STUDIA
Edisi 263/Tahun ke-6 (26 September 2005)
Gonjang-ganjing kabar
harga BBM bakal naek lagi mendominasi pemberitaan di media massa. Untuk kedua
kalinya di tahun ini sejak Pak SBY menjabat orang no. 1, harga BBM dipaksa
melangit lagi (baru satu tahun udah dua kali naik, gimana nih Pak?). Malah Pak
Wapres Yusuf Kalla, sempet ngasih bocoran kalo kenaikan itu bakal dipatok
pemerintah minimal 50% dari harga sekarang. Waduh!
Nggak ada pilihan.
Yup, jawaban klasik itu seolah jadi senjata pamungkas pemerintah dalam
menghadapi kritikan pedas dari semua pihak. Keputusan itu kudu diambil lantaran
harga minyak mentah dunia melambung hingga 70 US$ per barel. Itu berarti,
pemerintah kudu ngerogoh kocek lebih dalem buat mensubsidi BBM hingga Rp 130
triliun dengan harga sekarang. Padahal alokasi dana yang disediakan cuma Rp
68,7 triliun untuk asumsi harga minyak dunia 40 US$ per barel. Kalo tetep
mempertahankan harga sekarang, pastinya APBN bakal jebol buat nombokkin subsidi
BBM ini. Hmm.... begitu ya?
Tapi..., lucu juga
ngedenger jawaban klasik di atas. Soalnya, kenaikan harga BBM ini bukan
satu-dua kali dihadapi pemerintah. Berarti udah banyak dong pengalaman dan
pelajaran yang diperoleh buat nyiasatin kondisi kayak gini. Namun sayangnya,
pemerintah seolah tak memperoleh pelajaran dari kondisi yang sama pada
tahun-tahun lalu. Hingga mereka tetep menggantungkan kebutuhan pasokan minyak
mentah dari luar. Padahal zamrud khatulistiwa ini tajir lho akan sumber daya
alam seperti minyak bumi.
Sebagaimana yang
terungkap dalam makalah berjudul, “The Impact of Oil Industry Liberalization
on the Efficiency of Petroleum Fuels Supply for the Domestic Market in
Indonesia,” tulisan Dr. Kurtubi, Head Office Pertamina dan Pusat
Kajian Minyak dan Energi, bahwa di Indonesia ada sekitar 60 ladang minyak (basins),
38 di antaranya telah dieksplorasi, sementara sisanya masih belum. Di dalamnya
terdapat sumberdaya energi yang luar biasa, kira-kira mencapai 77 miliar barel
minyak dan 332 triliun kaki kubik (TCF) gas. Di sana terdapat stok cadangan
energi sekitar 9.67 miliar barel minyak dan 146.92 TCF. Sementara kapasitas
produksinya hingga tahun 2000 baru sekitar 0,48 miliar barel minyak dan 2,26
triliun TCF. Tuh kan banyak?
Makanya nggak heran
kalo aksi penolakan kenaikan BBM pun banyak digelar di berbagai daerah. Dari
mahasiswa sampe supir angkot, rame-rame turun ke jalan untuk menyuarakan
aspirasinya. Sayangnya, pemerintah sering menganggap aksi protes-protes itu
nggak lebih dari media kebebasan berpendapat. Bukan sebuah tuntutan yang bisa
memaksa mereka untuk menghentikan kebijakan-kebijakannya yang bikin rakyat
sengsara. Waduh!
Harga BBM naik, rakyat tercekik
Dampak kenaikan harga
BBM ini emang dahsyat. Baru sekedar isu aja, udah bikin panik masyarakat.
Kelangkaan BBM dirasakan beberapa daerah di Nusantara. Seperti di kawasan
Pantai Timur Sumatra Utara misalnya, sebagian besar nelayan terpaksa menginap
di pom bensin untuk mendapatkan solar. Bahkan, di Semarang, Jawa Tengah, solar
dan premium sudah sejak dua pekan silam sulit didapat. Sementara Warga Jalan
Dago, Suci dan Tubagus Ismail, Bandung, Jawa Barat, mereka rela menunggu
berjam-jam sejak pukul 07.00 WIB demi mendapatkan lima liter minyak tanah
dengan harga lebih murah: Rp 900 per liter. Sebab, di tingkat pengecer minyak
tanah sudah dijual Rp 1.500/liter. (Liputan 6.com, 15/09/05)
Akibat kelangkaan BBM
itu, ongkos transportasi jadi naik sebelum waktunya. Di Banjarmasin, Kalimantan
Selatan, sopir angkutan umum di dalam kota maupun luar kota mulai menaikkan
tarif. Alasannya, akibat terlalu lama antre BBM, angkutan umum yang biasanya
tiga rit atau pergi pulang dalam sehari hanya menjadi dua kali. Padahal, uang
setoran kepada pemilik kendaraan tetap. (Kompas, 15/09/05).
