STUDIA Edisi 277/Tahun ke-7 (23 Januari 2006)
Its…ladiest time!” demikianlah konsep acara yang diusung TPI dalam
program talent search terbaru mereka, ajang Boyband. Ini
bener-bener acaranya kaum hawa, Bro. Pemandu acaranya cewek, jurinya wanita,
sampe bintang tamunya juga perempuan. Bahkan program siaran langsung berdurasi
120 menit ini cuma boleh dihadiri dan ditonton oleh female doang di area
panggung. Bahkan kabarnya ada pemilihan penonton cewek yang cantik, seksi, dan
heboh pas berlangsungnya ajang Boyband di TPI tersebut. Ada-ada aja.
Padahal para pesertanya jelas-jelas cowok lho. Ini acara nyari bakat apa nyari
tukang pukul sih?! Hehehe...
Setelah melalui audisi yang digelar di Jakarta dan Bandung, Ajang Boyband
yang di-launching 26 November 2005 lalu berhasil mengumpulkan 12
finalis. Lima grup dari Bandung dan tujuh dari Jakarta. “Peserta audisi sendiri
berjumlah 66 grup. Mereka tidak hanya datang dari Jakarta dan Bandung tapi juga
dari Bogor, Makassar, Jember, dan Surabaya,” ungkap Nala Rinaldo, Production
Division Head TPI. (Suara Merdeka, 26/12/05)
Peserta yang lolos hingga babak final adalah BTBoys, Lima, Moderu,
Nouvel dan Solider dari Bandung serta Bgosh, Forte, F2O, JFC, Move, Gstar, dan
Xdragons dari Jakarta. Mereka akan dikarantina setiap Kamis-Sabtu selama tiga
bulan di Padepokan Pencak Silat, TMII. Selama masa karantina para finalis akan
mengikuti serangkaian kegiatan dan pendidikan dalam hal vokal, kepribadian,
koreografi, dan lain-lain dari tim pengajar profesional yang sesuai dengan
keahlian masing-masing. Biar siap jadi idola baru ya?
Boyband, siapa sih mereka?
Eit, jangan pura-pura jadi Oneng ya. Masa hari gene gak tau
boyband sih. Itu lho, sekumpulan cowok yang bisa dan pede nyanyi nggak cuma di
kamar mandi atau dalam kamar yang terkunci; terus punya tampang yang
resolusinya minimal 1024 x 768 pixel (dalam format .jpg atau .bmp? Hihihi..
kebanyakan mainin program desain grafis nih!), sehingga enak dipandang; dan
terakhir biasanya mereka punya jurus pamungkas tebar pesona yang bisa bikin
para cewek histeria. Whuaa.....setaaan! (histeris apa paranoid non hehehe...)
Dulu, boyband dikenal sebagai grup pop yang beranggota tiga sampai
enam lelaki muda, mereka harus bisa menari. Bukan memainkan musik layaknya sebuah
group band. Kualitas vokal mereka begitu menonjol. Seperti penampilan The
Temptations yang populer di masa 1960-an dengan genre musik pop dan
R&B. Kemudian ada pula Latin boyband bernama Menudo yang dibentuk
pada 1977. Tahun 1980 remaja-remaji di seantero jagat juga sempet terhipnotis
dengan kehadiran boyband New Kids on The Block (NKOTB). Dunia kemudian
mengenal nama Boyz II Men, Backstreet Boys, Nsync, 98
Degrees, Take That, Boyzone, atau Westlife.
Seiring perkembangan era, banyak boyband yang lahir dikemudian
hari cuma bermodalkan tampang, pintar menari, dan mengandalkan vokal yang
pas-pasan (Waduh, bukannya nuduh ye, cuma ngeluarin uneg-uneg aja. Nggak lebih.
Oke? Boleh dong itu bagian dari kritik kita...). Ending-nya boyband
model gitu, kemungkinan besar nggak pada awet. Banyak yang bubar dan
personelnya yang paling berkualitas memilih berkarier solo. Sebut saja di
antaranya Michael Jackson (Jackson Five), Robbie Williams (Take That), Justin
Timberlake (NSYNC), dan Ronan Keating (Boyzone).
