Buletin's posts with tag: edisi 279
What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
STUDIA Edisi 279/Tahun ke-7 (6 Februari 2006)
Cinta.... kini sudah direkayasa, diotak-atik semanis madu (hei tapi
berbisa)/Cinta... kini sudah jadi dilema, beritanya pun sudah jadi
topik utama...”
Sorry sobat, bukannya kita ngajak kalian berdungdat ria nih. Apalagi
sampe berjoged niruin sang Ratu Dangdut, Camelia Malik, saat
mendendangkan hitsnya bertajuk ‘Rekayasa Cinta’ ini. Nggak kok. Kita
cuma tertarik ama judul ama lirik lagunya itu lho. Pas banget ama
kejadian sehari-hari di tengah kita yang berkaitan dengan cinta. Itu
aja. Ya kalo pun jempol kaki dan tangan agak agak goyang dikit pas
denger musik dungdat, itu kan udah dari sononya. Wacks!
Kita emang kudu akui kalo pasaran cinta kini nggak semurni madu yang
dijual di peternakan lebah. Udah banyak bumbu-bumbu tambahannya alias
rekayasa di sana-sini yang bikin cinta punya rasa bervariasi atau malah
kehilangan rasa aslinya. Karena cinta adalah universal, setiap orang
ngerasa berhak untuk memilikinya, memberikannya kepada orang lain yang
dicintainya; atau memaknainya sesuai persepsi masing-masing. Dengan
kata lain, nggak ada hak paten untuk urusan cinta. Betul?
Kalo udah begini, cinta jadi penuh misteri. Dan tentu bikin penasaran
para pemburu cinta yang berlomba-lomba pengen ngerasain rasa cinta
sejati. Apa semanis gula tebu? Sepahit empedu? Seasin garam batu?
Seasem ketek yang bau? Segurih ingusmu (iyacks!! Jijay banget! Sori
bro!)? atau justeru kombinasi dari semua rasa itu (hmm...yummy!)? Yang
pasti, No body know till he fall in love.... ehm..ehm....
Cinta adalah...
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, cinta secara umum berarti ekspresi
rasa suka kepada lawan jenis tanpa terikat oleh aturan adat atau agama.
Dalam kamus nggak terlalu besar tapi lumayan tebel berbahasa arab,
cinta berarti mahabbah. Ibnu Qayyim menuliskan bahwa sebagian alim
ulama menjelaskan kata al-mahabbah berasal dari al-habbath, yang
artinya air yang meluap karena hujan yang lebat. Dengan kata lain,
istilah al-habbath dapat diartikan sebagai luapan rasa dan gejolak saat
dirundung keinginan bertemu dengan sang kekasih. Dalam kamus para
seniman, cinta adalah inspirasi untuk sebuah lagu, tema cerita, film,
puisi, poem, sajak, pantun, karya tulis, lukisan di atas kanvas, atau
solitude.
Dalam kamus Islam, rasa cinta adalah bagian dari fitrah manusia. Firman
Allah Swt. : Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada
apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang
banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak
dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi
Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS Ali-Imran [3]: 14)
Secara khusus, cinta kepada manusia diibaratkan sifat magnetik yang
menghadirkan daya tarik-menarik antar lawan jenis. Yup, seiring
bertambahnya usia dan hormon yang mematangkan organ-organ reproduksi
kita, rasa cinta mulai mencari tempatnya bermuara.
Tanpa disadari, kita merasakan kebahagiaan (happiness), menyenangkan
(comfort), kepercayaan (trust), persahabatan (friendship), dan kasih
sayang (affection), ketika ada orang yang perhatian lalu menyatakan
perasaan cintanya pada kita.
Perasaan ini merupakan perwujudan dari naluri melestarikan jenis
(Gharizatun Na’u) yang Allah sematkan dalam diri kita sejak lahir.
Sehingga kita termotivasi untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis.
Dari sekadar berteman, jalan bareng, hubungan khusus, hingga mengikat
janji setia dalam bingkai pernikahan. Rasa ini juga yang terlihat dalam
hubungan kasih sayang orang tua kepada anaknya dalam sebuah keluarga,
juga sebaliknya. Semuanya berproses secara alami tanpa rekayasa. Karena
memang cinta itu bukan untuk dipaksakan, tapi dirasakan.
