STUDIA Edisi 274/Tahun ke-7 (2
Januari 2006)
Mimpi, ya, apa sih
mimpi itu? Apakah bunga-bunga tidur yang menghiasi setiap malam ketika kita
beristirahat? Mungkin mimpi ketemu doski di sekolah, mimpi ketemu sahabat kita
yang lama tak berjumpa, mimpi makan blackforest yang sudah lama kita
idam-idamkan ataukah mimpi-mimpi yang lain?
Itu semua memang bisa
disebut mimpi. Kerja sel syaraf otak kita ketika tidur bertemu dengan
pengalaman-pengalaman masa lalu atau keinginan terpendam yang belum sempat
terwujud. Tapi bahasan kita bukan mimpi yang itu, boys en gals.
Tapi mimpi yang bermakna cita-cita, keinginan, harapan, ambisi, dan semacam
itulah. Mimpi yang berusaha kita raih dan wujudkan nyata dalam kehidupan.
Omong-omong, apa sih
mimpi terindah kamu? Jangan-jangan kamu malah nggak punya mimpi. Membiarkan
hidup mengalir apa adanya saja. Tanpa mimpi, tanpa cita-cita dan tanpa harapan.
Eh, jangan-jangan kamu malas bermimpi lagi karena beranggapan semua mimpi-mimpi
kamu adalah sia-sia dan nggak ada yang jadi kenyataan. Wah...jangan pesimis
gitu dong.
Semua punya mimpi
Mimpi, siapa sih
nggak punya mimpi? Pengen tajir, terkenal, pandai, sukses dan keinginan yang
lainnya. Rasa ingin ini lumrah bin wajar banget ada pada diri manusia, termasuk
kita-kita ini. Ah, jadi inget Om Chairil Anwar yang dalam salah satu puisinya
ingin hidup seribu tahun lagi.
So, siapa sih yang boleh punya mimpi? Ehm, rasa-rasanya bukan cuma
pujangga atau orang tertentu aja. Semua berhak dan boleh punya mimpi. Kaya,
miskin, tua, muda, cewek, cowok, cakep, jelek, semua boleh punya mimpi. Di
jaman apa-apa serba mahal ini, mimpi adalah hal dalam hidup yang gratis. Nggak
perlu beli. Kita bisa bermimpi menjadi atau meraih apa pun yang kita mau tanpa
takut kena pajak dan disirikkin orang.
Kamu tahu ide
menciptakan pesawat terbang? Penemu ide itu, Orvilee Wright dan Wilbur Wright
pernah bermimpi untuk bisa terbang. Karena nggak mungkin bagi manusia untuk
punya sayap, maka dengan akalnya ia menciptakan teknologi yang memakai prinsip
dasar sayap burung untuk pesawat. Bayangkan seandainya para penemu itu nggak
punya mimpi dan bersikap ‘apa adanya’ aja ketika transportasi masih berupa sapi
atau kuda yang menarik gerobak. Kamu nggak bakalan tahu asyiknya terbang
(padahal sekarang aja saya juga belum tahu tuh rasanya naik pesawat terbang
hehehe).
Kamu kenal juga kan
dengan Thomas Alfa Edison? Yup, dengan mimpinya untuk menjadikan dunia lebih
terang pada malam hari, ia berusaha menciptakan lampu pijar alias bohlam.
Kayaknya nih, tanpa dorongan mimpi besarnya itu, mungkin aja kan kita kini
masih pake obor dan lampu teplok?
Tapi yang paling
hebat dan nggak ada duanya tuh mimpi Rasulullah untuk menyatukan umat dalam
naungan satu sistem, Islam. Betapa beliau mengerahkan seluruh daya upaya untuk
mewujudkan mimpinya. Nggak peduli dilempari batu, kotoran hewan, dan ancaman
dari musuh-musuhnya, beliau maju terus pantang menyerah untuk mendobrak sistem
kufur dan menggantinya dengan sistem Islam saja.
So, mimpi tiap orang pastilah tak sama. Ketika kamu mimpi ingin jadi ahli
nuklir yang bertakwa tentu tak sama dengan mimpi temanmu yang ingin jadi rocker
beriman ala sinetron Kiamat Sudah Dekat, misalnya. Atau kamu yang punya
mimpi dapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah sampai tinggi, eh, temanmu yang
mendapat kesempatan itu di tangan, malah melepaskannya. Ada loh yang seperti
ini. Ternyata ia lebih memilih menikah dan ikut suami ke lain kota daripada
mengambil tuh beasiswa. Padahal yang ngiler pingin banget dapetin tuh beasiswa
udah ngantri, eh...enak aja dianya melepas.
Hal ini juga sah-sah
aja kok. Nggak salah. Itu karena memang mimpi tiap orang sungguh beraneka
ragam. Tak sama. Jadi, mimpi itu adalah hal yang manusiawi ada pada diri kita.
