STUDIA
Edisi 275/Tahun ke-7 (9 Januari 2006)
Menjelang penutupan
tahun 2005 dan mengawali tahun baru 2006, tiap stasiun tv berlomba menggaet
pemirsa dengan film-film bioskop yang diputar pada prime time. Kita ampe
bingung milih film yang pengen ditonton. Ada drama klasik kepahlawanan model The
Patriot, action comedy The Tuxedo khas Jacky Chan, horor dan thriller
Ghost Ship yang mencekam, kungfu mandarin ala Jet Li, atau komedi
slapstiknya Stephen Chow dalam Kungfu Husttle. Semuanya gratis bo!
(kecuali bayar listriknya aja buat ngidupin tivi kita.)
Untuk urusan hiburan,
kayaknya nonton film emang pantas nangkring di peringkat atas. Meski selera
penonton bervariasi, produsen film nggak pernah kehilangan akal untuk memenuhi
permintaan pasar. Pintarnya, penonton disuguhkan para pemerannya yang eye
catching. Gimana nggak bikin kita betah melototin ampe tamat. Just sit,
see, follow the story and enjoy the movie. Bener-bener ngehibur. Makanya
Samuel Goldwyn, salah satu pendiri studio Metro Goldwyn Mayer, pernah bilang,
“Film itu untuk hiburan, kalau ngasih pesan-pesan sih tugasnya Western Union.”
Hehehe... bisa neh si bos.
Sayangnya, adakalnya
kita terlena dengan stempel hiburan yang melekat pada film yang kita nikmati.
Padahal, film paling jago menggiring opini publik ke arah sudut pandang
produsen atau sponsor yang ngemodalin pembuatannya. Kalo nggak smart,
bisa-bisa kita terhipnotis dan terbawa alur cerita film yang kita tonton.
Mending kalo filmnya mengajak sekaligus mendidik penonton ke arah positif. Lha
kalo yang dipertontonkan budaya sekuler yang minim edukasi atau propaganda
ideologi non Islam, bisa berabe kan?
Film dan pesan sponsor
Pengamat film
nasional Victor C. Mambor mengatakan bahwa film telah dikenal di Indonesia
tanggal 5 Desember 1900 dengan sebutan “Gambar Idoep”. Saat itu pertama kalinya
film diputar di Indonesia, dengan menampilkan film dokumenter tentang
perjalanan Ratu Olanda dan Raja Hertog Hendrik di kota Den Haag. Film buatan
lokal sendiri baru dibuat tahun 1926, dengan judul Loetoeng Kasaroeng
dengan mengambil tempat pembuatan di Padalarang.
Akan tetapi saat ini,
sinema telah bermetamorfosis menjadi karya seni yang dianggap paling sempurna.
Nggak cuma gambar idoep. Kesempurnaan itu dipandang dari kemampuannya
menggabungkan seni-seni yang lain; sinematografi, sound effect, visual
effect dsb. Dengan kemampuan ini, tentu saja pengaruh film jadi lebih dahsyat. Nggak sekadar hiburan,
informasi yang disampaikan film cukup efektif untuk mempengaruhi penonton.
Sehingga film pun dipake untuk menyampaikan pesan-pesan sponsor baik secara
samar-samar sampe yang vulgar. Pesan yang disampaikannya juga bervariasi. Dari
iklan sebuah produk, pesan moral, hingga propaganda yang bermuatan politis bin
ideologis.
Beberapa film yang
masuk kategori terakhir diantaranya, Schindler’s List (1993) dan Munich
(2005) yang digarap sutradara Steven Spielberg; The Hunt for Red October,
yang dibintangi Sean Connery dan Alec Baldwin (1990) hasil garapan sutradara
John McTiernan; ar-Risalah (1976) dan Umar Mokhtar (1982) yang
disutradarai Mustapha Akkad.
Schlindler’s List bercerita tentang pembantaian (holocaust) terhadap warga Yahudi
di kamp konsentreasi Auschwit, Polandia yang dilakukan Nazi pada perang dunia
ke II. Dan upaya Oskar Schlindler, orang yang selamat dari pembantaian, untuk
membebaskan 1100 warga yahudi yang dianggap penting dari kamp dan membawa
mereka ke gudang amunisi miliknya di Chekoslovakia.