Memburu laba di balik cinta
Di mata para kapitalis alias pemilik modal, cinta merupakan komoditi
bisnis. Apalagi menjelang nongolnya hari kasih sayang sedunia yang
dikenal dengan Valentine’s Day (VD). Jauh-jauh hari mereka udah banting
tulang untuk menggiring opini via media massa agar perhatian
masyarakat, khususnya remaja, tersedot untuk merayakan atau menjadikan
tanggal 14 Februari sebagai moment spesial.
Otomatis, informasi seputar VD yang digeber media massa perlahan tapi
pasti memancing antusias semua pihak untuk ikut hanyut dalam perayaan
VD. VD kadung dimaknai sebagai moment untuk bertukar hadiah, memberikan
bingkisan; atau merayakannya di tempat-tempat spesial. Walhasil, remaja
yang paling keliatan sibuk berburu kado atau hadiah yang romantis bin
melankolis untuk diberikan pada pujaan hati. Atau nyusun rencana
perayaan yang istimewa di tempat yang istimewa dengan seseorang yang
istimewa sambil menyantap makanan istimewa diiringi alunan musik syahdu
yang istimewa. Pokoknya serba istimewa lah.
Ini yang bikin girang para pelaku industri. Cinta berhasil mereka
rekayasa sehingga bisa menyerap penjualan berbagai produk berlabel
cinta yang terpajang memenuhi etalasenya. Ada setangkai bunga mawar
merah, putih, dan merah jambu, boneka Teddy Bear memegang bantalan
berbentuk hati bertuliskan “I Love You”, atau Pernak-pernik Valentine
berupa hadiah sepasang mangkok berukuran kecil. Lihat juga kantong
belanjaan yang membengkak menjelang VD. Ada bola coklat, permen coklat,
atau sepasang boneka cupid yang menjadi simbol kasih sayang. Pokoknya
semua perlengkapan malam valentine udah terabsen dan siap diberikan
pada yang terkasih.
Cinta juga menginspirasi para pengusaha hiburan untuk merekayasa
realita cinta remaja yang dekat dengan keseharian pemirsa.
Eng...ing...eng.... di-launching-lah reality show yang semakin
mengokohkan cinta dipuncak tangga permasalahan hidup remaja. Ada
Harap-harap Cemas, Katakan Cinta, Playboy Kabel dll. Semua sisi kisah
cinta remaja diulik dengan apik bin menarik. Dari mulai pdkt, ungkapan
cinta, pacar selingkuh, kasus temen tapi mesra, hingga ngetes kesetiaan
pasangan. Komplit bo!
Sobat, kiprah para pengusaha yang menjadikan cinta sebagai bagian dari
komoditi bisnis dah hiburan secara tidak langsung mempersempit ruang
gerak cinta. Arti cinta tereduksi sebatas rasa suka kepada lawan jenis
dalam format hubungan pacaran dan ajang baku syahwat. Akibatnya, cinta
mulai dikecengin oleh setan dari segala sisi untuk menjerumuskan
manusia. Gaswat tuh!
Antara cinta dan hawa nafsu
Dalam sebuah syair yang dikutip di bukunya Imam Ibnu Qayyim: “Entah
pesonanya yang memikat, atau akalku yang sedang tidak di tempat.”
Mungkin ini yang bisa menjelaskan kepada kita kenapa orang sering
bilang kalo cinta itu buta. Tak bisa membedakan mana yang baik, buruk,
bermanfaat, atau bikin melarat. Semuanya seolah sah-sah saja dilakukan
atas nama cinta. Pandangan kebebasan dalam mengekspresikan cinta inilah
yang tengah dipopulerkan melalui perayaan VD. Tak sedikit perayaan VD
yang berakhir di arena perzinahan yang dianggapnya sebagai ungkapan
cinta tertinggi yang pantas diberikan pada pasangannya.
