STUDIA Edisi 273/Tahun ke-6 (26 Desember 2005)
Sobat
muda muslim, nggak terasa ya kita udah ada di ujung tahun 2005. Setahun
itu memang cepat sekali. Benar juga kata Musashi, “Seribu tahun itu
ibarat kilatan cahaya”. Ragam peristiwa tentu sudah kita jalani selama
ini. Jika kamu umur 16 tahun saat ini, maka hidupmu yang sudah dilalui
adalah selama itu. Dan di penghujung tahun ini, insya Allah usiamu akan
memasuki sweet seventeen, usia 17 tahun!
Hitungan
waktu memang ukuran yang dibuat manusia untuk menandai perubahan atau
lamanya proses. Dalam kamus malah lebih jelas disebut bahwa waktu
adalah rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada
atau berlangsung. Supaya terlihat perubahan dari sebuah proses, maka
ditetapkanlah waktu. Misalnya aja, setahun itu 12 bulan. Sebulan itu
30/31 hari. Sehari adalah 24 jam. Dan 1 jam 60 menit. 1 menit 60 detik.
Batasan aturan seperti itu dibuat untuk mengukur seberapa lama kita
melakukan sebuah kegiatan dan lain sebagainya.
Jika
saya menulis di judul artikel ini “jalan masih panjang”, tentunya punya
ukuran. Mengapa disebut masih panjang? Memangnya berapa panjangnya?
Berapa panjang jalan yang sudah dilewati selama ini? Kemungkinan besar
pertanyaan mengarah ke sana. Meski kelihatannya klise, tapi kita
ternyata masih butuh dengan kalimat seperti ini. Pertanyaannya: untuk
apa?
Saya
bisa menjawab bahwa dengan menuliskan “jalan masih panjang” ingin
menekanan bahwa kita masih ada waktu untuk melangkah lebih jauh dalam
hidup ini. Soalnya kita udah ngerasa berjalan. Cuma memang belum banyak
pengalaman yang dialami, masih sedikit wawasan yang kita dapatkan,
bahkan masih kecil kontribusi amal kita untuk kehidupan ini. Selain
itu, perjalanan hidup kita dalam menyebarkan Islam juga masih harus
menempuh perjalanan panjang. Mungkin akan melelahkan, membuat kita tak
bisa bertahan, bahkan gugur di tengah jalan. Sangat boleh jadi bukan?
Ya, sangat boleh jadi.
Semangat perubahan
Nah,
kalo kita udah sepakat dengan hitungan waktu, udah setuju dengan
batasan ukuran waktu, ada baiknya kita mulai merenung dalam-dalam,
sudah seberapa jauh kita melangkah dalam hidup ini? Adakah
perubahan-perubahan yang berarti dalam hidup kita? Kita harus berubah?
Ya, jika perubahan itu ke arah kebaikan atau memang dengan perubahan
itu akan memberikan manfaat yang banyak. Tidak sekadar berubah atau
asal berubah.
Sekadar
bertanya, kamu tahu grup musik KoRn? Nah, di album mereka yang
kedelapan dilakukan revolusi alias perubahan besar-besaran. Band metal
yang udah mengguncang panggung Woodstock 1999 itu seolah muncul dengan
nyawa baru dalam album terbarunya bertitel See You on The Other Side.
Perubahan
apa yang dilakukan Jonathan Davis, sang vokalis KoRn dan juga koleganya
yang kayaknya udah dikenal banget sama penggemar KoRn, seperti David
Silveria (si tukang gebuk drum), James “Munky” Shaffer (gitar), dan
Fieldy yang kebagian betotin bas?
Ehm,
KoRn yang dikenal doyan bermain hip metal, kini nggak malu kalo harus
memainkan lagu slow yang diiringi piano akustik, biola dan juga bagpipe
Skotlandia. Paling nggak itu bisa disimak dalam lagu Seen It All.
Perubahan KoRn ampir sama dengan Metallica ketika membesut Black Album.
Di album itu ada lagu manis yang kayaknya aneh banget kalo itu keluar
dari tampang-tampang garang James Hetfield cs. Lagunya? Pasti kamu yang
penggemar Metallica tahu semua. Yup, lagu itu berjudul Nothing Else Matters.
Nih lagu cinta yang menurut saya romantis banget. Ternyata, Metallica
melanggar janjinya sendiri untuk tak pernah bikin lagu romantis.
Tapi
itulah perubahan. Kata pepatah, “Tak ada yang abadi, kecuali perubahan
itu sendiri”. Kisah KoRn dan Metallica sekadar cantolan aja. Sekadar
contoh bahwa kita tak malu dan nggak takut untuk berubah. Meski KoRn
dan Metallica hanyalah grup band. Tapi kita bisa mencontoh semangatnya.
