STUDIA Edisi
310/Tahun ke-7 (11 September 2006)
Stop Press!!
Artikel ini khusus buat mereka yang berpacaran dan pernah punya pacar. Waduh,
gimana dong nasib mereka yang hidupnya lurus-lurus aja alias nggak pernah
pacaran? Masa’ nggak boleh ikutan baca? Hehe... tentu boleh dong. Siapa tahu
ada orang-orang di sekeliling kamu yang membutuhkan, padahal kamu masih belum
punya pengalaman, kamu tinggal kasihkan artikel STUDIA edisi kali ini. Asyik
kan?
Masa pacaran, siapa sih yang nggak panas-dingin bila mengenangnya?
Panas-dingin karena teringat indahnya. Tapi bisa juga panas-dingin karena takut
dosanya. Yang pasti sih, saya yakin kamu udah pada insaf kalo pacaran tuh cuma
ajang menumpuk dosa akibat baku syahwat yang melanggar syariat. Kalo masih
belum yakin juga, kamu bisa baca-baca lagi file STUDIA yang lalu-lalu biar
ingatanmu fresh lagi.
Nah, udah ingat lagi kan? Kamu yang dulu memutuskan si dia karena
takut dosa. Kamu yang memutuskan kekasih karena insaf. Kamu yang tak mau lagi
mempunyai ikatan nggak sah. Kamu yang udah nyadar dan nggak pingin mengulangi
lagi. Entah kenapa tiba-tiba aja bayangan si dia nongol lagi dalam benakmu.
Tiba-tiba aja nggak sengaja ketemu di angkot. Atau di tempat les
bahasa Inggris. Atau bisa juga karena kamu yang lagi beres-beres kamar
menemukan satu lembar foto doi dalam pose yang bikin kamu tersepona. Tapak
kenangan dirinya ternyata belum hilang sepenuhnya dari benakmu. Duh... gimana
menyikapi rasa ini?
Padahal kamu tahu bahwa jalinan cinta itu tak mungkin lagi untuk
diulang. Ia hanya penggalan masa lalu yang kudu dikubur dalam-dalam. Terus,
gimana dong?
Ketika si dia hadir kembali
Setelah beberapa saat mampu melupakan bayangan dirinya, tak
disangka tak diduga tiba-tiba si dia hadir lagi dalam kehidupanmu. Kehadirannya
pun mampu menghadirkan suasana haru-biru yang dulu pernah singgah di hatimu.
Meski kalian sudah tak ada lagi ikatan, kenangan lama itu begitu indah untuk
dilewatkan begitu saja. Bagaimana pun, kamu masih menyimpan direktori memori
itu dalam salah satu sudut hati. Ehem...
Tenang aja, yang namanya perasaan itu bersifat ghoib kok, nggak
terlihat. Karena nggak terlihat maka tak bisa pula dikenai hukum. Tapi meskipun
bebas dari hukum, bukan berarti kamu bisa bebas juga membiarkannya tanpa batas.
Catet ye!
Bukanlah ada Yang Maha Mengetahui baik yang ghoib dan yang nyata?
Ya, meski tak ada satu pun teman yang memergoki, tapi kamu pantas malu dong
sama Dia. Ia Yang Maha Memantau kondisi hatimu. Lagi pula, kalo yang namanya
rasa, meski nggak terlihat tapi ia akan membekas pada perbuatan. Jadi, bisa aja
kamu tanpa sadar menyebut namanya. Atau setengah pingsan berusaha lewat depan
kelasnya hanya demi bisa melihat sosoknya meski sekilas. Duh... sampe
sebegitunya ternyata kalo perasaan dimanjakan.
Padahal sedari awal ketika kamu mengambil keputusan untuk mem-PHK
dia, kamu sudah sadar sesadar-sadarnya bahwa pacaran adalah salah satu jalan
syaitan untuk mengajak maksiat. Karena kamu nggak mau jadi teman syaitan, maka
kamu pun nggak mau lagi pacaran. So, sebetulnya kamu itu udah paham kok
bagaimana menyikapi pacaran. Cuma yang kamu agak nggak paham adalah menyikapi
kenangan yang kadangkala timbul tenggelam kayak tanpa dosa, gitu.
Apalagi biasanya mereka yang sebelumnya menjadi aktivis pacaran,
biasanya rentan banget untuk diajak balik oleh sang mantan. Memang sih nggak
semua, cuma jaga-jaga aja kalo ternyata kamu ternyata adalah tipe yang lemah
ini. Waspadalah!
Hati-hati musang berbulu domba
Jangan terjebak dengan bujuk rayu dunia. Entah sang mantan ngajak
balik, or ada ikhwan berbulu domba yang ngajakin kamu pacaran dengan bingkai
Islam. Mulutnya manisnya ngajak ta’aruf tapi aktivitasnya nggak beda jauh
dengan pacaran. Eh, ternyata karena si ceweknya lemah iman (tentu cowoknya juga
dong), mau aja ia nginap berhari-hari di rumah si ikhwan tanpa hajat alias
keperluan syar’i yang jelas, misalnya.
Meskipun sudah jadi calon suami dan bawa teman sekampung, kamu
masih belum boleh tuh nginap di rumahnya. Apalagi pake acara pelesir ke
tempat-tempat rekerasi. Duh duh... di mana pemahaman kamu tentang hukum syara’
selama ini? Or jangan-jangan kamu bolos ya waktu pembahasan topik pergaulan
dalam Islam? Atau.. memang nggak paham?
