STUDIA Edisi 265/Tahun ke-6
(10 Oktober 2005)
Rasa-rasanya nggak ada deh orang yang nggak mau dicintai. Saya
yakin kita semua pengen dicintai. Karena ketika dicintai seseorang, insya Allah
akan tumbuh rasa percaya diri. Cinta juga akan memberikan rasa pasti dalam diri
kita bahwa kita diakui sekaligus dihargai. Nggak kebayang banget kan kalo kita
dimusuhin temen. Percaya diri kita bakalan drop banget. Mau ketemu orang
tersebut jadi minder, dan mungkin malah takut. Terus, jelas aja kalo kita
dimusuhi berarti nggak diterima oleh teman kita itu. Artinya, kita nggak diakui
dan dihargai. Wuih, merana banget euy!
Sobat muda muslim, ngomongin cinta di bulan Ramadhan ini, tentunya
yang kepikiran sama kita adalah, bagaimana meraih cinta Allah di bulan yang
penuh berkah ini. Iya kan? Saya ingin memfokuskan pembahasannya ke sini. Karena
di bulan Ramadhan ini, Allah Ta’ala benar-benar obral pahala. Dia
memberikan cintaNya kepada kita semua, yang insya Allah adalah orang-orang yang
beriman, dengan beragam kesempatan untuk mengumpulkan pahala di bulan yang
penuh rahmat dan ampunan ini. Itu sebabnya, aneh banget deh kalo kita nggak
berusaha meraih cintaNya itu.
Jujur saja, jika kita ingin meraih cinta dari teman kita,
katakanlah yang lawan jenis. Pasti kita akan memoles segala apa yang kita
miliki agar bisa dilihat oleh orang yang diharapkan bisa memberikan cintanya
kepada kita. Abis-abisan kita dandan, dan jor-joran banget tampil sesempurna
mungkin untuk meraih cintanya. Cinta yang akan membuat kita merasa percaya
diri, diakui, dan sekaligus dihargai.
Beragam lagu tentang cinta antar lawan jenis saja bukan hanya
begitu indah didengar, tapi juga dirasakan. Gimana nggak, banyak pencipta lagu
cinta yang memasukkan emosinya ketika membuat lagu. Sehingga tak terasa sudah
mencengkeram emosi kita sejak pertama kali mendengarkan lagu cinta itu.
Maka, jika Radja bersenandung, “Aku tak ingin
melupakanmu, aku tak ingin meninggalkanmu…” dalam salah satu lagu cintanya,
yang kepikiran sama kita adalah bagaimana perasaan seseorang yang sedang jatuh
cinta itu nggak mau terpisah sedetik pun dari sang kekasih pujaan hatinya. Bahkan bila mungkin akan terus
menyalakan sinyal cintanya, agar amplitudo gelombang hati masing-masing saling
berinterfensi.
Nah, jika di Ramadhan ini kita ingin meraih cinta dari Allah Swt.,
maka seharusnya dan mungkin lebih dari apa yang disenandungkan Radja dalam
lagunya tersebut. Tentu kita ingin banget meraih ridho Allah en ngedapetin
cintaNya di bulan penuh berkah, rahmat, dan ampunan. Itu sebabnya, amat wajar
jika kita berusaha memperbaiki diri kita. Pikiran dan perasaan kita difokuskan
untuk melakukan sesuatu yang diinginkan Allah Swt. Perbuatan yang bisa
mendapatkan ridho dan cintaNya. Betul nggak sih?
Jangan sampe deh, kita ‘pinter kodek’ alias pengen enak sendiri.
Iya, kita pengen dapetin cinta dari Allah Swt., tapi kita sama sekali ogah
ngelakuin apa yang Allah perintahkan. Gimana bakalan bisa ngeraih cintanya. Itu
sama saja dengan niat kita ingin ditaksir orang yang kita idamkan, tapi kita
nggak berusaha menampilkan diri kita agar bisa dilirik oleh orang yang kita
harapkan akan memberikan cinta kepada kita. Mimpi kali yee?
Sobat muda muslim, rasanya pantes banget deh kalo kita mati-matian
berusaha untuk ngedapetin cintaNya di bulan yang terbaik dari bulan-bulan
lainnya dalam kalender hijriah ini. Sayang banget kan kita lewati begitu saja
bulan penuh bonus pahala ini. Kita yakin banget deh, jika memang kita nyadar,
pasti bakalan ngerahin segala daya dan upaya biar kita bisa dapetin kesempatan
meraih pahala yang udah disebar karena cinta Allah Swt. kepada kita. Iya nggak
seh?