The Hunt for Red
October, diangkat dari cerita novel terlaris Tom
Clancy. Sebuah kapal selam nuklir Soviet terbaru yang sangat canggih
teknologinya, The Red October, sedang menuju ke perairan Amerika di bawah
komando Kapten Marko Ramius (Sean Connery). Pemerintah Amerika berpikir bahwa
Ramius berencana untuk melakukan penyerangan. Namun menurut seorang ahli
analisis CIA, Jack Ryan (Alec Baldwin), Ramius justru sedang berusaha untuk
membelot dan ia harus berusaha membuktikannya dengan menemukan lokasi Ramius
saat ini. Ia hanya memiliki beberapa jam saja. Karena seluruh kekuatan pasukan
Rusia juga dikerahkan untuk menemukan Ramius bersama dengan “The Red October”.
Perburuan pun dimulai dan seru!
Dalam Munich (2005),
Steven Spielberg mengangkat insiden berdarah yang dikenal dengan sebutan ‘Black
September’ pada Olimpiade Muenchen 1972. Serangan 5 September 1972 di
perkampungan atlet itu, berakhir dengan pembunuhan massal di lapangan terbang
Muenchen yang menewaskan 11 atlet Israel. Film yang mengambil suasana setelah
tragedi itu, bercerita tentang kisah beberapa agen Israel yang dikirim untuk
menangkap dan membunuh orang-orang Palestina yang diyakini sebagai pelaku
‘Black September’.
Sementara ar-Risalah
alias The Messenger (1976) merupakan hasil besutan produser Muslim
asal Suria, Mustapha Akkad. Ar-Risalah yang dikenal juga dengan judul “Muhammad
Rasul Allah”, mengisahkan pengangkatan beliau sebagai Nabi, dakwah Islam di
Makkah, boikot ekonomi dan sosial terhadap muslimin oleh kafir Quraisy, hijrah
ke Madinah, pembangunan Masjid Nabi sebagai pusat pemerintahan Islam, perang
Badar, Perang Uhud, dan Fathu Makkah.
Pada tahun 1982,
Musthafa Aqqad membuat film “Singa Padang Pasir (Lion of The Desert)” atau
“Omar Mukhtar”. Omar Mukhtar adalah pahlawan nasional dari Libia. Dengan
semangat jihad dan tak kenal kompromi, pahlawan ini bangkit melawan pasukan
militer Itali yang berniat menjajah Libia. Ketika menghadapi kegagalan dalam
beberapa kali serangannya ke Libia, maka Mussolini, pemimpin diktator Italia
saat itu, memerintahkan penangkapan Omar Mukhtar yang diketahui memimpin
perlawanan. Omar Mukhtar sempat mengadakan perlawanan gagah berani, akan tetapi
pada akhirnya ia berhasil ditangkap dan dihukum gantung di tempat umum.
Beberapa sinopsis
film di atas, kayaknya nggak cukup hanya dikasih stempel hiburan. Terlalu
sederhana kalo kita menganggap ceritanya sebatas kupasan sejarah. Sebab pesan
didalamnya dalem banget. Sedalam lautan biru yang terhampar luas di dua per
tiga dunia. Hihihi.....
Bikin film kok ideologis?
Nggak semua sutradara
berani bikin film yang mengupas sejarah bermuatan politis dan ideologis. Masalahnya,
banyak pihak yang mesti dilibatkan untuk menyempurnakan jalan cerita biar nggak
kelayapan keluar dari sejarah. Nggak cuma itu, boleh jadi ada pihak yang
ngerasa ‘kesentil’ dengan kupasan sejarah yang diangkat ke layar lebar.
Walhasil, film-film model gini sering menuai kontroversi. Tuh repot kan?
Seperti nasib Film
terbaru Steven Spielberg, “Munich” —yang mendasarkan filmnya pada buku berjudul
“Vengeance”, karya wartawan Kanada bernama George Jonas, yang menuangkan
pengakuan seorang anggota tim agen Mossad yang mundur sebagai protes atas
taktik pembalasan keras negerinya— banyak menuai kritik pedas dari mantan aggota dinas rahasia Israel, Mossad. (Antara
News, 13/12/2005)
Lantas ngapain bikin
film kalo cuma menuai kontroversi? Jawabannya tentu nggak cuma materi dan
popularitas yang dikejar. Ada yang lebih berharga dari sekadar Academy Award.
Para produsen itu berusaha menempatkan fungsi film sebagai agen sejarah.
Sehingga kalangan sejarawan dapat memanfaatkan film untuk melihat le non-dit
des societes (apa yang tidak dikatakan oleh masyarakat). Apa yang tidak
muncul dalam pidato atau percakapan resmi tetapi terjadi di masyarakat bisa
terekam di dalam film.
