STUDIA
Edisi 262/Tahun ke-6 (19 September 2005)
Kamu suka nonton
pertandingan sepakbola? (mana neh para JakMania dan siapa aja yang jadi Serdadu
Bonek?) Yap, dalam pertandingan sepakbola, sebuah tim terdiri dari sebelas
orang, itu sebabnya disebut kesebelasan. Dari sebelas orang itu kemampuannya
berbeda-beda dan sangat spesifik sesuai keahliannya. Ada yang bertugas jadi
penjaga gawang. Meski ‘kerjaannya’ lebih banyak diem tapi bukan berarti paling
enak. Tetep punya tanggung jawab di bidangnya.
Nah, karena sangat
disadari betul sehebat apa pun sang penjaga gawang tetap harus dibantu pemain
belakang (bek: kiri, tengah, dan kanan), malah ada juga pelatih yang memasang wing
back segala. Biasanya ini untuk membantu serangan. Coba deh, Gianluigi
Buffon yang jadi kiper Juventus meski doi jagoan, nggak bakalan tahan kalo
tanpa dibantu Fabio Cannavaro dkk di lini belakang.
Pelapisan kekuatan
itu untuk mengantisipasi kemampuan penjaga gawang yang ada batasnya. Di sinilah
diperlukan kerjasama. Nggak boleh seorang striker alias penyerang merasa
paling berjasa karena bisa menceploskan bola ke gawang lawan. Mustahil, tanpa
dukungan semua pemain dengan kemampuan dan keahliannya masing-masing bakalan
menuai hasil maksimal. Kalo sendirian? Babak belur!
Kerjasama seperti ini
asyik dilaksanakan dan enak buat yang nonton. Semuanya bergerak untuk
menciptakan irama dan dinamika permainan yang oke punya. Bahkan, beragam pemain
dengan tingkat kemampuan yang berbeda sulit disatukan jika seorang pelatih
nggak ngerti en nggak menguasai teknik sepakbola dan pandai memoles sisi
psikologis pemain. Iya kan?
Kemampuan dan
kebijakan seorang pelatih diharapkan mampu mensinergikan kekuatan para pemain.
Ada saatnya merotasi pemain jika kebetulan punya skuad banyak di satu posisi.
Misalnya, ia harus pandai membujuk dan meyakinkan pemain bahwa pola rotasi yang
digulirkannya tanpa maksud mengecilkan peran dari pemain tertentu. Tapi bisa
dijelaskan bahwa hal itu sebagai bentuk penghematan tenaga, apalagi
kompetisinya ketat seperti di Liga Inggris.
Terus kalo menghadapi
pemain yang ogah dirotasi, tugas pelatih dan jajarannya untuk menjelaskan dan
membantu meyakinkan bahwa keutuhan tim dan kerjasama harus dikedepankan tanpa
melukai perasaan invidu pemain. Meski pada praktiknya kadang sulit dihindarkan
dengan tanpa mencederai hati para pemain yang kebetulan ‘tersisih’ sementara.
Ya, namanya juga manusia.
Itu sebabnya yang
terpenting bukan sebisa mungkin berbuat adil dan menyenangkan tiap individu
pemain, tapi harus diciptakan komunikasi yang terbuka. Pelatih bisa menerima
kritik dan saran dari pemain, mau dan mampu mendengar keluhannya dan menentukan
keputusan yang bijak dan obyektif. Pemain pun dituntut untuk berjiwa besar jika
kebetulan duduk di bangku cadangan dengan alasan yang memang bisa
dipertanggung-jawabkan. Bukan karena alasan politis atau karena sentimen
pribadi dari pelatih atau pihak manajemen. Iya nggak?
Selain itu, suasana
kompetisi yang sehat juga harus dibudayakan. Misalnya saja, bagi pemain yang
bisa mencetak gol ke gawang lawan diberikan bonus tertentu. Kemudian untuk yang
melakukan pelanggaran berat atau mangkir saat latihan, bisa dikenakan denda
atau sanksi administratif seperti tidak boleh bermain dalam satu pertandingan.
Begitu pula ‘reward and punishment’ diberlakukan kepada pihak manajemen.
Mulai dari official tim, asisten pelatih sampe menajer tim. Rasanya,
bukan mustahil jika tercipta kenyamanan karena kita bisa bekerjasama dengan
baik dan benar sesuai porsi dan kemampuannya masing-masing. Oke nggak tuh?