Semangat untuk berubah.
Jika
KoRn hanya berubah dalam soal gaya musik, kita harusnya lebih keren
lagi, yakni mengubah kebiasaan hidup yang nggak baik. Syukur-syukur
kamu kemudian bisa mengubah secara revolusioner gaya hidup kita. Kita
yang tadinya jahat, bisa berubah jadi baik. Kita yang pemalas akan
menjadi super rajin. Kita yang sama sekali tak diperhitungkan di kelas,
ternyata bisa menjadi juara umum menjelang kelulusan. Kita bisa berubah
karena punya impian, punya obesi untuk menjadi lebih baik dan dinamis.
Bukan mustahil kan?
Memang
sih, perubahan nggak bisa langsung terasa hasilnya. Perubahan itu
memerlukan proses, dan mungkin waktu yang tak sebentar. Jalan yang
ditempuh juga sangat boleh jadi panjang banget, berliku, berkelok, ada
tanjakan dan turunan. Tapi demi sebuah perubahan, semua itu akan dengan
semangat dalam menjalaninya.
Sobat,
mumpung kita masih punya kesempatan saat ini, kita kayaknya harus
merasa bahwa jalan kita masih panjang, sehingga akan tergerak terus
untuk semangat melakukan perbaikan hidup. Bukankah kita pernah
diajarkan bahwa hidup itu harus selalu lebih baik setiap waktunya? Kalo
hari ini lebih jelek dari kemarin, itu artinya rugi. Kalo hari ini sama
dengan kemarin berarti nggak ada peningkatan. Iya kan?
Allah mengajarkan kepada kita dalam firmanNya (yang artinya):“Demi
masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan
nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati
supaya menetapi kesabaran.” (QS al-‘Ashr [103]: 1-3)
Mengerjakan
amal shalih tentunya mengerjakan kebaikan. Kita yang masih malu untuk
berubah, sudah saatnya memberanikan diri untuk melakukan perubahan
dalam hidup ini. Ahli maksiat sekali pun, jika dia mau untuk
mendengarkan omongan orang yang baik atau petunjuk yang tak
disangka-sangka dari sebuah peristiwa atau seseorang, insya Allah akan
berubah menjadi orang yang baik-baik.
Syaikh
Fudhail bin Iyadh, seorang ulama dan menjadi salah satu guru Imam
Syafi’i punya sisi gelap dalam hidupnya sebelum menjadi ulama.
Dikisahkan bahwa Fudhail bin Iyadh, semasa masih jahat, bermaksud
mengganggu seorang wanita jelita. Ketika sedang memanjat tembok rumah
wanita itu, tiba-tiba terdengar olehnya dari jendela rumah alunan merdu
bacaan al-Quran yang artinya: “Belumlah datang waktunya bagi
orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan
kebenaran yang telah turun (kepada mereka).” (QS al-Hadiid [57]: 16)
Ayat
tersebut menyentak sanubari Fudhail bin Iyadh, membuatnya terdiam di
atas tembok. Tiba-tiba Fudhail bin Iyadh merasa persendiannya lumpuh.
Lalu dengan tubuh gemetar dia mengiba, “Oh Tuhan, telah tiba waktuku.
Telah tiba waktuku.” Dia pun turun dari tembok dan berjalan pulang
dengan hati bertaubat setulus-tulusnya.
Karena
kemalaman di jalan, Fudhail bin Iyadh istirahat di sebuah rumah kosong
yang ditemuinya. Namun ternyata, di dalam rumah tua itu ada serombongan
musafir yang tampaknya juga sedang beristirahat.
“Ayo kita berangkat sekarang saja,” dari luar bilik Fudhail mendengar seorang dari mereka berkata demikian.
Yang
lain menjawab, “Jangan, lebih baik tunggu sampai pagi. Sebab, pada
malam-malam seperti inilah biasanya si Fudhail menjalankan aksinya.”
Mendengar
percakapan mereka itu, Fudhail menampakkan dirinya sambil berkata,
“Akulah Fudhail. Tapi jangan takut, sekarang aku telah bertaubat dan
tidak akan menyamun lagi.” (Jurnal Islamia, April-Juni 2005)
Hidayah tak ‘gratis’
Sobat muda muslim, jalan kita masih panjang, insya Allah masih ada banyak kesempatan bagi kita untuk melakukan banyak perubahan revolusioner
dalam hidup kita. Berubah ke arah yang benar dan baik tentunya. Harus
ada kekuatan dan niat yang mantep dari kita untuk berubah. Kalo nggak,
ya susah, Bro. Allah Swt. berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS ar-Ra’d [13]: 11)
Itu
sebabnya, memang kudu ada upaya dari kita. Jadi nggak ngandelin ‘tangan
takdir’. Petunjuk alias hidayah itu sebetulnya udah banyak di
kanan-kiri; depan-belakang; atas-bawah dalam hidup kita. Ada bacaan
yang menuntun, ada ucapan orang-orang yang mengajarkan kebenaran dan
kebaikan. Tapi sayangnya, kita seringnya menyepelekan, ogah denger
apalagi baca. Cuek banget, gitu lho.Padahal, itu jalan menuju hidayah.
