STUDIA
Edisi 264/Tahun ke-6 (3 Oktober 2005)
Ortu, orang utan eh
orang tua yang melahirkan, membesarkan dan mendidik kita. Sedari kita kecil
sampe kita jadi manusia sebenarnya (emangnya kita dulunya belum manusia ya?).
24 jam sehari waktu kita mayoritas ada bersama mereka. Apalagi kalo masih
balita. Gedean dikit (jangan banyak-banyak, nanti batuk!), banyak waktu
dihabiskan lebih dengan teman sebaya. Sekolah, kursus ini-itu, mendekam dalam
kamar, main gitar lebih menjadi favorit kita daripada ngobrol dan bercengkerama
dengan ortu. Iya apa bener? (jangan milih apa, lho!)
Belum lagi ortu yang
biasanya suka otoriter dan diktator (bukan jual diktat beli motor) bikin si
anak malas dekat-dekat. Mau ini jangan, mau itu nggak boleh. Semua serba dilarang.
Jadilah jurang antara ortu dan anak menganga lebar (kayak mulutmu yang sedang
menguap itu. Awas ada lalat!)
Kayak-kayaknya sih
nggak bakal bisa ortu dan anak jadi temenan atau jadi sahabat. Apa iya? Soalnya
kan ortu suka banget nganggap anaknya sebagai anak yang masih kemaren sore,
masih kecil, masih bau kencur. Sedangkan mereka menganggap dirinya sudah makan
asam garam serta gula kehidupan. Semua omongan dan keputusannya pastilah benar
dan harus duturut (emangnya atasan perusahaan?). Ih..bete banget kalo kondisi
ortu dan anak udah kayak gini. Lalu gimana dong supaya ortu dan kita sebagai
anak tetap harmonis dan ada suasana saling hormat dan menyayangi serta
mencintai? Kita tanyakan pada Galilei-Galileo (yee.. apa hubungannya!).
Ortu POV
Maksudnya orang tua point
of view, sudut pandang kita lihat dari orang tua. Gimana sih rasanya jadi
orang tua itu? Sejak awal kelahiran kamu, ortu sudah deg-deg plas. Lahir,
menjadi bayi kemudian beranjak kanak-kanak, ortu masih punya peran besar.
Ketika beranjak remaja, anak sudah tak lagi sama. Yang sudah mulai ingin
mandiri tapi masih minta or nodong duit ke ortu, yang udah pingin dianggap
dewasa tapi sikapnya masih kekanak-kanakan (sekolahin aja lagi di taman
kanak-kanak! Mau?).
Di sini seringkali
ortu juga serba salah. Mau memperlakukan kamu kayak biasanya, nyatanya kamu
udah agak gedean dikit. Mau diperlakukan kayak orang dewasa, nyatanya kamu
masih kecil. Emang ini yang bikin bingung 14 keliling ortu (bosen ah, pusing
tujuh keliling)
Jadi ortu emang nggak
mudah. Apalagi di jaman sekarang. Kondisinya bener-bener nggak sama dengan
kondisi di mana para ortu kita masih remaja dulu bagaikan bumi dan langit.
Jadilah ortu diliputi rasa was-was tentang perkembangan anaknya, apalagi
pergaulannya di luar sana. Rasa khawatir ini diekspresikan ortu menjadi
larangan-larangan buat kamu, anak-anaknya.
Ortu merasa
bertanggung jawab atas berhasil atau gagalnya si anak. Dan untuk kamu yang
semua apa kamu inginkan diizinin ortu, bisa-bisa ortu tidak punya rasa khawatir
terhadap kamu. Ortu akan membiarkan kamu, entah kamu jungkir balik nggak karuan
sampai kamu kepleset atau sampai jatuh baru ortumu nangis sejadi-jadinya. Emang
ortu itu kadang tidak memikirkan apa yang terjadi pada anaknya setelah
keinginan anaknya itu dipenuhi atau dituruti. Pusing, pusing, pusing!
Remaja POV
Nah sekarang kita
lihat point of view or sudut pandang remaja. Remaja itu kan identik
dengan pencarian jati diri. Mencari sosok ideal untuk dijadikan panutan.
Keterikatan remaja dengan teman mainnya jauh lebih besar daripada keterikatan
dengan ortunya. Beda banget dengan kondisi anak-anak yang ikatan kepada ortu
emang jauh lebih besar. Kondisi ini yang biasanya membuat remaja cenderung
nggak nurut sama ortu. Bersyukurlah kamu yang ortunya mempunyai banyak kekangan
(lho, kok?). Jangan bingung dulu, itu tandanya bahwa kamu termasuk anak yang
diperhatiin sama ortu. Jangan senang kalau kamu tidak dikekang ortu untuk
nglakuin yang kamu mau. Itu tandanya, ortumu nggak perhatian banget ama kamu.
