STUDIA Edisi 257/Tahun ke-6 (15 Agustus 2005)
Usia Remaja Kudu Bebas?
Brak!!! Diyan membanting pintu kamarnya dengan keras. Brug! Tas
sekolahnya dilempar ke kasur. Pluk! Seekor cicak terjatuh saking kagetnya
ngedenger pintu dibanting. Waaa!! Kalo ini Diyan ngejerit karena cicak itu
jatuh tepat di kakinya.
Setelah berjingkrak-jingkrak nggak karuan, badannya pun ikut
ambruk menyusul tasnya. Di sudut matanya terlihat aliran bening air mata. Sedih
nih yee? Yaa gitu deh!
Diyan sedih bukan lantaran kejatuhan cicak. Bukan juga lantaran
nggak diizinin pak RT jadi peserta lomba panjat pinang. Pelajar kelas dua SMA
ini lagi ngambek ama mamanya. Soalnya mama belon ngijinin doi untuk jalan-jalan
ke mal sampe sore sepulang sekolah; atau minta jatah uang sakunya dijadiin
bulanan; atau ikut clubbing di malam minggu bareng temen-temennya; atau
pake baju tang top ngikutin tren; atau punya temen deket cowok dan masih
banyak lagi tren remaja yang pengen Diyan ikutin. Padahal Diyan udah udah tujuh
belas tahun. Dan temen-temen sebayanya pada bisa ngikut tren. Kenapa Diyan
nggak boleh? Makanya dari sepulang sekolah tadi, doi mogok keluar kamar.
Kecuali pas lagi laper, pengen ke toilet, pas mamanya nawarin es krim, atau pas
tukang somay kesenengannya lewat. Yeee…mogok kok banyak kecualinya.
Kasus model Diyan di atas kayaknya sering banget deh kita denger.
Bisa jadi kita juga pernah ngalamin (ehm…ehm…jadi malu). Di usia yang menginjak
remaja, kita sering ngerasa ortu belon ngasih kita kebebasan. Ortu masih
nganggap kita anak kecil. Setiap jengkal keseharian kita masih diatur ama ortu.
Dari mulai bangun tidur sampe tidur lagi. Sementara di luar rumah, alam
kebebasan yang mulai banyak digandrungi temen-temen remaja menggoda kita untuk
mencicipinya. Enak kali ya?
Kenapa pengen bebas?
Memasuki umur belasan tahun, biasanya remaja mulai merasakan
perubahan yang terjadi pada dirinya. Dari mulai perubahan fisik sampe non fisik
yang meliputi kelabilan emosi, perkembangan jiwa, dan pembentukan karakter.
Tapi nggak pake perubahan identitas jadi Ksatria Baja Hitam atau Sailor
Moon lho. Suara yang pecah, adanya jakun pada cowok, atau mulai tumbuhnya
–maaf- payudara pada cewek menunjukkan adanya perubahan fisik. Tapi untuk
perubahan non fisik, nggak terlalu keliatan. Kita cuma bisa nebak dari gejala
yang ditunjukkan remaja dalam perilakunya. Pakar psikologi bilang, fase ini
dikenal dengan proses pencarian jati diri yang dilalui remaja untuk mengetahui
peranan dan kedudukannya dalam lingkungan sekaligus mengenali dirinya lebih
dekat. Catet tuh!
Dalam proses pencarian jati diri ini, remaja biasanya memerlukan
kemandirian yang menurut Sutari Imam Barnadib meliputi: “Perilaku mampu
berinisiatif, mampu mengatasi hambatan/masalah, mempunyai rasa percaya diri dan
dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain”. Ya, alon-alon remaja
berusaha melepaskan ikatan psikis dengan orangtua. Mereka pengen dihargai
sebagai orang dewasa. Pengen bisa berpikir secara merdeka; bisa mengambil
keputusan sendiri; punya hak untuk menerima atau menolak masukan dari pihak
lain; dan belajar bertanggung jawab terhadap setiap perbuatannya.
Robert Havighurst menambahkan bahwa kemandirian terdiri dari
beberapa aspek, pertama emosi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengontrol
emosi dan tidak tergantungnya kebutuhan emosi dari orangtua. Kedua aspek
ekonomi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengatur ekonomi dan tidak
tergantungnya kebutuhan ekonomi pada orangtua.
