STUDIA
Edisi 267/Tahun ke-6 (14 Nopember 2005)
Kewajiban shaum alias
puasa di bulan Ramadhan udah tamat. Hari Raya Idul Fitri baru aja lewat.
Hidangan ketupat pun habis disikat. Nggak ketinggalan, baju lebaran ikut
dipamerkan di lingkungan sanak kerabat. Namun, apa yang kita dapat? Adakah
kesan yang dalem yang kita dapet dari Ramadhan kemaren? Tentu, kita sendiri
yang tahu.
Sobat, lima tahun
lalu, seorang Inneke Koesherawati alias Bunda Arini punya pengalaman religius
yang menarik di bulan Ramadhan. Dulunya doi dikenal sebagai bintang film panas
sebangsa adegan kebakaran hutan atau dikejar-kejar lahar gunung berapi (upss..
maksudnya, seks!). Ceramah agama yang membanjiri tayangan televisi saat itu
memaksa doi untuk menyimak meski dengan rasa malas.
Alhamdulillaah, satu
kutipan pernyataan seorang ustadz perihal taubatan nasuha
(sebenar-benarnya tobat) bagi pelaku maksiat mampu membuka jalan masuk cahaya
Islam di hatinya. Yup, pasca ramadhan itu, doi insyaf dan berusaha mengubur
masa lalunya yang kelam dengan ketekunannya mempelajari dan mengamalkan ajaran
Islam.
Ini baru satu contoh
kecil aja sobat. Mungkin banyak di antara temen-temen kita yang punya
pengalaman sejenis di bulan Ramadhan. Pengalaman unforgetable yang
membuka hati dan pikiran kita tentang ajaran Islam. Subhanaalah. Nikmat
banget rasanya ketika Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang menunjukkan
jalan untuk taubatan nasuha di bulan penuh ampunan ini.
Lingkungan yang
kondusif di bulan mulia nan penuh rahmat tersebut bakal jadi berkah bagi insan
yang serius, dua rius, bahkan seratus rius berupaya memperbaiki dirinya. Asli.
Kita bakal nyesel dunia akhirat bin tujuh turunan kalo cuma mengisi bulan
Ramadhan seperti hari-hari lainnya. Tanpa ada peningkatan aktivitas ibadah
untuk menyongsong bonus pahala yang Allah obral abis-abisan. Garing banget tuh.
Makanya pasca Ramadhan kali ini, nggak ada ruginya dong kalo kita sedikit
merenung apa yang udah kita kerjain di bulan suci kemaren. Dan mo ngapain kita
setelah Ramadhan berlalu. Lanjuut!
Menengok bekal yang kita punya
Sobat muda muslim,
seperti yang udah sering kita denger, Ramadhan merupakan saat yang tepat bagi
kita buat ngumpulin bekal dunia dan akhirat. Bekal dunia berupa tambahan ilmu
tentang ajaran Islam yang bisa mengokohkan akidah kita di tengah serangan
gencar budaya sekular. Sementara untuk bekal di akhirat, Allah membuka pintu
rahmat seluas-luasnya di bulan suci ini.
Seperti sabda Rasulullah saw: “Datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan
keberkahan. Allah menaungi kamu di dalamnya. Dia menurunkan rahmat, melebur
dosa, dan mengabulkan permohonan di dalamnya. Allah akan melihat kegiatan dan
perlombaanmu di dalamnya. Dia membanggakan ini kepada para malaikat. Maka
perlihatkanlah kebaikan dirimu. Sesungguhnya orang yang celaka adalah orang
yang terhalang dari Rahmat Allah Swt.” (HR Thabrani)
Untuk urusan bekal
akhirat, memang cuma Allah yang tahu berapa saldo kita dalam catatan amal
sholeh. Tapi, Allah udah ngasih rambu-rambu aktivitas mana aja yang bisa
menambah pundi pahala kita. Makanya pinter-pinternya kita aja untuk memilih
aktivitas yang penuh manfaat dan berpahala. Soalnya, nuansa Ramadhan juga
menjanjikan kegiatan-kegiatan yang miskin manfaat dan minim pahala. Sayangnya
justru kegiatan model gini yang banyak digandrungi oleh remaja muslim. Waduh!
Di antara kegiatan
yang terkategori miskin manfaat adalah aktivitas wasting time alias
ngabisin waktu. Dengan alasan nunggu bedug maghrib, bermain untuk mengalihkan
perhatian dari lapar dan dahaga banyak diminati. Soalnya kalo udah maen, suka
lupa waktu, lupa shalat, lupa tadarusan, lupa ikut ngaji de el el. Tahu-tahu
udah bedug maghrib. Padahal baru bada shubuh tadi maennya. Nggak heran kalo
permainan dadu sejenis monopoli, halma, atau ular tangga sempet meroket
popularitasnya di bulan Ramadhan. Begitu juga dengan keasyikan bermain video
game.
