan Hari Akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita
yang tidak disertai mahromnya. Karena sesungguhnya yang ketiga adalah syaitan.”
(HR Ahmad)
Sobat, jangan bilang cinta kepada Rasulullah saw., kalo kita nggak
tersinggung ketika ada pihak-pihak yang dengan sengaja melecehkan Rasulullah
saw. Aneh banget kan kalo kita ngakunya cinta mati sama Rasulullah saw., tapi
kita nggak marah ketika ada orang yang menjelekkan Rasulullah saw.
Seperti kasus pelcehan terhadap Rasulullah saw. yang dilakukan
media-media Eropa dalam bentuk kartun yang salah satunya menggambarkan bahwa
Muhammad saw. sumber inspirasi kekerasan. Gambarnya adalah sosok lelaki dengan
tampang garang dan sorbannya berbentuk bom. Ditulisin di situ dengan jelas
dalam bahasa Arab kalimat Muhammad saw. Waduh, kaum Muslimin marah dengan
protes baik secara lisan maupun tulisan justru wajar. Karena cintanya kepada
Rasulullah saw. Yang parah tuh kalo kita diem aja, terus pura-pura bijak dengan
mengatakan bahwa kartun itu sebagai bentuk evaluasi buat umat Islam. Nggak
marah apalagi protes. Aneh banget kan? Macam mana pula tuh orang? Ngakunya sih
Muslim. Tokoh intelektual pula di di negeri ini. Sadar Pak!
Jangan bilang cinta kepada Rasulullah saw. jika hanya mengambil
sebagian ajarannya dan meninggalkan sebagian besar ajarannya yang lain. Kalo
kita cinta kepada Rasulullah saw. berarti harus mengambil seluruh yang
dibawanya. Bukan dipilih-pilih sesuai kehendak hawa nafsu kita. Karena Allah
Swt. memerintahkan kita untuk mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah saw.
sebagaimana firmanNya:“Apa yang datang (diajarkan) Rasul kepadamu, maka
terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS
al-Haysr [59]: 7)
Oke, boleh bilang cinta kepada Rasulullah saw., asalkan kita berani
pula untuk menaati segala perintahnya dan meninggalkan segala larangannya.
Bohong besar banget kalo kita ngaku-ngaku cinta sama Rasulullah saw. tapi nggak
pernah melaksanakan tuntunan ajarannya. Betul ndak?
Jangan bilang cinta sama ortu...
Jika kita masih suka melawannya, mencelanya, merendahkannya, dan
bahkan menghinanya. Bohong banget kalo kita ngaku-ngaku cinta sama ortu kita,
tapi setiap ortu minta tolong untuk kebaikan kita malah menolaknya. Percuma
bilang cinta sama ortu, tapi kalo diingetin untuk kebaikan dan kebenaran kita
malah menghardiknya. Anak macam apa itu?
Buktikan kecintaan kita kepada ortu kita adalah dengan berbakti
kepadanya. Menghormati mereka, menghargai mereka, menolong mereka, dan membuat
mereka bahagia dengan adanya kita. Keberadaan kita yang udah dilahirkan ini
bukan menjadi beban mereka. Kasihan ibu kita, sejak mengandung kita, melahirkan
kita, merawat dan membesarkan kita, ia tak pernah mengeluh. Ayah kita juga
sama. Mencari nafkah dengan semangat untuk keluarganya.
Cinta mereka sepenuh hati buat kita. Sudah terbukti kok. Karena
sampe sekarang aja, meski kita bandel, ibu dan ayah kita tetap mendoakan agar
kita mendapat petunjuk sambil terus membimbing kita (meski kadang menurut kita
terlihat seperti orang yang cerewet). Tuh, gimana nggak penuh cinta. Jadi,
kitanya sendiri nih yang kudu membuktikan bahwa kita cinta kepada ibu dan ayah
kita dengan cara berbakti kepadanya. Itu sebabnya, jangan bilang cinta kalo
kita tak menghargainya, tak berbakti kepada mereka. Oke?
Jangan bilang cinta kepada kaum Muslimin...
Jika kita nggak mau bekerjasama saling mengingatkan dalam
kebenaran dan saling membantu jika di antara kita mengalami kesusahan. Bohong
banget ngaku-ngaku cinta kepada sesama kaum Muslimin, tapi ketika ada saudara
seakidah kita minta tolong malah dicuekkin. Apalagi sesama aktivis dakwah,
mentang-mentang beda kelompok dakwah, lalu nggak mau menolong jika beda
kelompok dakwah. Lebih parah lagi jika para aktivis dakwah itu masih sodara
kandung. Karena kakaknya beda kelompok dakwah dengan adiknya, lalu ketika
mereka membutuhkan pertolongan malah disuruh minta ke temen-temen dari kelompok
dakwah masing-masing. Yee.. mana ukhuwahmu? Bohong banget ngaku-ngaku cinta
sesama Muslim tapi dengan sesama kaum Muslimin sendiri nggak mau menolong hanya
karena yang akan ditolong beda kelompok dakwah. Kalo gitu caranya, jangan
bilang cinta kepada kaum Muslimin. Sadar ye akhi wa ukhti...
Jangan bilang cinta kepada diri sendiri...
Jika kita senang menjerumuskan diri dalam bahaya dan kerusakan.
Bohong banget bilang cinta ama diri sendiri, tapi setiap hari kita nenggak
minuman keras, sering juga mengkonsumsi narkoba, tubuh kita dipenuhi tattoo.
Bahkan banyak di antara kita yang mengumbar auratnya dan dipajang di sampul
majalah porno atau joget-joget kayak cacing kepanasan mempertontonkan keindahan
tubuhnya di layar televisi (termasuk mereka yang menjerumuskan tubuh-tubuh
mereka dalam perzinahan).
Menurut saya, mereka adalah orang-orang yang nggak cinta pada
dirinya sendiri. Kalo dipikir-pikir, memang sih tubuh kita ya tanggung jawab
kita sepenuhnya. Mau diapakan saja terserah kita. Wong, itu tubuh kita. But,
kita kudu ingat sobat. Bahwa tubuh kita bukan milik kita. Tubuh kita sejatinya
milik Allah Swt. Jadi, tuh tubuh kudu kita pelihara dan dijaga sesuai aturan
dari yang menciptakan kita, yakni Allah Swt.
Itu sebabnya, ada larangan bunuh diri, larangan mengkonsumsi
narkoba, larangan mentato badan, larangan mempertontonkan aurat di muka umum
dll. Iya kan?
Oke deh, moga renungan sederhana ini bisa ngingetin kita untuk
mengevaluasi kehidupan kita: Apa benar kita udah cinta banget sama Allah,
RasulNya, ortu kita, kaum Muslimin, dan cinta kepada diri kita sendiri jika
kita masih berperilaku yang justru menggambarkan bentuk pengkhianatan terhadap
cinta yang kita ikrarkan?
Semoga kita menjadi orang-orang yang benar-benar mencintai Allah
Swt., RasulNya, ortu kita, kaum Muslimin, dan diri kita sendiri. Nah, itu harus
dibuktikan dalam pikiran dan perbuatan sesuai tuntunan ajaran Islam. Oke?
Semangat! [solihin: sholihin@gmx.net]