STUDIA
Edisi 269/Tahun ke-6 (28 Nopember 2005)
Tewasnya Dr. Azahari
yang dicap sebagai gembong teroris di Indonesia pada 9 Nopember 2005 silam di
Batu, Malang, Jatim, spontan menjadi headline media massa nasional.
Buronan nomor wahid berkewarganegaraan Malaysia ini emang udah lama diburu
pihak kepolisian. Terutama pascatragedi bom Bali I yang menyeret ‘Mr. Smile’
Amrozi cs ke balik jeruji besi. Sebab hasil penyelidikan polisi menyimpulkan
bahwa pimpinan aksi teror Bom yang menghujani negeri ini beberapa tahun
terakhir didalangi oleh duet maut, Dr. Azahari dan Noordin M. Top.
Tapi sobat,
seandainya DR. Azahari bisa ditangkep hidup-hidup, pasti asyik ya. Nah lho? Kok
pengen ditangkep hidup. Bukannya doi emang pantes mati. Eits! Jangan sewot
dulu. Coba pikir, seiring dengan kematian sang doktor, teka-teki pelaku aksi
teror bom selama ini tetep jadi tanda tanya besar. Kalo doi masih hidup,
mungkin bakal ketauan siapa dedengkot
teroris sebenarnya. Bukan cuma operatornya aja yang ketangkep. Mungkin
aja sang doktor punya atasan yang menyuplai bantuan dana maupun persenjataan.
Makanya kita doain aja Mr. TOP nasibnya lebih baik dari pak doktor alias
ketangkep idup-idup. Biar kebenaran sedikit terungkap.
Ya, kebenaran emang
kudu cepet-cepet diungkap. Lantaran pemberitaan media massa yang mengupas
tentang teroris akhir-akhir kian memojokkan Islam dan kaum Muslimin. Banyak
aktivis gerakan Islam yang dicurigai terlibat jaringan teroris lalu diciduk.
Pak Wapres pun jadi rajin ngegelar acara nonton bareng pemutaran rekaman vcd
pengakuan pelaku bom Bali II dengan ulama dan sesepuh pondok pesantren. Plus
pesan-pesan sponsor bagi pengasuh ponpes tentunya. Belum lagi permintaan mantan
kepala Badan Intelijen Nasional, Hendro Priyono, agar pemerintah melarang
pemikiran Sayyid Qutb dan mengubah kurikulum pesantren (Hidayatullah.com,
21/11/05). Semuanya mengarah pada pencitraburukan Islam. Bahaya neh!
Bahaya Kapitalisme tetap mengintai kita
Gencarnya pemberitaan
media massa seputar terorisme banyak menyita perhatian masyarakat. Apalagi udah
bawa-bawa unsur agama yang dianut pelaku teror. Agak sensi kan.
Akibatnya perhatian kaum Muslimin banyak tersedot dan melupakan kondisi
negerinya yang kian jauh dari aturan Islam. Kayak di negeri kita.
Berbagai kebijakan
pemerintah yang menyengsarakan rakyat tak ada habisnya dikeluarkan. Awal
oktober lalu kita dihadiahi kenaikan harga BBM yang gila-gilaan. Lebih dari 80
% bo! Kini, pemerintah berencana untuk mengimpor beras yang tentu saja
merisaukan para petani. Alamat harga beras dalam negeri di pasaran turun.
Kasian deh pak tani. Teganya pemerintah kalo rencana ini gol.
Dalam hal kemiskinan
yang dihasilkan kebijakan pemerintah, menurut hasil simulasi Investor Daily
(13/9), penduduk miskin akan bertambah sekitar 20 juta jika pemerintah pada
awal Oktober menaikkan harga BBM sebesar 35 persen. Dan ternyata, pemerintah
memutuskan kenaikan BBM lebih dari 80 %. Itu berarti perkiraan penduduk miskin
pasca kenaikan BBM bertambah 40 juta. Dan angka ini masih mungkin bertambah
karena keputusan kenaikan BBM awal oktober lalu bukan yang terakhir. Waduh!
Kemiskinan yang
menjerat sebagian besar masyarakat ini cukup berpotensi meningkatkan tindakan
kriminalitas. Demi memenuhi kebutuhan hidup yang kian sulit, para pelaku kejahatan
rela menggadaikan akal sehatnya. Sehingga permasalahan sepele pun bisa memicu
pertumpahan darah.
Di tengah masyarakat,
prostitusi yang merajalela kian mengancam kebejatan moral. Transaksi perzinahan
ini bisa ditemui dengan mudah dari pinggiran jalan hingga hotel berbintang.