Sobat muda muslim,
belajar dari fakta tentang sepakbola di atas, rasa-rasanya kita tak perlu sedih
dalam hidup ini karena memang kita tak sendiri. Adanya teman, guru, keluarga,
dan orang-orang yang bisa memberikan kenyamanan, kedekatan, perhatian,
kepedulian, kepercayaan akan menjadikan kita lebih berarti dalam hidup ini.
Kita akan bekerjasama untuk mewujudkan impian terindah dalam hidup kita. Ya,
karena kita tak sendiri.
Berbahagialah punya teman
Memiliki teman bisa
menjadikan hidup lebih hidup. Minimal kita nggak kesepian di dunia ini. Kita
masih punya teman untuk berbagi cerita, berbagi kesedihan, termasuk berbagi
kebahagiaan. Kita, nyaris selalu merasa lega setelah berbagi dengan orang lain.
Apalagi jika orang itu amat dekat dengan kita secara psikologis. Asyik tenan.
Nggak salah-salah
amat kalo Alan Loy McGinnie berkomentar: “Orang-orang dengan persahabatan yang
dalam dan langgeng bisa pendiam atau suka ngobrol, bisa muda atau tua, bisa
membosankan atau menarik, bisa pandai atau bodoh, bisa sederhana atau berpenampilan
baik; tetapi satu karakteristik mereka yang selalu sama adalah: keterbukaan.”
Yup, benar.
Keterbukaan adalah modal sebuah persahabatan. Kalo udah saling terbuka, maka
kita akan tahu masing-masing dari kita. Kita jadi TST alias tahu sama tahu soal
kelebihan masing-masing, termasuk kekurangan masing-masing. Kalo udah begini,
biasanya kita akan saling melengkapi. Bahkan tak jarang akan memicu kita untuk
saling terwarnai. Jadi jangan heran kalo ada orang yang bersahabat dengan
seseorang, sampe perilaku dan gayanya mirip banget. Sulit dikatakan kalo satu
sama lain saling mencontek, tapi saya yakin, mereka saling memberi insipirasi
satu sama lain. Inilah enaknya bersahabat baik.
Sobat muda muslim,
saya yakin banget kalo teman bisa memberikan inspirasi buat kita. Terlepas dari
apakah inspirasinya salah atau benar. Kasus narkoba yang mudah menyebar lewat peer
group (kelompok teman sebaya), menjadi bukti kuat bahwa kumpulan itu saling
memberi warna dan inspirasi buat yang lain. Mungkin awalnya satu orang yang
berani ngisep ganja, lama-lama menularkannya kepada yang lain.
Yup, banyak jalan
menuju ke sana. Bisa karena sama-sama ada masalah dengan keluarganya, dan
kasusnya mirip. Kemudian ketika sang teman nyandu putauw, ia terinspirasi untuk
melakukan ‘kegiatan’ yang sama, dengan alasan temannya melakukan itu sebagai
‘solusi’ atas masalah yang sedang dihadapinya. Atau lihat deh gimana akrabnya
Bonnie and Clyde, dua orang perampok kesohor di Amrik dulu, bahkan sempat
difilmkan segala, pastinya mereka saling memberi inspirasi dalam melakukan aksi
perampokannya, tapi ini inspirasi dalam kejahatan. Nah lho? Saya pernah
menerima rengekan anak saya minta dibelikan sebuah makanan, ia ‘terinspirasi’
temannya yang telah lebih dulu mengunyah makanan yang dia maksud. Teman anak
saya telah menjadi inspirasi bagi anak saya untuk berbuat hal yang sama.
Oke deh, karena teman
ini sangat berpengaruh dalam hidup kita, dan bahkan mampu memberi inspirasi
buat kita, tolong deh untuk membiasakan mencari teman yang baik-baik. Jadi,
inspirasi yang muncul dan kita ikuti juga adalah hal yang baik-baik. Siap kan?
Supaya apa? Selain berteman menjadikan kita tak merasa sendiri dalam hidup ini,
juga agar pergaulan kita juga sehat. Tul nggak seh?