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah akan membukakan
pintu-pintu surga dan menutup pintu neraka. Itu artinya, Allah memberi
kesempatan kepada kita untuk berbuat lebih banyak dalam mengumpulkan pahala.
Sabda Rasulullah saw.: Apabila tiba bulan Ramadan, dibuka pintu-pintu Surga
dan ditutup pintu-pintu Neraka serta syaitan-syaitan dibelenggu (HR
Bukhari dan Muslim)
Dalam sebuah hadis qudsiy Rasulullah saw. bersabda: Demi Dzat
yang jiwaku berada di tanganNya, bau mulut orang berpuasa benar-benar lebih
harum di sisi Allah daripada bau minyak kesturi. Dia meninggalkan makanannya,
minumannya, syahwatnya semata-mata karena Aku. Puasa itu adalah bagiKu. Dan Aku
sendirilah yang akan memberikan pahalanya. Dan kebajikan (pada bulan Ramadhan)
diberi pahala dengan sepuluh kali lipat kebajikan yang semisalnya. (HR
Bukhari dari Abu Hurayrah)
Cinta tapi eror
Aduuuh.. parah nggak sih, kalo cinta tapi eror? Saya sih nggak mau
nuduh-nuduh sama kamu. Nggak mau juga nuding-nuding siapa aja yang emang eror.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata eror yang diambil
dari bahasa Inggris (error) ini bermakna: kesalahan teratur, terjadi dalam
pemerolehan atau belajar bahasa. Bisa juga masuk dalam istilah hukum dengan
makna: kesesatan yang dapat menjadikan batalnya suatu perjanjian jika
menyangkut sifat pokok benda yang diperjanjikan.
Oke deh, kita nggak bakalan ngebahas lebih lanjut soal bahasa
tersebut. Kita maknai saja secara sederhana bahwa eror atau error itu sebagai
kesalahan. Nah, kalo ngomongin cinta tapi eror, berarti cinta yang salah. Cinta
yang keliru. Kita cinta tapi salah atau keliru dalam memaknai cinta dan cara
mendapatkan cinta tersebut. Malah, bisa jadi kita cinta tapi nggak nyambung
dengan upaya untuk mendapatkan cinta tersebut.
Ambil contoh kayak sekarang nih, saya yakin banyak banget dari
kita yang berusaha dan berlomba untuk meraih cinta di bulan Ramadhan ini, tapi
kayaknya juga nggak tahu caranya untuk meraih cinta tersebut. Sebagian mungkin
bukan lagi nggak tahu, tapi nggak mau tahu. Wah, gaswat itu namanya. Ada
yang puasa biar dapet pahala. Rela menahan rasa lapar dan haus. Bela-belain
nggak melakukan kegiatan berat dan bahkan minta ditambah jatah tidur. Tapi
lisannya sering nyakitin orang, lidahnya dipake ngegosip alias ngomongin
kejelekan orang, bahkan aktivitas pacaran tetep dilakuin meski dikurangi
frekuensi ketemuannya. Lha, itu sih, ngelaksanain satu kewajiban sambil
melanggar larangan lainnya.
Orang yang pacaran emang nggak batal puasanya, kecuali pas pacaran
mereka makan dan minum. Batal puasanya karena makan dan minum di siang hari.
Tapi aktivitas pacaran bisa mengurangi pahala kita. Itu sebabnya, Rasulullah
saw. bersabda: “Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak
mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga” (HR Ahmad)
Rugi banget! Rugi abis!
Nggak mau dong kita cuma dapetin lapar dan haus aja. Padahal, puasa itu
seharusnya menjadikan kita yang melaksanakannya mendapat predikat orang-orang
yang bertakwa. Allah Swt. berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS al-Baqarah [2]: 183)
Mana mungkin bisa ngedapetin segala yang diberikan Allah Swt. jika
kita nggak ngikutin prosedur yang ditetapkan oleh Allah Swt. untuk meraih
cintaNya? Plis deh.
Kalo kita pengen dapetin pahala di bulan Ramadhan karena cinta
kita kepada Allah Swt., maka untuk negdapetin segala yang Allah berikan buat
kita karena cintaNya kepada kita, tentunya kita harus meraihnya dengan aturan
yang sudah dijelaskan melalui tuntunan Allah dan RasulNya. Kalo nggak, pasti
cinta kita eror deh. Tul nggak?
Allah sayang banget sama kita
Sobat muda muslim, alhamdulillah sampai juga kita di Ramadhan ini.