Meski aparat kepolisian rajin melakukan razia, hasilnya hanya sebagian kecil
saja yang berhasil ditertibkan. Yang lainnya tetep berlangsung dalam lindungan
oknum aparat. Hmm.. kerjasama dalam kemaksiatan.
Ancaman yang sama
juga ditunjukkan oleh perilaku seks bebas remaja yang kian beringas. Baru-baru
ini tersiar kabar dua pasang siswa SMA di Cianjur yang kepergok guru tengah
berbuat mesum di dalam kelas saat jam pelajaran sekolah. Parahnya, mereka
merekam adegan bejatnya dengan ponsel yang mereka bawa. Dan ternyata, bukan
hanya dua pasang, tapi banyak siswa-siswi yang melakukan hal yang sama dalam
lingkungan sekolah di waktu yang berbeda. (Sinar Indonesia, 21/11/05).
Mungkin inilah
konsekuensi dari kurang seriusnya penanganan aparat berwenang dalam menertibkan
maraknya pornografi dan pornoaksi. Pergaulan bebas yang dikampanyekan
sinetron-sinetron remaja menggoda pemirsanya untuk mencicipi gaya hidup Barat
yang sekuler. Petualangan seks remaja Barat dengan mudah diakses melalui dunia
maya. Tabloid, majalah, atau vcd porno dijajakan dengan bebas di emperan jalan.
Kondisi ini memancing remaja yang selalu pengen tahu untuk membeli, menikmati,
mengkhayalkan, hingga mempraktikkannya di jalan yang salah. Naudzubillah!
Sobat, inilah
beberapa contoh permasalahan yang setiap hari mengancam kita. Permasalahan yang
timbul akibat dijauhkannya aturan Islam dalam kehidupan kita. Penerapan sistem
kapitalisme-sekulerisme oleh negara mengkondisikan masyarakat untuk hidup dalam
lingkungan yang bebas nilai. Sehingga menjadi budak materi dengan
mengejar-ngejar kesenangan duniawi. Parahnya, kebejatan yang ditimbulkan
kapitalisme seperti di atas tidak diekspos besar-besaran. Padahal sangat boleh
jadi jauh lebih berbahaya dibanding isu terorisme. Karena bukan hanya 100 atau
1000 orang yang menjadi korbannya, tapi miliaran orang yang terkena rusaknya
ide kapitalisme-sekularisme. Masa kita mau jadi mangsa kapitalisme terus sih?
Kita wajib nyadar, Bro!
Sobat, pascatragedi
WTC tahun 2001 yang memakan korban ribuan jiwa itu, Amerika langsung menabuh
genderang perang melawan terorisme. Malah George W. Bush gencar melobi para
pemimpin negara untuk ikut memperkuat barisannya memerangi aksi-aksi teroris.
Eh, ngomong-ngomong, siapa sih teroris yang dimaksud AS itu?
Bagi pemerintah AS,
teroris adalah orang dan kelompok yang dalam prinsip dan kegiatannya tidak
sesuai dengan kepentingan AS. Makanya meski terang-terangan melakukan
kekerasan, membantai dan mengusir penduduk Palestina hingga detik ini, Israel
sebagai anak kesayangan AS nggak dikalungkan julukan teroris kepadanya. Tapi
kalo terjadi peledakan bom yang bikin heboh, tudingan selalu diarahkan pada
kelompok Islam. Kalo nggak al-Qaidah, ya Jamaah Islamiyah. Basi banget kan?
Padahal IRA (Irish Republican Army) di Irlandia berasal dari Katoilik yang
berperang melawan Protestan. Di Spanyol, gerilyawan ETA (Euskadi Ta Askatasuna)
yang dicap sebagai teroris bukan berasal dari Islam. Kenapa sekarang kok jadi
sempit definisi terorismenya?
Emang basi sih. Tapi
AS paling jago ngangetin tudingan-tudingan yang udah basi itu. Buktinya, setiap
ada tragedi bom, AS pasti langsung ngerespon. Apalagi kalo pelakunya disinyalir
berasal dari kaum Muslimin. Udah deh, doi langsung getol menawarkan bantuan dan
kerjasama militer untuk menjaga keamanan negara terkait (padahal mah mau
menjajah tuh!). Pada tragedi Bom Bali II awal Oktober lalu aja Kedubes AS di
Jakarta langsung mengeluarkan pernyataan: “Kami akan terus bekerja sama dengan
teman-teman di Indonesia di dalam perjuangan bersama melawan terorisme dan kami
siap membantu apa saja yang kami bisa.” (Gatra.com, 03/10/05)
AS emang nggak
memerangi Islam atau Umat Islam secara keseluruhan. Tapi menurut Guru Besar
Sarah Lawrence College, Fawaz A Gergez dalam buku America and Political
Islam (1999), meski para pemimpin AS menolak hipotesis clash of
civilization, kebijakan AS pasca Perang Dingin memang sangat dipengaruhi
oleh ketakukan adanya “ancaman kaum Islamis” (Islamist threat).