Meski begitu, kelahiran boyband-boyband baru seolah tak
terbendung. Mereka yakin kalo vokal suara mereka layak diperhitungkan. Selain
tampang yang camera face tentunya. Sehingga kita kenal North,
boyband Australia; A1 dan Blue dari daratan
Inggris; F4 asal Taiwan yang populer lewat serial Meteor Garden;
atau mytown asal Irlandia. Pokoknya banyak banget.
Nah dengan tujuan menjaring potensi group penyanyi cowok di negeri
sendirilah ajang boyband digelar. Biar ada produk lokal. Masa’ ngandelin
produk mancanegara aja. Gitu kali pikir penyelenggaranya.
Apa yang dicari?
‘bikin keren...bikin beken’. Inilah jargon yang sering kali
terdengar dalam ajang boyband yang dipandu Astrid Sudarwanto dan Nagita
Slavina. Bagi para peserta, lolos audisi dan berhak berlaga di babak final
berarti jalan menuju ketenaran kian terbuka lebar. Sebab, boyband dengan wajah eye
catching, cool, dan penampilan yang menawan udah pasti menjadi bintang
pujaan para wanita. Ini berarti alamat kebanjiran order dan penghargaan guna
memancing pasar remaja khususnya kaum hawa. Seperti yang pernah terjadi pada boyband
Blue, Westlife, atau F4.
Bayangin aja, Blue sempet dikontrak untuk menjadi model
iklannya produk softdrink Pepsi dengan bayaran sebesar 50 juta
poundsterling; Westlife berhasil mengoleksi sertifikat platinumsebanyak 52.
Kebayang dong berapa juta kopi album mereka yang terjual. Banyak! Kesuksesan
yang sama juga diraih boyband Asia, F4, yang dalam waktu 6 bulan aja, grup ini
sukses meraup omset 150 juta dolar Taiwan. Gimana nggak tergoda jadi boyband.
Populer, tajir, dan dipuja para wanita. Khususnya remaja putri. Mana tahaaan!
Bagi para penonton wanita, sepertinya menikmati wajah tampan alias
qurota a’yunin menjadi daya tarik tersendiri. Dalam obrolan cewek, udah
jadi tren punya idola yang layak dipuja, yang mengisi ruang imajinasinya, dan
ditempel posternya di kamar tidur. Inilah yang memancing kehadiran mereka dalam
setiap konser-konser boyband tanah air maupun mancanegara. Siapa tahu
ada yang bisa dijadiin idola baru. Kok bisa ya?
Kenapa nggak. Inikan wajar. Demi memenuhi naluriah standar manusia
yang suka kepada lawan jenis, pasti cewek/cowok suka curi-curi pandang bin cari
perhatian plus cari kecengan. Basi banget kalo nggak punya idola yang cute
bin charming (bukan Aming lho. Inget!). Emang basi kalo nggak punya idola.
Tapi lebih basi lagi (malah sampe bulukan ditumbuhi belatung) kalo kita keliru
mengambil idola. Makanya carilah idola yang bisa mengajak kita ke arah kebaikan
dunia-akhirat. Bukan yang malah menghanyutkan kita dalam arus budaya hedonis.
Betul?
Jangan terjebak budaya hedonis
Maraknya kepedulian pihak produsen tv dalam menggali potensi
remaja kian disambut baik oleh masyarakat. Khususon oleh generasi muda.
Terbukti, program talent yang udah digelar berulang kali dengan kemasan reality
show selalu kebanjiran peserta saat audisi. Remaja merasa punya wadah untuk
menyalurkan bakat dan menunjukkan kemampuan yang dimiliki. Sehingga pantas
diorbitkan untuk jadi penyanyi solo, boyband, group band,
komedian, hingga juru dakwah.
Sayangnya, kerja keras dunia entertaintment yang mengemas
program talent remaja bukan tanpa pamrih. Dalam format reality show,
liputan kegiatan sehari-hari para peserta selama masa karantina memberikan
hiburan tersendiri bagi pemirsa. Sehingga masyarakat merasa dekat secara emosi,
hapal, dan mengenal karakter masing-masing peserta. Ditambah media massa tak
henti-hentinya memberitakan seputar kehidupan para peserta. Tak terasa, rasa
simpati masyarakat terhadap peserta terbawa dalam obrolan sehari-hari. Dimana
saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Walhasil, lahirlah idola-idola baru
produk program talent remaja ini.