Begitu.
Kadang kita anggap ortu
udah ketinggalan jaman, sementara itu perkembangan remaja yang semakin beda
dengan masa kanak-kanak, jadinya kita merasa ortu sudah nggak bisa ngikuti tren
lagi. Padahal ortu jaman sekarang lebih gaul daripada anaknya. Contohnya aja
ortu udah bisa ngobrol ama orang di lain tempat yang nun jauh alias chatting
sedangkan anaknya belum bisa dan nggak tahu caranya. Bahkan pake HP yang mudah
aja nggak bisa. Kamu jangan pernah merasa gaul kalau kamu belum ikut kegiatan
rohis di skul-mu. Betul nggak?
Akur yuk ama ortu
Akur sama ortu?
Kenapa nggak. Biar bagaimana pun ortu adalah orang yang berjasa banget buat
kehidupan kita. Merekalah orang pertama kali yang mengenalkan kita pada
kehidupan di dunia. Mengenalkan kita arti senyum, tawa, tangis dan kecewa,
serta arti cinta (kayak lagunya Ari Lasso aja!). Semua hal dalam hidup yang
kita alami dan rasakan tak terlepas dari peran ortu. Kalo pun ada kesenjangan
di antara anak dan ortu, paling itu cuma masalah komunikasi dan kata (kuis
komunikata doong?)
Nah, kita nih yang
kudu nyadar untuk menjembatani komunikasi dua arah (telepon, kah?) antara ortu
dan anak. Nggak ada salahnya kok kamu cerita dan curhat sama ortu tentang apa
saja yang kamu alami. Mulai pengalaman di sekolah, teman-temanmu, guru-gurumu,
aktivitasmu di rohis, grup pecinta alam, di tempat kursus, sampe kamu dikejar
anjing dan lari terbirit-birit.
Bisa juga sekali
tempo kamu ajak ortu hang out bareng. Misalnya aja waktu belanja
kebutuhan sekolah beli buku, tas, sepatu, beli perlatan musik, beli peralatan komputer,
atau apa aja. Selain bisa menambah rasa saling terbuka dan bisa ngirit duit
kamu karena ortu pasti kasian liat anaknya beli barang keperluan pake uang
sendiri dan akhirnya semua yang kamu perlukan dibelikan semua pake duit ortu.
Bila temenmu datang
main ke rumahmu, sekali-kali ajak juga ortu untuk ikut nimbrung obrolan kita
ama teman. Maksudnya biar ortu tahu dengan siapa kamu berteman. Dengan anak
manusia atau dengan anak selain manusia (Iihh.... syerem, Auu...).
Kalo teman-temanmu
memang tipe anak yang bisa dipertanggungjawabkan, ortu jadi percaya dengan kamu
dan keputusanmu dalam memilih teman. Beda kalo teman yang kamu punya suka minum
minuman keras dan bolos sekolah (itu bolos makan juga nggak ya?), maka jangan
salahkan ortu kalo mereka jadi was-was dan nggak percaya sama kamu.
Ortu pun bisa menyawa
atau membeli Spy-Agent untuk memata-matai gerak-gerikmu selama kamu
berada di luar rumah sampe di kamar kamu. (WARNING! Ini nggak berlaku kalo kamu
ke kamar mandi).
Intinya tuh, di
kamunya sendiri. Kamu ingin dipercaya ortu biasakan seperti tulisan di atas itu
dan ditambah dengan membiasakan diri menyapa ortu dengan senyuman. (Kan, senyum
itu ibadah. Apalagi ama ortu. Tul nggak?). Tapi jangan senyum-senyum terus,
nanti malahan kamu dibawa ortu ke RSJ. Pastikan diri kamu ke ortu bahwa kamu
baik-baik saja dan normal-normal aja. Jangan sampe di atas normal. Bisa berabe
urusannya. Atawa kamu ingin sebaliknya? Up 2 U!
Kalo kamu dimarahi
ortu atau dilarang ortu jangan ngambek masuk kamar dikunci rapat-rapat, ortu
bukannya malah kasihan atau salut tapi malah kesel dan kamu pasti malu kalo
laper terus keluar menuju meja makan bareng ortu.