Yup, AS cukup
paranoid dengan aksi-aksi gerakan Islam yang gencar melawan arogansinya.
Lantaran perlawanan ini dikhawatirkan bakal mengancam penguasa dari negeri
Muslim yang selama ini tunduk pada AS dan mampu menjaga kepentingan AS di
negeri itu. Kalo tetep dibiarin, perlawanan ini bakal merembet ke negeri-negeri
Muslim yang laen. Kondisi ini bagi AS udah red alert neh. Makanya,
sebelum merembet, AS berusaha untuk menghancurkannya selagi masih kecil dan
lokal. Nah, biar dapet dukungan dari dunia internasional, dirancanglah apa yang
mereka sebut the global war on terrorist. Sehingga, perang melawan
teroris tidak lain adalah perang melawan (gerakan) Islam. Itulah yang kini
sedang terjadi. Gitu ceritanya.
Makanya kita kudu
ngeh dengan hangatnya pemberitaan isu teroris di negeri ini pasca tewasnya DR.
Azahari. Boleh jadi ada agenda terselubung di balik semua itu.
Pertama, pencitraburukan Islam. Pemutaran vcd pengakuan pelaku Bom Bali II,
pengawasan terhadap pondok pesantren, penangkapan beberapa aktivis Islam yang
dituduh terkait dengan jaringan teroris, hingga larangan pengajaran ide dari
ulama sekaliber Sayyid Qutb tentu makin menguatkan opini Islam agamanya
teroris. Akibatnya, kaum Muslimin dibikin ciut nyalinya untuk menyuarakan
secara terbuka kebenaran Islam. Daripada ditangkep, mending nyari jalan
selamet. Ogah ikut dakwah. Dan sepertinya kondisi ini yang dikehendaki oleh
penggagas kampanye The War Against Terorism.
Kedua, pengalihan perhatian. Betul. Isu terorisme ini yang dianggap paling
berbahaya cukup banyak menyedot perhatian masyarakat. Kebejatan moral dan
kerusakan tata hidup akibat penerapan aturan kapitalisme-sekulerisme lambat
laun luput dari perhatian masyarakat. Padahal ini nggak kalah bahayanya lho
dengan isu teroris itu. Malah lebih berbahaya lantaran kerusakan ini nggak ada
matinya selama aturan kapitalisme-sekulerisme itu tetep dipelihara oleh negara.
Dan selama itu pula korban kian banyak berjatuhan. Inilah bom waktu yang tengah
ditanam oleh musuh-musuh Islam di negeri-negeri Muslim. Waspadalah!
Melek politik itu penting
Sobat, di sinilah
perlunya kesadaran politik. Nggak ada salahnya kita berpikir ‘melawan arus’
bahwa jangan-jangan terorisme di Indonesia melibatkan aksi rekayasa dari pihak
asing. Soalnya menurut Pengamat Timur Tengah Riza Sihbudi mengatakan bahwa
penyandang dana teroris yang disebut dari Timur Tengah itu sangat dimungkinkan
berasal dari Israel. (Media Indonesia online, 20/10/05). Atau menurut
Mantan Direktur Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN), AC Manulang,
kemungkinan orang yang terbunuh adalah “Azahari-Azaharian”. Ada rekayasa intelijen,
katanya. (Hidayatullah.com, 15/11/05)
Oke deh sobat, nggak
rugi kan kalo kita melek dengan urusan politik. Kita jadi tahu banyak dan nggak
gampang terjebak oleh opini yang menyudutkan Islam dan kaum Muslimin. Kalo kita
cuek, bisa-bisa kita nggak diakui sebagai seorang Muslim. Seperti sabda
Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh al-Hakim, “Siapa saja di pagi hari
tidak memikirkan masalah kaum Muslimin, maka bukan termasuk golongan mereka.”
Nggak lah yaw!
So, meski isu teroris
banyak memangsa para aktivis, tetaplah bersikap optimis. Bahwa Islam bukan
agama teroris. Isu teroris dan sistem kapitalis itulah yang patut diwaspadai.
Jadi jangan lupakan bahaya kapitalisme. Itu sebabnya, mari kita sama-sama
gencar menyuarakan kebenaran Islam secara terbuka dan getol membongkar
kejahatan dan keburukan kapitalisme. Yakin saja, karena cahaya Islam tak akan
pernah padam. Tak akan pernah. Itu sebabnya, kita harus semangat
memperjuangkannya. Allahu Akbar! [Hafidz: hafidz341@telkom.net]