Ada juga yang mengisi
Ramadhan-nya dengan menambah jam tidur di siang hari. Kalo ditanya alasannya,
daripada berbuat maksiat yang bisa batalin puasa, mending tidur. Selain aman,
berpahala lagi. Emang sih, tidurnya orang puasa itu berpahala. Tapi, apa bener
cuma bermaksiat aja yang bisa dikerjain orang puasa selain tidur? Kalo emang
ngerasa ahli maksiat bukannya justru di bulan penuh ampunan ini saat yang tepat
untuk bertobat. Dengan hadir di pengajian untuk mengenal Islam lebih dalam,
membasahi lisan dengan tadarus al-Quran, atau menghabiskan malam dengan shalat
tarawih dan tahajud. Ini baru pilihan yang masuk akal. Betul?
Nah sobat, kebayang
nggak bekal yang kita punya kalo model kegiatan di atas jadi aktivitas
kebangsaan kita saat Ramadhan kemaren. Padahal perjalanan panjang dengan
tantangan yang lebih dahsyat dalam menghadapi ujian hidup dan godaan setan baru
dimulai pasca Ramadhan berakhir. Dan kita tahu kalo godaan setan itu nggak mempan
kalo keimanan kita mantap. Tapi, gimana kita bisa ngandelin iman kita kalo
kesempatan untuk merawatnya di bulan Ramadhan kemaren kita sia-siakan. Nah lho?
Rugi banget kan!
Ramadhan berakhir, lebaran hadir
Menjelang Idul Fitri,
keramaian di masjid-masjid yang ditemui saat awal Ramadhan berpindah ke pusat
perbelanjaan. Perburuan lailatul qadar kalah pamor dengan hujan diskon
gede-gedean yang ditawarkan di mal-mal. Semua pada sibuk berbelanja. Lebaran
udah kadung dikaitkan dengan penampilan baju, sepatu, tas, sampe dompet serba
baru. Padahal, boleh jadi tradisi pemberian baju baru awalnya hanya sebuah
bentuk reward alias penghargaan bagi adek-adek kita yang puasanya penuh.
Sayangnya, kian hari bentuk penghargaan ini bergeser menjadi tradisi menyambut
idul fitri.
Padahal Imam Syafi’i
pernah berpesan, “Idul Fitri bukanlah diperuntukkan bagi orang yang
mengenakan sesuatu yang serba baru, tetapi dipersembahkan bagi orang yang
ketaatannya bertambah”.
Sobat, terkadang kita
kebablasan mengekspresikan kebahagiaan menyambut lebaran. Sampe-sampe ngerasa
Idul Fitri adalah akhir dari sebuah perjuangan melawan hawa nafsu. Padahal,
secara bahasa syawwal artinya peningkatan. Ini berarti, memasuki bulan
Syawal seharusnya kualitas ketakwaan kita meningkat seperti pesan Imam Syafii
di atas, bukannya malah nge-drop mentang-mentang nggak puasa lagi.
Pasca Ramadhan,
setan-setan yang terbelenggu bakal terbebas. Arus budaya Barat bakal kembali
menyapa remaja muslim di seluruh penjuru dunia. Gaya hidup hedonis plus pesta
pora dijajakan dengan kemasan perayaan Idul Fitri dalam konser-konser musik di
berbagai kota. Pergaulan bebas yang sempet direm saat Ramadhan kembali
dikampanyekan media massa. Seolah mengajak para aktivis pacaran untuk kembali
ke habitat baku syahwatnya. Gaswat kan? Jadi ati-ati ye.
Makanya para shahabat
dulu justru bersedih ketika Ramadhan akan segera berakhir. Seperti sabda
Rasulullah saw. sebagaimana dituturkan Ibn Mas’ud: “Sekiranya para hamba
(kaum Muslim) mengetahui kebajikan-kebajikan yang dikandung bulan Ramadhan,
niscaya umatku mengharapkan Ramadhan terus ada sepanjang tahun.” (HR Abu
Ya’la, ath-Thabrani, dan ad-Dailami)
Ketika lebaran hadir,
idealnya kita udah menjalani masa karantina yang menggembleng kita untuk
menundukkan hawa nafsu dan meningkatkan ketaatan kepada Allah dan RasulNya.