Bulan yang setiap harinya Allah berikan kemudahan bagi kita untuk meraih pahala
yang sudah disiapkan untuk kita. Pahala yang banyak. Ampunan yang besar. Bahkan
di bulan ini pun Allah memberikan ‘super bonus’ dengan diturunkannya Malam
Kemuliaan alias “Lailatul Qodar”. Jika kita mendapatkannya dan ketika itu
kita sedang beribadah kepada Allah Swt., insya Allah pahala kita layaknya orang
yang beribadah selama 1000 bulan. Subhanallah.
Allah Swt. berfirman (yang artinya): Sesungguhnya Kami telah
menurunkannya (al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam
kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu
turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur
segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS
al-Qadr [97]: 1-5)
Abu Hurayrah ra berkata, bersabda Rasulullah saw.:”Siapa saja
yang bangun pada malam Qadr karena dorongan iman dan mengharap pahala dari
Allah, maka diampuni dosanya yang lalu.” (HR Bukhari, Muslim)
Lailatul Qadr
adalah malam yang penuh berkah dan rahmat dari Allah Swt. Oya, Qadr itu punya
makna al-Manzilah yang artinya kedudukan atau derajat. Selain itu
qadr juga bermakna asy-Syarif dengan arti kemuliaan. Tuh catet lho.
Jangan lupa ya…
Abu Bakar al-Warraq menjelaskan tentang kenapa dinamai dengan Lailatul
Qadr, beliau menyebutkan bahwa alasannya adalah karena pada malam tersebut
diturunkan sebuah kitab yang mempunyai Qadr (kemuliaan) oleh malaikat
yang mempunyai Qadr, kepada Rasulullah saw. yang mulai dan untuk umat
yang mulia pula. Subhanallah...
Entah, jika tidak ada Ramadhan, mungkin kita kebingungan gimana
caranya ngebersihin diri kita yang banyak dosa ini. Ini sekaligus menunjukkan
bahwa Allah Swt. tuh sayang banget sama kita, kaum muslimin. Karena dengan
Ramadhan, kita bisa berlomba meraih pahala yang tebarkan karena kecintaan Allah
Swt. kepada orang-orang yang beriman. Dan, ada nilai plus lagi buat kita.
Mumpung diberikan kesempatan untuk menikmatinya, kita harus mengerahkan segala
daya upaya agar bisa meraih cintaNya. Agar kita menjadi orang-orang yang
bertakwa kepadaNya. So, nggak jaman lagi kalo ada di antara kita yang nggak
puasa, udah ketinggalan jaman kalo ada kita-kita yang puasanya getol tapi
pacarannya juga hot. Hih, amit-amit dah. Semoga kita terhindar dari segala
perbuatan maksiat yang bisa mengurangi atau bahkan membakar pahala puasa kita
jadi abu. Naudzubillahi min dzalik.
Sobat muda muslim, Emang sih, kalo maksiat, meski di luar bulan
Ramadhan tetep nggak boleh. Tepatnya apapun jenis perbuatan maksiatnya, tetep
haram untuk dilakukan. Lebih-lebih di bulan Ramadhan, kayaknya lebih nggak
pantes lagi kalo itu dilakukan. Tul nggak? Itu sebabnya, jangan nekatz
untuk melakukan maksiat.
Kalo puasa nggak menjadikan kita mawas diri, nggak menjadikan kita
malu, bahkan nggak menjadikan kita jadi anak shaleh, itu berarti ada
“apa-apanya”. Sebab, seharusnya kan puasa bisa menjadi perisai kita dari
berbuat yang nggak bener. Puasa adalah tameng kita.
Sabda Rasulullah saw.: Puasa adalah perisai (dari api neraka).
Jika seseorang di antara kalian berpuasa, janganlah berkata kotor dan
bertengkar. Jika dimaki-maki orang lain, katakanlah: ‘Saya sedang berpuasa’
(HR Bukhari)
Diriwayatkan pula dari Abu Hurayrah r.a.: Rasulullah saw.
bersabda: Barangsiapa tidak meninggalkan dusta dan berbuat buruk pada bulan
Ramadhan, Allah tidak butuh kepada usahanya meninggalkan makan dan minum. (HR
Bukhari)
Nah lho. Hadis ini memberikan sinyal buat kita, bahwa kalo kita
masih tetep kuat maksiat meski sedang puasa, maka jangan harap kalo puasa kita
mendapat berkah dari Allah Swt. Ih, naudzubillahi min dzalik.
Oke deh, karena Allah Swt sayang banget sama kita, maka sudah
sepantasnya kita berusaha utuk meraih cintaNya di bulan Ramadhan ini. Insya
Allah kita bisa. [solihin: sholihin@gmx.net]