Tak pernah benar-benar sendiri
Sobat muda muslim,
dalam hidup ini segalanya bisa saja berubah-ubah. Jalan yang kita tempuh tuh
nggak lurus terus, pun nggak melulu berkelok-kelok. Itu sebabnya, jika suatu
saat karena dakwah kita menyebabkan orang lain menjauhi kita, kita jangan
kaget. Karena hidup tak bisa selamanya memilih dengan pilihan yang baik-baik
saja menurut ukuran kita. Ini risiko yang telah kita ambil.
Risiko yang nggak
jarang bikin sebagian dari kita berguguran di tengah jalan. Nggak kuat nahan
bebannya. Itu sebabnya, kesabaran dan keimanan yang mantep sangat dibutuhkan
dalam mengarungi medan dakwah ini. Selain itu, tentu kudu ikhlas juga dong ya.
Para pendahulu kita
juga pernah mengalami hal demikian. Allah Swt. mengabadikannya dalam al-Quran: “Apakah
kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu
(cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa
oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam
cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya:
“Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah
itu amat dekat.” (QS al-Baqarah [2]: 214)
Beliau saw. pun
pernah berdoa di kebun anggur milik seorang Nasrani, Uqbah bin Rabi’ah setelah
dakwahnya di Thaif tidak mendapat sambutan, tetapi sambitan. Rasulullah saw.
berdoa seperti ini: “Ya Allah, kepadaMu aku mengadukan kelemahanku,
kurangnya kesanggupanku, dan ketidakberdayaan diriku berhadapan dengan manusia.
Wahai Zat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Engkaulah Pelindung bagi si
lemah, dan Engkau jualah Pelindungku! Kepada siapakah diriku hendak Engkau
serahkan? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan,
karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku
berlindung pada sinar cahaya wajahMu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan
kebajikan di dunia dan di akhirat, dari murkaMu yang hendak Engkau turunkan
kepadaKu. Hanya Engkaulah yang berhak menegur dan mempersalahkan diriku hingga
Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apapun selain atas perkenanMu”
Meski demikian,
Rasulullah saw. pun tetap semangat dan berani dalam berdakwah. Beliau pernah
berkata kepada pamannya ketika diminta untuk mengurangi kegiatan dakwahnya,: “(Paman),
demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan
rembulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan (dakwah) ini, aku tidak
akan meninggalkannya sampai Allah memenangkan agama ini atau aku hancur
karenanya.”
Berbagai penyiksaan
pun dialami para sahabatnya. Pembesar Quraisy sendiri bahkan sempat akan
membunuh Muhammad. Berat juga emang. Ya, begitulah, menyampaikan kebenaran
Islam kepada mereka yang mulai pudar dengan Islamnya, apalagi yang membenci
Islam, akan ada aja gesekannya. Maklumlah, seperti kata pepatah “bagi mereka
yang sudah terbiasa dengan kegelapan, cahaya terang memang menyilaukan”. Pantes
aja kalo kita ngasih tahu sama mereka yang masih doyan maksiat, suka reaktif.
Langsung kaget dan mungkin menyerang kita, dari yang sekadar umpatan sampe
pukulan.
Padahal, maksud kita
juga adalah menolongnya. Sekadar mengingatkannya. Dan itu bukan berarti kita
udah benar en suci. Sangat boleh jadi kita juga masih perlu belajar banyak. Ya,
kita sama-sama aja jalan ke arah kebaikan. Kata Kahlil Gibran, “Engkau buta,
sedangkan aku bisu tuli. Jadi mari berpegangan agar mengerti” Tul nggak?
Kesabaran dan
istiqomah juga harus dimiliki setiap pegiat dakwah. Bahkan itu akan menjadi
penghibur kita di kala sedih. Biarlah sekarang kita dbilangin sok tahu, mau
menang sendiri, sok suci, tukang kritik orang, fanatik, fundamentalis. Meski
semua itu juga nggak benar, cuma anggapan mereka yang nggak suka aja sama
aktivitas dakwah. Kita nggak gentar, karena Allah menjanjikan kenikmatan dalam
bentuk lain. Firman Allah Swt.: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:
‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka
malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa
takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan
(memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS Fushilat
[41]: 30)
Jadi jangan cemas,
hanya karena dijauhi oleh orang-orang yang tak mau mendengar dakwah kita. Kita
nggak pernah benar-benar sendiri kok. Karena Allah akan senantiasa bersama
orang-orang yang berjuang membela agamaNya. Yakin deh. Itu sebabnya, tetap
semangat! [solihin: sholihin@gmx.net]