Menurut
Imam as-Sya’rawi, bahwa orang yang diberikan hidayah atau petunjuk itu
seperti kita bertanya tentang alamat rumah seseorang, lalu diberitahu
oleh orang yang kita tanya, dan kita langsung mengikuti petunjuk itu
hingga sampai ke alamat rumah orang yang kita maksud. Jadi memang ada
upaya juga dari kita. Tul nggak?
Soalnya
aneh banget kan kalo misalnya kita nanya alamat rumah temen kita. Udah
dikasih tahu, tapi kita malah nggak mengikuti petunjuknya, ya udah
nggak bakalan ketemu tuh. Padahal itu hidayah udah nampak segede-gede
gajah kali. Tapi kita cuek. Itu sebabnya, kalo ada anak cewek yang
ditanya, “Kenapa kamu belum pake jilbab dan kerudung?”, lalu dia
menjawab, “Waduh, saya belum dapat hidayah Mas!” Hmm.. ia sebetulnya
bisa dibilang menyia-nyiakan hidayah. Karena yang ngasih tahu udah
banyak, al-Quran juga udah turun semua ayatnya, mungkin ia rajin
membacanya dan bahkan jadi juara MTQ.
Jadi,
kalo menerjemahkan pendapatnya Imam as-Sya’rawi, nih anak cuma ngapalin
jalan dan alamat orang yang ditanyanya aja, tanpa bergerak untuk
mengikuti petunjuk sehingga sampai ke yang dia tuju. Bener nggak sih?
Jadi hidayah emang nggak ‘gratis’, tapi kudu ada usaha dari kitanya
juga. Tolong catet ye.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab Miftahu Daarissa’aadah
menjelaskan bahwa mengikuti petunjuk Allah Swt. adalah membenarkan
pemberitahuanNya tanpa menampakkan keraguan yang merusak pembenaran
itu, serta melaksanakan perintahNya tanpa adanya hawa nafsu yang
menjadi penghalang. Kedua hal ini merupakan inti keimanan, yaitu
pembenaran berita dan ketaatan terhadap perintah. Kemudian kedua hal
tersebut diikuti dua perkara. Yaitu meniadakan keraguan yang
menghalangi dan mengotori kesempurnaan itu, serta menolak hawa nafsu
yang menyesatkan dan menggoda yang menghalangi kesempurnaan pelaksanaan
syariatNya.
Lebih
lanjut Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa mengikuti petunjuk Allah Swt.
mengandung empat perkara: Pertama, membenarkan pemberitahuanNya. Kedua,
berusaha sekuat tenaga untuk menolak dan melawan segala keraguan yang
dibisikkan setan-setan dari jenis jin dan manusia. Ketiga, menaati
perintahNya. Keempat, melawan hawa nafsu yang menghalangi seorang hamba
dalam menyempurnakan ketaatan.
Oke
deh, semoga sejenak kita berhenti untuk merenungkan perjalanan kita. Di
depan jalan masih panjang. Kita masih ada kesempatan untuk ngumpulin
ilmu, wawasan, dan amal baik kita untuk menempuh perjalanan panjang
kita. Semoga kita mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Semoga pula perubahan kita bukan hanya pada diri kita, tapi setelah
kita menjadi benar dan baik dengan Islam, kita juga harus berusaha
untuk mengubah masyarakat. Karena sejatinya, jika kita ingin berpikir
global harus punya prinsip: “Mari kita ubah individu dengan melakukan
perubahan terhadap masyarakat.”
Sobat,
semoga di tahun depan, kita menjadi bagian dari barisan orang-orang
yang berjuang untuk menerapkan Islam sebagai ideologi negara di bawah
naungan Daulah Khilafah Islamiyyah. Tentu, tujuannya adalah untuk
mengubah dan menyingkirkan sekular-isme-kapitalisme yang telah berjasa
menyengsarakan kehidupan umat manusia di dunia ini. Jalan masih
panjang. Semoga masih banyak waktu untuk melakukan perubahan. Salam
revolusi! [solihin: sholihin@gmx.net]