STUDIA Edisi 276/Tahun ke-7 (16 Januari 2006)
Kamu
udah dewasa kan? Kalo belum, pertanyaan di judul ini kayaknya perlu
dijawab dengan tegas. Tapi saya rasa kamu yang pada baca buletin ini
sudah banyak yang dewasa. Ayo, ngaku aja (bukan nuduh lho, tapi ini
sekadar menegaskan). Eh, tapi nggak salah juga kalo ada yang baca
buletin ini masih belum dewasa alias belum baligh, misalnya anak SD dan
SMP. Silakan aja.
Sobat
muda, kalo lihat tayangan televisi di sudut kiri atas atau kadang di
bawah kiri (tergantung maunya masing-masing pengelola televisi sih)
biasanya suka tercantum lambang: “Dewasa” dengan huruf “D”, “Bimbingan
Orangtua” dengan ikon “BO”, dan “Anak-anak” ditulisi dengan ikon “A”;
malah ada juga tontonan satu untuk semua—”SU” alias Semua Umur. Meski
efektifitasnya juga masih belum terbukti dengan bagus.
Oya,
konon kabarnya pelabelan itu sebagai bentuk kepedulian pihak
penyelenggara siaran untuk mengelompokkan pemirsanya. Jadi, mereka
merasa bahwa dengan memberikan panduan seperti itu para orangtua bisa
memantau anak-anaknya dalam menonton tayangan televisi. Misalnya, kalo
sebuah tayangan tercantum lambang “Dewasa”, maka ortu berhak menegur
anaknya atau memintanya dengan cepat untuk mengalihkan ke chanel
lain. Nah, kamu termasuk kelompok yang mana nih? Udah dewasa belum?
(jawab dalam hati aja ya… soalnya ada juga yang udah bangkotan tapi
masih seneng film kartun—yee apa hubungannya? Emangnya film kartun
khusus anak? Nggak juga kan?—ini kok malah ngelantur kemana-mana)
Oya,
sebenarnya dalam “kamus” ajaran Islam tak dikenal istilah remaja.
Ajaran Islam dalam menilai manusia itu hanya dengan dua kriteria:
anak-anak dan dewasa. Perubahan dari dunia anak-anak menjadi dewasa
ditandai dengan perubahan pada hormon-hormon seksualnya, seperti pada
anak laki-laki sudah mengalami ihtilam (mimpi basah, yakni pas
mimpi keluar sperma, bukan karena diguyur air se-ember). Buat anak
perempuan sudah mulai haid alias datangnya ‘tamu bulanan’. Dalam Islam,
kejadian itu dikenal dengan istilah sudah “baligh”.
Nah,
jika sudah baligh, berarti ia sudah terbebani hukum (mukallaf).
Artinya, segala perbuatannya dalam menjalani kehidupan ini akan
dicatat. Jika berbuat baik, pahala ganjarannya, jika berbuat salah,
dosa yang ia dapat. Tapi jika masih anak-anak, tak akan dinilai baik
atau buruk, sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Diangkat pena dari tiga orang; orang yang tidur sampai ia bangun, anak hingga baligh, dan orang yang gila sampai ia sembuh.” “Pengangkatan pena” (tidak dicatat amalnya) dari mereka maksudnya adalah mereka bukanlah mukallaf secara syar’i.
Mengenal pubertas
Rasanya
nggak ada salahnya jika teman remaja mengenal masa-masa ini. Bahkan
mungkin sangat perlu, karena emang berkaitan dengan kehidupan kita
sendiri. Nah, dalam perkembangan fisik dan jiwa manusia, para pakar
psikologi mengenalkan istilah “masa pubertas” atau puber. Omong-omong,
pada usia berapa sih remaja mengalami pubertas?
Menurut
para ahli perkembangan jiwa, usia remaja mengalami pubertas adalah pada
usia 14 - 16 tahun. Masa ini disebut juga “masa remaja awal”, dimana
perkembangan fisik mereka begitu menonjol. Remaja sangat cemas akan
perkembangan fisiknya, sekaligus bangga bahwa hal itu menunjukkan bahwa
ia memang bukan anak-anak lagi. Catet, bukan anak-anak lagi, lho.
Pada
masa ini, emosi remaja menjadi sangat labil akibat dari perkembangan
hormon-hormon seksualnya yang begitu pesat. Keinginan seksual juga
mulai kuat muncul pada masa ini. Pada remaja wanita ditandai dengan
datangnya menstruasi yang pertama, sedangkan pada remaja pris ditandai
dengan datangnya mimpi basah yang pertama.