Bahkan, manusia yang normal mustahil hidup tanpa mimpi, cita-cita or harapan
yang ingin diraih. Kamu bisa bermimpi hal-hal yang mubah seperti pingin kaya,
punya rumah mewah, harta berlimpah, suami/istri cakep dan tajir dll. Atau yang
agak bergengsi dikit, kamu bermimpi jadi dokter, insinyur, ahli nuklir yang
bertakwa de el-el. Tapi ada juga yang mimpinya high quality dengan
menjadi remaja gaul, syar’i, dan mabda’i (Ehm... ini sih motto Studia
dong ya?)
Kenapa harus punya mimpi?
Orang hidup tuh kudu
punya mimpi. Karena manusia adalah makhluk yang dinamis. Dengan mimpi yang kita
punya, ada ‘sesuatu’ yang membuat kita berusaha ingin meraihnya. Bo’ong banget
kalo kamu bilang punya mimpi jadi ahli komputer tapi tak ada upaya untuk
mewujudkannya. Kamu pilih habiskan waktu untuk bermalas-malasan, hura-hura
menghabiskan waktu untuk nonton film, dugem, dan segala hal yang tak ada
kaitannya dengan mimpimu.
Lebih lucu lagi kalau
bermimpi masuk surga tapi asyik mojok berduaan dengan pacar dan tiap hari
melakukan maksiat. Udah sholat cuma dua kali setahun, pas waktunya sholat Idul
Fitri dan Idul Adha aja, puasa Ramadhan juga banyak batalnya. Kalo itu
dilakukan sampe kamu out dari dunia ini tanpa sempet tobat, wah itu
bukan mimpi masuk surga, tapi isyarat dapat tiket ke neraka secara express. Naudzubillah.
So, gimana dong supaya antara mimpi matching dengan kenyataan?
Jika kamu ingin jadi ahli komputer, kamu harus menciptakan jalan ke arah sana
untuk mempermudah mewujudkan mimpimu. Mulai rajin-rajin aja pegang komputer
meski pinjam teman or jadi penjaga warnet misalnya. Kamu kudu cinta dan sering
bergaul akrab dengan segala sesuatu yang berbau komputer. Jangan sampe kamu
nggak bisa bedain yang namanya monitor dan CPU. Walah?
Begitu juga jika kamu
pingin masuk surga. Tempuh semua jalan yang bisa mengantarkan kamu ke surga.
Gimana caranya? Pertama banget nih: Ngaji. Sebab dengan ngaji or belajar,
ibaratnya kamu dapat peta untuk menuju surga lewat jalur yang baik dan benar.
Bahkan aneh banget
kalo ada orang hidup tapi tak punya mimpi. Tanpa mimpi, bagaikan sayur tanpa
garam. Hambar, man! Tanpa mimpi, kamu nggak bakal punya sesuatu sebagai standar
untuk diraih di masa depan. Tanpa mimpi, kamu akan jadi mayat yang hidup. Nggak
ada upaya untuk memperbaiki diri dan nasib kamu.
Tanpa mimpi, kamu
akan melakoni hidup ‘apa adanya’. Dalam arti yang negatif. Kamu yang sekarang
merasa menjalani hidup serba sulit di era kapitalisme ini, jadi pasrah.
Sudahlah BBM naik, uang saku dikurangi karena ortu juga pailit, eh...ternyata
harga-harga yang lain ikut selangit. Mau beli buku mahal, jajan mahal, semua
mahal. Bukan naik sih katanya, hanya menyesuaikan harga dengan kenaikan BBM.
Dunia kamu jadi terasa sangat sempit. Kamu ‘pasrah jendral’ dengan kondisi tak
ideal ini. Tak ada keinginan untuk mengubahnya meski barang sedikit pun. Bila
hidup jadi semakin sulit dan sulit aja, bakalan cepet putus asa bagi kamu yang
nggak punya mimpi untuk berubah.
Ini beda banget
dengan kamu yang sedari awal sudah punya dan tahu apa mimpi-mimpinya dalam
hidup. Dengan mimpi, kamu berusaha meraih yang terbaik dalam hidupmu. Mimpi
ingin pintar, kamu ujudkan dengan belajar rajin. Mimpi ingin sukses, kamu
ujudkan dengan kerja keras secara cerdas dan disiplin. Mimpi ingin mengubah
kondisi masyarakat yang sekarat karena tak melaksanakan syariat, kamu ujudkan
dengan rajin ngaji dan memahami kondisi umat sebagai langkah awal untuk
perubahan.
See, dengan mimpi kamu jadi punya arah mau kemana dan ngapain dalam hidup
ini. Bukan sekadar ikut arus. Kalo angin ke barat ikut ke barat, kalo angin ke
timur ikut ke timur.
Dengan mimpi kamu
jadi percaya diri. Di saat semua menikmati janji-janji semu demokrasi, kamu
tampil cerdas dengan mencampakkannya. Di saat semua berpikir masalah bangsa ini
bersumber di akhlaknya, kamu dah paham kalo itu cuma ekses or akibat sampingan
dari permasalahan yang lebih mendasar, yakni tak diterapkannya Islam sebagai
ideologi negara.