Sehingga bulan Syawal justru menjadi bulan penentuan bagi kita. Sejauh mana
kita bisa mempertahankan keberhasilan Ramadhan. Masihkah kita mampu menjaga lifetime
battery akidah kita hingga memasuki masa charge di Ramadhan yang
akan datang.
Tetap nyalakan semangat Ramadhan-mu!
Bener sobat. Nggak
gampang ngadepin godaan setan di sebelas bulan berikutnya pasca Ramadhan.
Apalagi kalo bekal yang seharusnya kita kumpulkan di bulan Ramadhan malah
disia-siakan. Tentu perlu perjuangan lebih keras lagi untuk mempertahankan
keislaman kita. Idih, kayak mo perang aja persiapanya.
Emang. Saat ini,
kehidupan sekular udah menjadi kebiasaan dalam keseharian kita. Mungkin kita
baru menemukan nuansa lingkungan yang agak islami hanya di bulan Ramadhan aja.
Makanya, mumpung Ramadhan belon lama lewat, tetep jaga semangat kita agar tetap
menyala. Caranya?
Pertama, upgrading
ilmu. Pasca Ramadhan boleh jadi kegiatan pengkajian Islam nggak lagi ramai
diadakan. Tapi bukan berarti nggak ada sama sekali. Tetep ada asalkan kita mau
dan serius ngikutinnya. Lebih bagus kalo menindaklanjuti kegiatan pengajian
atau sanlat yang udah ada di Ramadhan kemaren. Kan oke punya tuh. Kita dan
temen-temen jadi punya sarana untuk menambah ilmu Islam.
Aktivitas menuntut ilmu
ini nggak boleh kelewat sobat. Kapan aja, di mana aja, dengan siapa aja kita
bisa menambah wawasan Islam. Di dalam maupun di luar bulan Ramadhan. Kok
kayaknya penting banget sih ngaji itu? pasti dong. Hare gene, cuma
akidah Islam yang bisa menjaga diri kita dari pesona kemaksiatan yang
disyiarkan budaya Barat.
Dengan ikut ngaji,
kita ada usaha untuk menjaga akidah tetep kokoh dan terpelihara. Nggak gampang
dikoyak oleh ide-ide kufur berlabel Islam model pacaran Islami atau kesamaan
semua agama yang dikampanyekan musuh-musuh Islam.
Selain ngaji, upgrading
ilmu Islam juga bisa kita lakukan dengan menumbuhkan ketertarikan membaca
media-media Islam. Nggak mesti yang berat bin kompleks isinya kalo emang
kesulitan ngertinya. Masih banyak kok media Islam alternatif yang cocok buat remaja tapi tetep terjaga
isinya dari kontaminasi ide dan budaya kufur. Coba deh. Asyik lho! (salah
satunya STUDIA, deuuu geer banget! Hehehe…)
Kedua, menjaga dan meningkatkan taqarrub Ilallah. Meski nggak ada
shalat tarawih di malam hari, shalat tahajjud tetep ada kok. Walau puasa wajib
udah berakhir, bukan berarti yang sunnah juga abis dong. Biarpun nggak dikejar
target khatam al-Quran dalam satu bulan, tadarus al-Quran masih menjadi ladang
pahala tanpa henti lho. Yup, ramadhan emang udah berlalu. Tapi nggak otomatis
aktivitas ibadah kita mati kutu. Toh pahala Allah nggak cuman ada di bulan
Ramadhan aja kan. Dan malaikat Raqib-Atid tetep bersedia ‘kerja lembur’ untuk
mencatat amal ibadah kita di malam hari. Dengan menjalin kedekatan dengan yang
Maha Kuasa dan Maha Pemberi Pertolongan, tentu nggak ada alasan lagi untuk
takut atau bersedih hati menghadapi setiap godaan setan pasca Ramadhan. Betul?
Oke deh sobat, dua
tips di atas semoga bisa tetap menjaga semangat Ramadhan kita tetep menyala
sepanjang masa. Kita juga pengen lifetime battery akidah kita bertahan
lama hingga ajal menjemput. Karena itu, hari lebaran makan ketupat. Pasca
Ramadhan tetep semangat. Mengkaji, memahami, meyakini, mengamalkan, dan
memperjuangkan Islam.
Dan jangan lupakan
puasa sunat 6 hari di bulan Syawal ya. Biar pahalanya tambah lengkap. Seperti
diriwayatkan oleh jamaah ahli hadis, kecuali Bukhari dan Nasa’i, dari Abu Aiyub
al-Anshari bahwa Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan
Ramadhan diiringinya dengan enam hari bulan Syawal, maka seolah-olah ia telah
berpuasa sepanjang masa.” Okeh? Siip dah! [Hafidz: hafidz341@telkom.net]