Seperti gerak roda
dalam sebuah mesin, kenaikan tarif angkutan sebelum waktunya dan kelangkaan
BBM, secara otomatis menaikkan harga-harga kebutuhan pokok masyarakat. Di
Banyuwangi Jawa Timur, harga kebutuhan pokok dalam sepekan terakhir naik hingga
mencapai 40%. (Kompas, 12/09/05)
Kondisi seperti ini
yang mencekik leher masyarakat. Imbas kenaikan harga BBM yang memicu kenaikan
harga-harga kebutuhan pokok lainnya bikin masyarakat keteteran. Harga sembako,
ongkos angkot, tarif bis/kereta api, listrik, gas, biaya pendidikan, kesehatan,
dan tentunya minyak tanah suka ikut-ikutan naek. Sementara kenaikan itu tidak
diimbangi dengan kenaikan penghasilan. Akibatnya lebih besar pasak dari pada
tiang. Alias tekor setiap saat. Alamat harga gorengan bisa jadi 1500 perak per
biji tuh! (jadi lebih mahal dari harga
buletin ini per lembar dong? Hehehe..)
Emang sih, konon
kabarnya kualitas minyak mentah negeri ini cuma bertengger di level 4 (nomor 1
dipegang kawasan Timur Tengah). Dengan fakta seperti itu, berarti membutuhkan
pengolahan lagi. Teknologi dan sarananya kita terbatas, akhirnya kudu dijual ke
luar negeri untuk diolah dulu jadi BBM. Terus, kita beli lagi hasil minyak
olahan itu. Jadi jatohnya emang mahal.
Nah, harusnya kan
kalo udah tahu kayak gitu, kita bikin sarana dan teknologinya. Tul nggak? Tapi,
kalo kebijakan ini diambil, para koruptor yang mengais suap dari penjualan
minyak mentah ke luar negeri dan pembelian lagi BBM jadi bakalan kehilangan
lahan untuk dikorupsi. Terus, negeri-negeri kapitalis Barat juga bakalan keder
dan nggak bisa mendikte lagi secara ekonomi untuk memiskinkan negeri ini. Itu
sebabnya, kondisi seperti ini akan terus dipelihara oleh mereka. Jadi, kita
kudu nyadar neh. Ayo bangkit untuk melawan kapitalisme!
Sengsara bersama kapitalisme
Permasalahan BBM
merupakan bagian dari produk sistem kapitalis. Dalam bingkai politik demokrasi,
ruang kebebasan atas dasar sekulerisme terbuka lebar. Ini bisa dilihat pada UU
No. 22/2001 tentang Minyak Bumi dan Gas yang mencantumkan pembatasan kewenangan
Pertamina sebagai pemain utama di sektor ini, sekaligus pemberian
hak/kewenangan kepada perusahaan minyak lain—baik perusahaan domestik maupun
asing—untuk terlibat di sektor ini.
Dengan kata lain,
pemerintah udah ngasih jaminan privatisasi bagi para pemilik modal untuk
mengeksploitasi kandungan minyak bumi dalam negeri. Seperti yang terjadi pada
blok Cepu. Pemerintah malah memberikan kontrak pengelolaan sumur minyak dengan
kandungan mencapai 180.000 barel per hari ini ke tangan Exxon Mobil. Bukan
Pertamina yang jelas-jelas perwakilan negara dalam penyediaan kebutuhan BBM
dalam negeri. Payah deh!
Dampak permasalahan
BBM ini merembet pada tingkat kesejahteraan penduduk. Jumlah keluarga miskin
semakin meningkat. Menurut data PT ASKES, jumlah orang miskin Indonesia
pascakenaikan BBM melambung hingga 54 juta orang. Menurut Menneg PPN/Kepala
Bappenas Sri Mulyani, angkanya telah melambung mendekati 60 juta. Penambahan
data ini juga diakui oleh Menko Perekonomian. (Kompas, 15/09/05)
Akibat kemiskinan
ini, kesehatan menjadi barang mahal. Di Serang sebanyak 1.150 anak-anak usia di
bawah lima tahun (Balita) dinyatakan menderita gizi buruk. Gizi buruk juga
diderita 134 anak di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur (Jatim). Di NTT sebanyak 45
sebanyak 45 anak di enam kabupaten Nusa Tengara Timur (NTT) positif menderita
penyakit busung lapar. Sementara itu, 33.910 anak lainnya mengalami kurang gizi
dan 8.218 gizi buruk (Tempo Interaktif 31/5/05)
Demi mempertahankan
hidup di tengah himpitan ekonomi, nggak sedikit masyarakat di lingkungan kita
yang gelap mata. Mereka ambil jalan pintas untuk memperoleh harta dengan
melakukan pencopetan, pencurian, penjambretan, hingga perampokan dengan
kekerasan. Pemberitaan seputar korban harta dan jiwa akibat tindakan kriminal
setiap hari menghiasi layar kaca. Persediaan aktor yang berlaga dalam siaran Buser,
Derap Hukum, TKP, atau Tikam nggak pernah kehabisan stok.