Gitu deh, ketika cinta sangat dimuliakan dan diagung-agungkan, godaan
setan menyelinap dalam hati kita. Akibatnya, cinta dan hawa nafsu kian
tak ada jarak. Nafsu syahwat telah memperalat cinta untuk berbuat
maksiat. Kondisi ini sangat mudah ditemui pada orang pacaran.
Ungkapan cinta di awal hubungan, terutama bagi pria, cuman sebatas lips
service untuk menutupi keinginannya menyalurkan hasrat seksual. Nggak
ada yang ngejamin kamu atau pacar kamu bisa jaga diri alias tahan
godaan ketika lagi asyik berduaan. Apalagi di tengah maraknya kampanye
gaul bebas (baca: seks bebas) melalui media massa dan tayangan televisi
yang dijajakan oleh para selebriti. Bisa-bisa cinta suci di antara
mereka berubah status menjadi cinta birahi. Kata Ibnu Qayyim,...bila
keduanya telah merasakan kelezatan dan cita rasa cinta, tidak boleh
tidak akan timbul keinginan lain yang tidak diperoleh sebelumnya.”
Waduh, hati-hati tuh!
‘Merekayasa’ cinta kita
Sobat, kalo kita ngomongin soal cinta, nggak harus langsung nyetel
kepada urusan cowok-cewek yang saling jatuh cinta lho. Itu terlalu
sederhana. Karena cinta itu begitu luas seperti yang udah kita paparkan
diawal pembahasan. Biar kita nggak terjebak dalam jeratan hawa nafsu
dan pemujaan terhadap cinta, ada baiknya kita tempatkan cinta kepada
manusia sebagai bagian dari kecintaan kita kepada Allah swt. Firman
Allah swt yang artinya: Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai
Allah, ikutilah aku (Rasulullah saw), niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS
Ali-Imran [3]: 31)
Dari Anas r.a. ia berkata, telah bersabda Rasulullah saw: “Tidak
beriman seorang hamba hingga aku lebih dicintai daripada keluarganya,
hartanya, dan seluruh manusia yang lainnya.” (Mutafaq alaih)
Nah sobat, sekarang udah jelas dong kalo kita wajib mendahulukan cinta
kita kepada Allah dan RasulNya tanpa harus kehilangan rasa cinta kepada
yang lain. Karena Rasul juga mencontohkan kepada kita cara
mengekspresikan cinta kepada orang tua, keluarga, saudara seakidah,
lawan jenis, atau harta dan kekayaan. Sehingga cinta kita akan
tetap terjaga dari godaan syetan dan mendapat berkah dariNya.
Dan kita boleh saja merekayasa cinta agar kita bisa lebih mencintai
Allah Swt., RasulNya, Islam, dakwahnya, dan umatnya ini. Caranya,
tumbuhkan kecintaan itu dengan berupaya mengenal Islam lebih dalam
dengan membaca buku-buku Islam atau hadir dalam forum-forum pengajian.
Sehingga kita bisa mengevaluasi diri sendiri dan amal perbuatan yang
udah kita kerjain. Dengan begitu kita bisa memahami arti hidup di dunia
ini untuk meraih ridhoNya. Simak juga kisah-kisah para shahabat yang
rela mengorbankan harta, kekayaan, perniagaan, hingga keluarga demi
untuk mendapatkan cintaNya.
Untuk urusan cinta kepada lawan jenis, kita bisa renungkan sepenggal
catatan dari seorang teman berikut:”Ya Rabb, ketika aku jatuh cinta,
ijinkan ia datang pada waktu yang tepat dimana cinta itu akan membuatku
selalu mengingatMu, dan bukan melupakanMu. Ketika aku jatuh cinta,
cintakan hamba pada seseorang yang senantiasa mencintaiMu, dan bisa
membuatku semakin mencintaiMu. Ketika aku jatuh cinta, jagalah hati
hamba, agar cinta itu tidak berbalik menjadi mata pisau tajam yang siap
memporak-porandakan cintaku kepadaMu” (‘Ngomong Dong!, Sobat Muda
16/Tahun II/Februari 2006). So, mari kita rekayasa cinta untuk mendapat
cinta dari Sang Pemilik Cinta. Yuk? Tunggu apalagi? [Hafidz: hafidz341@telkom.net]
| |