Ketiga, aspek intelektual, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan
untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi. Dan terakhir, aspek sosial,
aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang
lain dan tidak tergantung atau menunggu aksi dari orang lain.
Itulah sedikit tinjauan psikologis akan kebebasan yang dikehendaki
remaja. Intinya sih, remaja pengen mandiri. Nggak cuma makan atau mandi
sendiri, tapi juga dipercaya dalam berpikir, berbuat, dan bersikap sesuai
dengan keinginannya. “Masa’ Mama nggak ngerti sih?” pikir Diyan.
Ketika kebebasan menjadi kebablasan
Sobat, setiap orangtua pasti ngerti kalo suatu saat nanti, mereka
kudu rela melepaskan anaknya hidup mandiri. Dan emang bagusnya, proses itu
diawali oleh orangtua ketika sang anak menginjak usia remaja. Namun, pergaulan
remaja modern yang kental dengan nuansa kebebasan bikin sebagian orangtua
keberatan untuk memenuhi keinginan anaknya.
Ya, gimana nggak, gencarnya arus budaya Barat yang membidik remaja
membuat tuntutan kebebasan remaja bergeser menjadi liar tak terkendali. Pola
hidup sekuler yang dipraktekkan masyarakat Barat jelas-jelas bertolak belakang
dengan kehidupan kita selaku muslim. Parahnya, gaya hidup sekuler itu makin
populer di mata remaja dan sering kali menjadi acuan dalam perjalanannya
mencari identitas diri. Bahaya kan?
Beberapa akibat kebebasan yang kebablasan hasil jiplakan remaja
terhadap budaya barat adalah:
Pertama, free thinker alias bebas berpikir. Remaja ngerasa
punya hak untuk berpikir tanpa dibatasi oleh norma-norma agama. Terutama dalam
upaya mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi atau cara untuk meraih
keinginannya. Nggak ada yang ngontrol saat benaknya ngasih jalan pintas untuk
beresin masalahnya. Bisa bunuh diri, nge-drugs, atau nyekek botol
minuman keras. Bisa juga jadi pelaku kriminal atau cewek ‘bispak’ pas lagi
nggak punya doku.
Nggak ada juga yang ngasih pengarahan di benaknya saat kebutuhan
nalurinya minta dipenuhi. Demi popularitas dan limpahan harta, harga diri dan
kehormatan rela dipertaruhkan di kontes kecantikan. Ketika pornoaksi bin
pornografi yang mudah ditemui menggedor hasratnya, apa aja bakal dijabanin
asalkan terpuaskan. Urusan dosa atau penjara, itu mah belakangan. Ih, ngeri
banget deh jadinya.
Kedua, permissif alias bebas berbuat. Mau ngapain aja di
mana aja jadi prinsip remaja dalam berbuat. Pokoknya serba ada, eh serba boleh.
Mulai dari cara berbusana, berdandan, berbicara, bergaul, atau berperilaku.
Bangga jika daya tarik seksualnya disapu setiap mata lawan jenis yang
jelalatan. Antimalu jadi pusat perhatian orang lantaran dandanannya yang
urakan, norak, dan kekurangan bahan. Dan nggak punya rem buat ngendalian tutur
katanya. Ceplas-ceplos bin asal bunyi. Dan semuanya dilakukan tanpa risih
dengan mengantongi label kebebasan berekspresi. So what gitu lho! (Yako
banget neh!)
Ketiga, free Sex alias pergaulan bebas. Saat ini, pergaulan
bebas antar lawan jenis yang banyak digandrungi remaja sangat mudah
terkontaminasi unsur cinta dan seks. Apalagi ditambah dengan kampanye
teselubung antijomblo yang diopinikan media via sinetron remaja. Setiap remaja
ngerasa kudu punya gacoan biar eksis dalam pergaulan. Nggak sebatas punya
gacoan, pergaulan bebas pun sangat membuka peluang bagi remaja untuk aktif
melakukan aktivitas seksual. Pemicunya, bisa karena nonton vcd porno yang
dijual bebas atau melototin tayangan erotis di televisi. Kurangnya kontrol dari
orangtua, sekolah, atau masyarakat bikin mereka enjoy berpetualang
menikmati kepuasan sesaat. Gaswat dongs?