Remaja
akan merasa bingung dan malu akan hal ini, sehingga orang tua harus
mendampinginya serta memberikan pengertian yang baik dan benar tentang
seksualitas. Jika hal ini gagal ditangani dengan baik, perkembangan
psikis mereka khususnya dalam hal pengenalan diri/gender dan
seksualitasnya akan terganggu. Kasus-kasus gay dan lesbi banyak diawali
dengan gagalnya perkembangan remaja pada tahap ini.
Di
samping itu, remaja mulai mengerti tentang gengsi, penampilan, dan daya
tarik seksual. Karena kebingungan mereka ditambah labilnya emosi akibat
pengaruh perkembangan seksualitasnya, remaja sukar diselami
perasaannya. Kadang mereka bersikap kasar, kadang lembut. Kadang suka
melamun, di lain waktu dia begitu ceria. Perasaan sosial remaja di masa
ini semakin kuat, dan mereka bergabung dengan kelompok yang disukainya
dan membuat peraturan-peraturan dengan pikirannya sendiri. Itu
sebabnya, cenderung semau gue.
Kesalahan berpikir
Seringkali
para orangtua menilai bahwa remaja yang berbuat “aneh” dan bahkan
terkesan nakal dianggap sebagai sebuah kewajaran. Dianggap biasa saja.
Misalnya, ketika ada temen-temen remaja yang mengecat rambutnya pakai pylox
disikapi bahwa itu bagian dari perkembangan jaman. Melihat remaja yang
asyik berpacaran, tak merasa bahwa itu membahayakan. Apalagi sampai
berdalil, “Saya juga dulu seperti itu...” Wah, musibah besar namanya
nih kalo ada ortu yang berpikiran kayak gitu.
Nggak
hanya itu, seringkali juga para orangtua secara umum membiarkan bebas
anak remjanya untuk berbuat sesukanya dengan alasan bahwa itu bagian
dari upaya mencari jadi diri. Kalo dikekang, bisa berbahaya. Nah, jika
dikekang bisa berbahaya, apakah ada jaminan kalo dibiarkan bebas
sesukanya tidak akan membahayakan? Betul ndak?
Sobat
muda muslim, kesalahan berpikir seperti ini nggak cuma ada di kalangan
para orangtua, tapi juga di antara kita sendiri. Yup, kita sendiri
seringkali menganggap enteng masalah. Bahkan kesannya mengampuni diri
sendiri dan memiliki standar ganda dalam menilai satu masalah. Aneh
banget kan? Misalnya, ketika terlibat tawuran kita bilang ke
temen-temen dan ke orang-orang bahwa kita sebagai remaja pemberani.
Ketika kita pacaran, kita bilang ke siapa pun bahwa kita sudah dewasa.
Udah gede. Tapi ketika ada razia KTP atau kena batunya pas digiring ke
kantor polisi, kita ngaku-ngaku masih anak-anak. Biar nggak kena sanksi
alias hukuman. Gimana nih?
Kondisi
seperti ini kalo boleh dibilang sebagai “kedewasaan yang menjanin” dan
masa kanak-kanak yang “menua”. Artinya, masa remaja adalah masa
transisi. Lepas dari masa kanak-kanak dan masuk (tapi belum semuanya)
ke masa dewasa. Jadi masih bisa berubah-ubah alias belum stabil. Di
sinilah perlunya bimbingan yang benar dan arahan yang jelas dan pasti.
Tidak dikekang, tapi juga tidak dibiarkan liar. Sehingga tidak terjadi
kesalahan dalam berpikir. Baik bagi para orangtua yang menilai perilaku
remaja, maupun bagi teman remja itu sendiri. Karena apa? Karena
kesalahan dalam berpikir akan membawa dampak yang parah pada penilaian
dan penanganan kasus yang terjadi di kalangan remaja. Contohnya, untuk
tindak kriminal remaja, polisi biasanya tidak bisa memberi hukuman
seperti kepada orang dewasa. Bahkan cenderung hanya memberi sanksi
ringan. Padahal, dalam Islam, jika sudah baligh ya sudah masuk kategori
dewasa. Jadi jelas sudah terbebani hukum. Dia wajib melaksanakan
perintah dan wajib pula menghindari larangan yang diatur dalam ajaran
agama.