Sebaiknya nih, kamu
tetap di tempat dan jangan bergerak! (kok jadi nyuruh sih?). Berandai-andai
saja kamu sedang nginjek ranjau yang siap saji dan kalau kamu beranjak, ranjau
itu siap memakanmu mentah-mentah tanpa diberi bumbu dan digoreng. Kalau kamu
bertingkah demikian, ortu akan salut kepada kamu karena kamu tegar menghadapi
ranjau itu (lho kok, jadi membahas soal ranjau gini seh?) sehingga ortu mikir
lagi sebanyak bilangan: 22+43+890+45= (itung aja sendiri!) tentang apa yang kalian
inginkan. Dan ada dua kemungkinan. Boleh atau tetep nggak boleh itu terserah
ortu yang penting... So What Gitu Lho...!
Selain itu kamu juga
bisa melakukan pendekatan atau PDKT ama ortu dengan cara kalo aja ortumu capek
karena habis masak atau kerja, pijitin aja kakinya atau pundaknya. Jangan takut
melakukan itu. Nggak mungkin dong ortu kalau dipijitin nolak apalagi sampai
kamu ditendang. Mungkin aja kamu nggak sengaja ketendang ortu karena ortumu
heran kenapa kok kamu tumben mijitin (biasanya kamu bikin capek, sih. Dasar!).
Mungkin dengan cara
lain yaitu lewat curhat. Nggak hanya sahabat yang dijadiin tempat curhat
melulu. Kasihan kan, sahabatmu pasti capek mikirin curhatmu. Oleh karenanya,
jadiin ortu sebagai tempat curhat cadangan (emangnya mau main bola?). Entah
masalah uang jajan, kekurangan dana untuk kegiatan yang bermanfaat, de el el.
Mungkin dengan kamu
melaksanakan resep-resep di atas, ortumu bisa jadi akan sehati dengan kamu dan
mungkin juga hanya setengah hati (keluar deh ADA Band-nya). Selain itu
ortumu juga akan tahu seluruh kebutuhan jiwa ragamu, sehingga kamu dengan mudah
mendapat apa yang kamu butuhkan. Ortu tidak lagi curiga kepada kamu tentang apa
yang kamu lakukan.
Tapi ingat-ingat
pesan mama. Jangan menggunakan kesempatan ini dengan hal-hal yang dilarang oleh
Allah Swt. Mentang-mentang ortu percaya ama kamu, kamu seenaknya menggunakannya
dengan hal-hal yang diharamkan oleh Allah Swt. dan RasulNya. Jangan sampe dah.
Lebih baik ajak ortu shalat berjamaah di mushalla terdekat atau mintai
sumbangan untuk acara yang diadakan di rohis. Dengan kegiatan itu kamu ama
ortumu kan dapet pahala dari Allah Swt. daripada yang aneh-aneh, bisa-bisa kamu
malah dapet dosa. Tul nggak?
Sobat muda muslim,
bentar lagi kan bulan yang penuh hikmah akan datang, tentu dengan berlaku
sedemikian itu menambah pahalamu sampe berlipat-lipat menjadi beberapa lipat.
Jangan sampe kamu ngambek ama ortu, bisa-bisa kamu nggak dikasih uang jajan dan
makan untuk buka puasa. Repot kan?
Makanya di bulan
Ramadhan ini dan bulan-bulan lainnya gunakanlah untuk melahirkan sikap saling
percaya, saling mendukung, saling menghargai (dan jangan sampe salah
pengertian, lho!), dan bahkan saling mencintai antar anggota keluargamu
terutama ortumu serta jangan saling menggebukin (yee sadis banget!).
Enak lho kalo kamu
sekeluarga bisa nyetel abis. Manfaatnya banyak, misalnya aja kamu bisa
berunding untuk mempertimbangkan baik-buruknya kegiatan yang kamu lakukan
dengan ortu, kamu bisa didukung ortu untuk malakukan kegiatan semacam acara
rohis, dan kamu juga bisa menghemat uang jajan. Enak kan?
Makanya, kamu jangan
musuhan ama ortumu walaupun kadang ortumu yang salah. Peristiwa apa pun yang
terjadi di rumahmu jadikan itu menyenangkan. Dan tetep akur sama ortu. Dijamin,
kamu nggak bakalan nyesel. Coba deh! Dan rasakan khasiatnya (yee kayak iklan
minuman energi aja!). [Tito Firmanto, kontributor magang di STUDIA.
Pelajar kelas 1 SMAN 7 Surabaya]