Nah sobat, coba aja bayangin. Gimana nggak keder ortu dengan
akibat kebebasan remaja yang kebablasan seperti dipaparkan di atas. Niat ortu
ngasih kebebasan biar mandiri, bisa-bisa nyasar malah anak remajanya kehilangan
harga diri. Makanya kita pantas ber-husnudzan ama ortu. Kalo pengen
dipercaya ortu, jalin komunikasi dan tunjukkin dong kalo kita udah dewasa dan
siap belajar mandiri. Nggak perlu pake ngambek. Malu kan ama seragam SMA-nya?
Hehehe…
Dewasa di usia remaja
Sobat, kemandirian bagi remaja memang sangat diperlukan untuk
mendukung perkembangan jiwanya. Tapi kita kudu mikir seribu kali kalo remaja
dibiarkan menafsirkan sendiri kebebasan yang dikehendakinya. Jiwanya yang labil
sangat mudah terwarnai oleh lingkungan sekitar. Gelora jiwa mudanya paling
gampang terpincut ama budaya Barat yang steril dari aturan Islam. Makanya kudu
ada perhatian agar generasi muda Islam nggak salah langkah dalam menapaki jalan
panjang mencari jati diri.
Kita sebagai remaja muslim wajib nyadar kalo kebebasan dalam
berpikir dan berperilaku nggak pernah diajarin dalam Islam. Islam ngajarin
adanya kehidupan akhirat yang akan memintai pertanggungjawaban setiap amal
perbuatan kita di dunia. Otomatis ini nyambung dengan tabungan pahala dan dosa
yang kita kumpulkan sepanjang hidup di dunia. Tiket surga bakal kita peroleh
kalo pahala kita surplus. Sebaliknya, kita bakal diceburkan ke dalam neraka
seandainya dosa kita yang surplus. Dan pahala itu baru kita dapetin kalo Allah
ridha dengan perbuatan kita. Itu berarti keterikatan dengan aturan Islam
seharusnya jadi standar perbuatan dalam keseharian kita. Kalo udah gini, masa’
iya kita mau melepaskan diri dari aturan Allah demi sebuah kebebasan? Allah
Swt. berfirman:
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah
yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS al-Maidah [5]: 50)
Sebagai pengingat, kita bisa renungkan firman Allah Swt.:
Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya,
(QS al-Mudatsir [74]: 38)
Usia remaja mengharuskan kita belajar untuk bertanggung jawab.
Masa depan di dunia dan akhirat ada di tangan kita. Bukan dalam genggaman
orangtua atau uluran tangan dari seorang teman. Proses pembelajaran itu bisa
kita awali dengan mengkaji Islam dengan giat. Agar keimanan kita terhadap
hubungan kehidupan dunia dan akhirat terpatri dengan kuat. Selain itu, aturan
Islam yang komplit juga menawarkan solusi untuk setiap permasalahan hidup yang
kita temui. Pemahaman Islam kayak gini yang akan membiasakan kita untuk
berpikir panjang sebelum berbuat. Hawa nafsu dan godaan setan mampu kita
tundukkan. Sehingga setiap langkah yang kita ambil bisa memberikan kebaikan.
Inilah cerminan dari kedewasaan kita dalam bersikap dan berbuat. Mau dong?
Pasti!
Kebebasan berekspresi bagi remaja tidak seharusnya dapet dukungan
penuh dari orangtua dan pihak sekolah. Khawatir kebablasan dan menjerumuskan
mereka ke dalam kemaksiatan. Ortu dan pihak sekolah akan lebih berperan jika
bersedia memfasilitasi dan mengizinkan adanya pengajian yang menjembatani
remaja dalam melalui masa transisinya dengan positif. Dan kekhawatiran akan
pengaruh buruk lingkungan akan sedikit terkurangi. Sebab ketika remaja jauh
dari pantauan orangtua dan pengawasan pihak sekolah, akidah Islam akan
menjaganya. Bukankah ini yang kita kehendaki? Mari kita sama-sama dukung
pengajian remaja. Yuk? [Hafidz: hafidz341@telkom.net]