Menjadi idola seperti diidamkan banyak remaja memang identik
dengan bintang iklan, bintang tamu, bintang sinetron, dan bintang di atas
panggung. Sejumlah status yang menjanjikan materi. Udah gitu, popularitas
dengan cepat diraih karena setiap lika-liku kehidupannya pun tak lepas dari
sorotan kamera dan headline media massa.
Padahal status selebriti yang disandangnya menuntut kehidupan
glamour dengan biaya yang nggak sedikit. Otomatis tingginya ongkos hidup untuk
tetep eksis sebagai bintang dan demi mempertahakan ketenaran memaksanya berlari
mengejar materi. Yup, mereka mesti berlari dalam track gaya hidup
hedonis tanpa garis finis jika tak ingin disalip idola-idola baru.
Tanpa disadari, kelahiran idola-idola baru turut mempopulerkan
budaya hedonis di tengah masyarakat. Sebuah budaya yang mendorong para
pelakunya untuk berfoya-foya dan ngabisin waktunya demi ngegeber pemenuhan
kesenangan duniawi. Kehidupan mewah yang mereka pertontonkan, atau kemolekan
tubuh yang mereka obral menjadi ikon kebahagiaan dunia. Walhasil, masyarakat
secara umum, terutama para penggemarnya terhanyut dalam pemujaan terhadap sosok
idola. Bahaya tuh!
Kendalikan nafsu dengan Islam
Banyak yang berpikir kalo kekayaan dan ketenaran itu menyenangkan
en membahagiakan. Padahal apa yang kita pikir dan kita lihat menyenangkan di
dunia kenyataan berbicara sebaliknya. Kekayaan yang berlimpah dan popularitas
bisa bikin kita nggak pernah merasa puas. Yang ada, kita malah jadi konsumtif
dan kufur nikmat. Nabi saw bersabda: “Kalaulah anak Adam memiliki satu bukit
emas, ia akan bernafsu untuk memiliki dua bukit. Dan tidak ada yang bisa
memenuhi mulutnya kecuali tanah.” (HR Muslim)
Terlebih lagi banyak hal yang nggak bisa dibeli dengan harta dan
popularitas. Persahabatan sejati, kasih sayang yang murni, ketenangan diri,
pahala, dosa, surga, atau neraka. Karena itu, jangan biarkan kecintaan terhadap
materi dan popularitas menguasai diri kita. Jangan biarkan dunia hiburan
menghanyutkan diri kita dalam budaya hedonis. Jangan biarkan kehadiran idola
baru memaksa kita memuja mereka. Pokokmya jangan biarkan deh. Catet tuh! (bukan
ngancem, tapi maksa. Hehehe...)
Bener sobat. Kita kudu nyadar, kalo hidup kudu punya aturan maen
yang jelas, tegas, dan benar. Kita yang udah gede ini pantes punya kemandirian
dan standar buat ngukur perilaku yang mau kita kerjain. Nggak asal ngikut
ajakan temen, terjebak oleh opini media massa, atau malah pake prinsip trial
and error. Waduh berabe kalo gitu mah. Sama aja kita mempertaruhkan hidup
kita. Padahal kita nggak pernah tahu sampe kapan Allah ngasih izin kita
menghirup oksigennya dengan gratis. Makanya, pantes rasanya kita sebagai remaja
Muslim pake aturan hidup Islam untuk jinakkin hawa nafsu kita. Bukan yang
lain. Allah Swt. berfirman: Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula)
bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu
ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan
barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat,
sesat yang nyata. (QS
al-Ahzab [33]: 36)
Dan kita tahu, nafsu kita akan sulit terkendali
kalo sendirinya alergi untuk menghadiri forum-forum kajian Islam untuk
mencerahkan pemikiran kita. Makanya ikut ngaji. Satu hal yang mesti kita ingat,
jadi anak ngaji bukan berarti nggak boleh kreatif. Kalo kamu punya potensi yang
bisa disalurkan untuk kemajuan Islam dan Kaum Muslimin, why not. Asal
tetep dalam jalur yang benar dan baik dalam kacamata Islam. Oke? Mulai
sekarang, jadi anak ngaji, dan ukir prestasi! [Hafidz: hafidz341@telkom.net]