Situasi kayak gini bikin rasa aman kian sulit diperoleh masyarakat. Pantaskah
sikon kayak gini kita pertahankan? Nggak lah yauw!
Sejahtera di bawah naungan Islam
Sobat, kehidupan yang
menyesakkan dalam alam kapitalis-sekuler sudah sepatutnya kita tinggalkan.
Saatnya kita melek kalo permasalahan yang kerap kali muncul menghampiri negeri
ini dibidani oleh sistem demokrasi sekuler. Sistem yang menyerahkan sepenuhnya
pengaturan hidup manusia kepada dirinya sendiri. Sehingga aturan yang
dihasilkan selalu berujung pada kesengsaraan. Akibat keterbatasan manusia dalam
memahami kebutuhan dan kepentingan manusia lainnya. Dan parahnya, meski
kebobrokan sistem ini udah kasat mata banget, masih aja dipertahankan. Teu
kapok-kapok nya!
Hanya Islam lah yang
pantas dan mampu menggantikan sistem kapitalis sekuler yang diadopsi negeri
ini. Sebab aturan Islam yang diterapkan oleh negara akan memberikan jaminan
kepada rakyatnya dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup. Rasulullah saw bersabda: “Sungguh
Allah Swt. akan meminta pertanggungjawaban setiap pemimpin terhadap apa yang
dipimpinnya, apakah ia menjaga atau bahkan menyianyiakannya.”
Umar bin Khaththab
telah membangun suatu rumah yang diberi nama ‘daar ad daqiiq’ (rumah
tepung). Di sana tersedia berbagai jenis tepung, korma, dan barang-barang
kebutuhan lainnya yang bertujuan menolong orang-orang yang singgah dalam
perjalanan dan memenuhi kebutuhan orang-orang yang membutuhkan.
Dalam kasus BBM,
negara akan mengembalikan posisinya sebagai hak milik umum yang pengelolaannya
di atur oleh negara. Ini berarti, nggak boleh ada campur tangan swasta alias
privatisasi dalam pengelolaan sumber daya alam. Sebab hasil pengelolaan itu
akan dikembalikan kepada rakyat dengan harga semurah mungkin. Tidak untuk
jadikan barang dagangan. Sehingga pengelolaan kekayaan sumber daya alam yang
dimiliki negeri-negeri Muslim lebih optimal untuk kepentingan Islam dan kaum
Muslimin. Bukan malah dikasih ke para kapitalis sekuler itu. Enak aja!
Kebutuhan pokok
rakyat menjadi prioritas negara. Nggak bisa pake alasan lantaran kas negara
kosong kebutuhan rakyat terlalaikan. Ada mekanisme pengambilan kelebihan dari
orang-orang kaya untuk membantu pemenuhan kebutuhan rakyat sat kas baitul mal
defisit. Negara juga akan menugaskan al ‘Aamilun’ untuk menarik zakat yang akan
disimpan di Baitul mal sebelum didistribusikan kepada delapan golongan yang
berhak seperti tercantum dalam al-Quran. Di antaranya fakir-miskin. Dengan
terpenuhinya kebutuhan pokok, tentu nggak ada alasan karena urusan perut orang
berbuat kriminal. Betul?
Dalam urusan
kesehatan, negara wajib memenuhi kebutuhan rakyat tanpa melihat status sosial
atau kudu beresin urusan administrasi dahulu. Pernah delapan orang dari suku
Urairah datang mengunjungi Rasul di Madinah lalu menyatakan keimanannya. Di
Madinah, mereka menderita sakit limpa. Rasul memerintahkan mereka beristirahat
di pos penggembalan ternak kaum Muslimin milik Baitul Maal bernama “Zhi Jadr”.
Mereka tinggal di sana hingga sembuh dan gemuk kembali. Mau…mau…mau….
Dalam bidang
pelayanan kesehatan, Bani Ibnu Thulun di Mesir memiliki Masjid yang dilengkapi
dengan tempat-tempat untuk mencuci tangan, lemari tempat menyimpan minuman dan
obat-obatan serta dilengkapi dokter untuk memberikan pengobatan gratis kepada
orang-orang sakit.
Sobat, demikian
beberapa bukti sejarah saat aturan Islam diterapkan oleh negara dalam bingkai
Daulah Khilafah Islamiyah. Besarnya perhatian negara terhadap terpenuhinya
kebutuhan BBM, sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, keamanan, atau
lapangan kerja bagi rakyat menunjukkan betapa mulianya hidup di bawah naungan
Islam. Karena itu, kita cuma punya satu pilihan untuk membenahi negeri ini yang
amburadul akibat penerapan sistem kapitalis sekuler. Yaitu dengan menjadikan
Islam sebagai ideologi negara. Jangan lupa, kapitalisme sebagai biang
kehancuran ini jangan dijadikan sebagai pandangan hidup. Setuju? Yo’i![Hafidz:
hafidz341@telkom.net]