“Film-film sejarah
memiliki daya kreativitas yang sangat tinggi. Film-film modern hanya memiliki kelebihan
di bidang dialog dan teknik pembuatannya, akan tetapi ia tidak memiliki
kreativitas tersebut. Kita umat muslimin memiliki masa lalu yang indah, yang
sangat berguna untuk kita jadikan sebagai pelajaran bagi masa depan kita.
Kekhawatiran besar saya ialah terhadap jebakan-jebakan yang dipasang oleh
musuh-musuh kita. Jebakan-jebakan ini mereka tebarkan melalui propaganda lewat
media-media massa mereka. Menurutku media massa dapat dijadikan sebagai senjata
yang jauh lebih mematikan daripada bom dan tank,” ungkap Musthapa Akkad (irib.com,
november 2005)
Film sebagai alat propaganda
Secara umum, 80
persen dari informasi yang didapatkan oleh manusia diperolehnya dari indra
pengelihatan. Oleh karena itulah film-film dan informasi televisi lebih
berpengaruh dalam menyampaikan propaganda, dibandingkan dengan makalah atau
media cetak.
Dalam perjalanan
sejarah, banyak film yang sengaja dibuat sebagai alat propaganda karena
memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk opini umum. Frank Kapra, sutradara
film Amerika membuat 7 film seri yang berjudul Why We Fight selama
Perang Dunia II. Begitu pula Jepang membuat film propaganda yang mendukung
alasannya berperang, salah satunya The Story of Tank Commander. Termasuk
rezim orde baru membuat film G-30S-PKI, untuk mengukuhkan kekuasannya dan
membunuh karakter lawan-lawan politiknya.
Di Jerman sebelum
Perang Dunia II, Nazi amat konsisten dalam konsep maupun implementasinya agar
fungsi film sebagai alat propaganda menonjol. Mereka aktif dalam mengontrol
skenario, pemilihan pemain, musik, pembuatan film dan distribusinya dengan
menyediakan 70.000 buah proyektor 16 mm pada sekolah dan universitas di negeri
itu sejak tahun 1936.
Pada masa Perang
Dunia II tahun 1941-1945, Presiden AS, Roosevelt, memulai pembuatan seri film
yang bertujuan memberikan justifikasi keterlibatan AS dalam perang serta
membenarkan aliansinya dengan Uni Soviet.(Kompas, 24 Mei 1998)
Terlepas dari campur
tangan pemerintah, sebagian kalangan perfilman AS dari dulu sengaja bikin film
yang bertujuan menyanjung kehebatan sistem sosial dan politik Amerika.
Contohnya film-film tentang Perang Vietnam yang dibuat untuk menghibur diri
atas kekalahan mereka sampai pada penciptaan tokoh Amerika seperti Rambo yang
justru menjadi pahlawan bukan pecundang dari Perang Vietnam. Nah, ketauan kan?
Di Indonesia, MUI
pernah berfatwa untuk melarang pemutaran film Schlinders List. Lantaran
efek pemutaran film ini dikhawatirkan bisa membangkitkan semangat Yahudi dan
mungkin bisa mengubah pandangan masyarakat terhadap Yahudi Israel yang menjajah
negeri Palestina. Sementara ar-Risalah bisa menumbuhkan semangat
berjuang bagi kalangan kaum muslimin sekaligus alat propaganda menyebarkan
Islam. Jangan heran jika di Jepang banyak pula yang masuk Islam setelah film
itu diputar di sana pada tahun 1970-an. Alhamdulillaah.
Ternyata efektif juga
propaganda ideologi lewat film. Pasti seru kalo para produsen Islam juga gencar
memproduksi film yang mempropagandakan ajaran Islam sebagai rahmatan lil
‘alamin. Atau membongkar makar orang-orang kafir dalam berbagai tragedi
kemanusiaan yang menyudutkan Islam dan Kaum Muslimin. Film jenis ini pasti
lebih berbobot daripada film ‘kacangan’ yang melulu mengulik soal cinta,
pacaran, seks, dan urusan harta-benda. Ups!
Untuk itu, selaku
penikmat film kita harus bisa mensikapinya dengan ‘cerdas’. Agar tidak terjebak
oleh tipu daya sineas film yang membenci Islam dan kaum Muslimin. Ambil
pelajarannya yang baik. Pastikan sudut pandangnya adalah ISLAM. Di sinilah
pentingnya kita mengenal Islam lebih dalam. Agar punya filter yang bisa
menyaring pemikiran dan budaya sekular yang menyerang kita via film, siaran
televisi, dan media massa lainnya. So, ikut ngaji gak mesti kuper kan?
Pasti! Gaul, syar’i, mabda’i. Huhuy! [Hafidz: hafidz341@telkom.net]