Bukan cuma tongkrongan dan ‘onderdil’
Nah,
ngomongin tentang kedewasaan, jadi teringat sebuah semboyan iklan rokok
yang berbunyi, “Tua itu pasti, dewasa itu pilihan”. Cukup bagus dan
menyegarkan. Kenapa? Karena usia tua itu pasti, tapi soal kedewasaan
berpikir belum tentu berbanding lurus dengan usianya. Sebaliknya, meski
masih usia 17-an (setelah baligh), tapi sudah dewasa secara pikiran.
Itulah kenapa dewasa itu disebut sebagai pilihan. Karena apa? Karena
memang bisa dipilih. Bisa diupayakan untuk ‘mengatur’ diri ini dengan
hiasan amal kita. Amal yang baik, atau amal yang buruk. Tapi, sebagai
seorang muslim, tentunya kita wajib banget untuk memilih jalan hidup
dan amal perbuatan yang memang dibenarkan oleh Islam. Oke?
Dalam
pandangan Islam, dewasa tidak hanya ditinjau dari perubahan secara
biologis, tapi juga pola berpikir. Itu sebabnya, jika seorang remaja
sudah berpikir dewasa, maka ia akan tahu arti tanggung jawab, meminta
maaf, berkorban untuk orang lain, menghormati orang lain, berjuang
untuk agama, patuh pada orang tua, amanah, jujur, cinta dan kasih, taat
pada aturan Allah Swt. dsb. Jika masih gemar melakukan kemaksiatan,
berarti belum dewasa secara pikiran. Padahal, secara biologis sudah
sangat dewasa, gitu lho.
Itu
sebabnya, seringkali kita saksikan dalam kehidupan nyata ada orang yang
masih betah berbuat maksiat. Padahal, umurnya sih udah menjelang
“maghrib” alias udah sepuh. Kepada model orang yang seperti ini, kita
bisa bilang bahwa dia belum dewasa. Secara fisik memang udah dewasa,
tapi secara pemikiran dan perbuatannya masih “anak-anak”. Cemen deh!
Sobat
muda muslim, dengan kata lain, bukan cuma tongkrongan dan ‘onderdil’ di
tubuh sebagai ukuran untuk menilai sebuah kedewasaan. Terlalu
sederhana. Karena dalam Islam, selain ukuran fisik, cara berpikir dan
apa yang dilakukan juga harus masuk penilaian.
Menyiapkan diri jadi dewasa
Karena
menjadi dewasa adalah sebuah “pilihan”, maka tentunya harus direkayasa
alias disiapkan. Nggak bisa dibiarkan alami. Karena memang jadi dewasa
dalam cara berpikir itu bukan kebetulan, tapi pilihan. Itu sebabnya,
ada pelatihannya juga. Memang sih, model pelatihannya nggak perlu
dibuat semacam jenjang akademik, tapi melalui “schooling society”
(sekolah kehidupan). Di sinilah kita belajar. Istilahnya, “learning society”. Belajar dari masyarakat.
Kita
bisa membandingkan para pemuda Islam di jaman Rasulullah saw. Banyak
para pemuda di jaman itu yang rindu dan cintanya kepada Islam sangat
besar. Salah satunya yang membuat mereka seperti itu adalah karena
kondisi kehidupannya mendukung. “Sekolah kehidupan” telah mengajarkan
dan membentuk kepribadian yang begitu hebat. Itu sebabnya, jika
sekarang banyak remaja yang amburadul ketimbang remaja yang baik-baik,
itu juga karena model kehidupan yang diajarkan di masyarakat nggak
benar. Gimana pun juga, individu itu pasti akan terwarnai oleh kondisi
masyarakat. Kalo masyarakatnya rusak seperti sekarang, kayaknya udah
alhamdulillah banget kalo masih ada remaja yang selamat kepribadiannya.
Sobat
muda muslim, singkat kata, untuk menjadi remaja yang dewasa tentu
satu-satunya cara adalah dengan belajar. Tanpa belajar, kita nggak akan
tahu bagaimana cara berpikir yang dewasa dan islami, kita nggak akan
ngeh juga seperti apa berbuat yang benar, dewasa, dan sesuai ajaran
Islam. Sabda Rasulullah saw.: “Apabila Allah menginginkan kebaikan
bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama.
Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar.” (HR Bukhari)
Nah,
untuk memudahkan kita dalam berpikir dan berbuat dewasa dalam pandangan
Islam, wajib juga adanya peran besar dari negara untuk mewujudkannya.
Seperti apa? Misalnya, negara harus mengawasi isi media massa untuk
remaja. Kalo merusak, tegur. Bila bandel, beri sanksi. Terus, rajin
juga ngasih pembinaan mental. Setuju? [fahmarosyada: fahmarosyada@yahoo.co.id]