Dengan mimpimu, kamu
punya resep yang ces pleng alias jitu untuk menyembuhkan masyarakat kita yang
sakit ini. Kamu pun jadi remaja bukan yang biasa-biasa aja, tapi salah satu
sosok perubah yang dengan mimpinya jadi punya nilai lebih pada semangat dan
aktivitasnya di hadapan Allah. Hmm...ternyata punya mimpi bisa begitu dahsyat
kan?
Mimpi yang baik dan bener
Idih...emang ada
mimpi yang baik dan bener? Jelas ada dong. Ujian aja kamu ngejawabnya kudu baik
dan bener, apalagi menetapkan mimpi kamu. Tanpa jawaban yang baik dan bener,
pasti ujian kamu nggak lulus.
Begitu juga mimpi.
Tanpa mimpi yang baik dan bener, kehidupan kamu juga pasti nggak baik dan
bener. Trus, gimana sih punya mimpi baik dan bener itu?
Mimpi yang baik dan
bener itu kalo ia realistis, yaitu antara mimpi-mimpi kamu dan kemampuan harus
seimbang. Sesuatu yang tidak mudah dan tidak sukar untuk dicapai. Karena kalo
mimpi itu mudah dicapai, kamu bakal nyepelein dan ceroboh, menganggap enteng
mimpi or cita-cita kamu dalam hidup. Begitu sebaliknya. Jika kamu mempunyai
mimpi yang tinggi tapi kemampuan minim, ini bisa bikin kamu putus asa. Jadi
gimana dong? Kalo mimpi kamu tinggi, berarti kamu kudu mengasah kualitas diri
kamu juga tinggi. Biar imbang dengan mimpi kamu, gitu loh.
Trus, ada kalanya
mimpi itu bisa terwujud saat kita masih hidup. Tapi ada kalanya pula mimpi itu
begitu besar sehingga butuh waktu lebih panjang daripada umur kita untuk
mewujudkannya. Apalagi bila mimpi itu adalah mimpi kolektif yang dipunya oleh
kaum muslimin. Wuih, keren banget kan?
Ketika Rasulullah
saw. masih hidup, beliau punya ‘mimpi’ bisa menaklukkan Persia dan Romawi.
Padahal Persia dan Romawi di jaman itu ibaratnya Uni Sovyet dan Amerika, super
power, dibandingkan dengan negara Islam yang masih baru berdiri dan kecil.
Tapi mimpi Rasulullah
bukan mimpi asal mimpi. Meski beliau tak sempat menyaksikan ditundukkannya
kedua negara adidaya itu, tapi Muhammad al-Fatih mewujudkan mimpi Rasulullah
menjadi nyata ketika menaklukkan Konstantinopel alias Byzantium yang merupakan
pusat kekaisaran Romawi Timur pada 1453 M (857 H).
Sobat, Muhammad
al-Fatih, pemimpin para pemuda yang usianya belum genap 23 tahun telah
dimuliakan oleh Allah melalui pujian Rasulullah saw. sebagai pembebas
Konstantinopel: “Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin (yang membebaskan)
Konstatinopel dan sebaik-baik tentara adalah tentaranya.” (HR
Ahmad)
Nah, sekarang tinggal
Roma (Vatikan), yang belum ditaklukkan. Semoga kita semua bisa membebaskannya
dari kekufuran dan menjadikannya wilayah Islam. Siap?
Bila iya, maka kamu
pasti punya mimpi (baca: keinginan) yang sama dengan mimpi Rasulullah. Mimpi
ingin mengembalikan kehidupan Islam dengan syariah dan Khilafah. Mimpi ini
begitu besar dan mulia. Sejak diruntuhkannya institusi kekhilafahan Islam pada
3 Maret 1924 lalu, kaum muslimin yang sadar kewajiban untuk menegakkannya lagi,
bermimpi or bercita-cita bisa hidup mulia dalam naungan Khilafah Islam.
Bagi sebagian orang
yang tak tahu bagaimana cara menempuhnya secara riil dan gamblang, maka mereka
berpikir mimpi ini adalah mimpi yang utopis, sia-sia or cuma khayalan. Tapi
bagi yang tahu dengan jelas langkah-langkah apa yang kudu ditempuh, hambatan
apa saja yang menghadang, peluang-peluang yang harus diciptakan, tentu merasa
yakin sekali bahwa Khilafah Islam hanya tunggu waktu. Apalagi bila pertolongan
Allah sudah berbicara, udah deh, siapa yang bakal bisa membendungnya?
So, jangan takut untuk bermimpi yang tinggi. Apalagi kalo mimpi itu
sesuai banget dengan mimpi yang dipunya Rasulullah tercinta. Jadi kalo ada yang
bertanya “what’s your sweetest dream?” Jawab dengan yakin, “Tegaknya Khilafah
Islamiyah”, tentu. Tetap semangat![ria: riafariana@yahoo.com]