Kamu kudu hati-hati, saat ini banyak ikhwan jadi-jadian kayak
gini. So, biar kamu nggak terjerumus lagi, niatkan hijrahmu ini karena
Allah saja, bukan yang lain. Lalu berkumpullah dengan orang-orang sholeh dalam
hal ini akhwat-akhwat sholihah yang menjaga diri dan pergaulan. Dengan
berkumpul bersama mereka, akan ada orang yang akan menjaga dan menasihati kamu
bila akan salah langkah.
Kalo sudah sampe pada tataran ini, kamu kudu introspeksi. Apa yang
salah pada dirimu? Kenapa bayangan doi masih menari-nari? Kenapa kenangan itu
sulit dihapus dari hati?
Pertama, mungkin saja kamu lagi krisis hati yang bermula dari
kekurangdekatan kamu pada Yang Maha Membolak-balik hati. Kamu masih punya
sekian banyak waktu luang sehingga terbuka peluang untuk bengong. Padahal yang
namanya syaitan itu paling demen masuk pada momen ini. Panjang angan-angan
dengan banyak melamun.
Kedua, ganti ‘kacamata’ yang kamu pake. Si mantan boleh jadi
adalah seseorang yang terlihat begitu perfect di matamu. Udah cakep,
tajir, ramah, baik hati, suka menolong, rajin menabung, patuh pada orang tua,
rajin sholat lagi. Bagi yang belum paham hukum pacaran, cowok tipe ini adalah all
girls ever want.
Jadi bisa aja kamu begitu dengan berdarah-darah saat
memutuskannya. Hehehe..biar hiperbolis gitu kedengarannya. Maksudnya, kamu
sebetulnya masih sayang sama dia dan nggak ingin pisah darinya. Tapi kesadaranmu
terhadap keterikatan pada hukum Allah Swt., bahwa pacaran adalah aktivitas
mendekati zina, jauh lebih kamu pilih daripada kelembutan si dia.
Ketiga, bisa jadi kamu ternyata nggak begitu paham konsep jodoh.
Kamu mati-matian masih berat sama dirinya meski udah putus. Ada terbersit rasa
takut dalam dirimu gimana kalo ternyata si mantan nikah sama cewek lain.
Itu artinya, kamu belum benar-benar putus dan mengikhlaskan
dirinya pergi. Jadinya, kamu masih ada harap-harap si dia akan datang dan
ngajakin kamu merit. Padahal harapan itu jauh panggang daripada api alias sulit
terwujud. Lha wong ternyata pacarmu saat ini malah asyik berlumur maksiat
dengan punya cewek baru setelah kamu putus.
Iman adakalanya bertambah dan berkurang. Ketika imanmu sedang
tinggi-tingginya, kamu begitu pasrah dan ikhlas melepaskannya. Tapi ketika iman
sedang down, kamu merasa begitu sayang dan ingin kembali padanya. Itu
sebabnya ada resep sederhana: iman bertambah jika taat kepada aturan Islam,
iman berkurang tentu jika kita maksiat kepada Allah dan RasulNya. Pilih mana
ayo? Orang cerdas, pilih taat syariatNya dong ya. Betul ndak?
Yakinlah pada takdirNya
Yakin pada qadha alias keputusan Allah yang ditetapkan atas diri
kita, adalah kuncinya. Selama kita telah berjalan pada rambu-rambu syariatNya,
maka selebihnya bertawakallah. Allah hendak menguji imanmu, apakah kamu lebih
mencintai sang mantan pacar ataukah taat pada aturanNya? Kamu nggak bisa dong
mengaku-aku beriman padahal belum jelas siapa saja yang bakal sanggup melewati
pintu-pintu ujian itu. So. ati-ati deh.
Ada sebuah peristiwa, sepasang remaja yang saling mencinta harus
rela memutuskan ikatan tanpa status yang mereka punya alias pacaran. Kedua
pasang remaja ini adalah pasangan idola di masa SMA. Beberapa tahun kemudian,
yang akhwat alias remaja putri tadi memutuskan untuk menerima khitbahan seorang
ikhwan. Entah dengan alasan apa, ia memutuskan tidak mau melihat siapa calon
suaminya hingga akad tiba. Ia hanya percaya saja pada pembina ngajinya tentang
kualitas nih ikhwan. Sumpah!
Dan tepat ketika akad nikah tiba, saat ia harus mencium tangan
suaminya, ia mendongak dan jatuh pingsan. Apakah suaminya bewajah seperti beast
hingga ia shock? Ternyata sebaliknya. Suami yang kini telah sah menjadi
pasangan jiwanya adalah seseorang yang begitu dalam terpatri di lubuk hatinya.
Kekasih yang diputuskannya karena Allah dan saat ini Allah pula yang menyatukan
sang kekasih dengan dirinya lagi.
Tapi kamu jangan buru-buru gembira dulu. Wah, asyik, aku putusin
aja sang pacar sekarang. Beberapa tahun lagi ia pasti akan datang meminang dan
menikahiku. Waduh, kalo gitu caranya, kamu taat syariat tapi dengan pamrih tuh.
Namanya nggak ikhlas, Non. Padahal sebuah amal nggak bakal diterima bila bukan
semata-mata hanya mengharap ridhoNya saja. Jadi, pamrih yang dibolehkan cuma
ridho Allah, lain tidak.
Karena ada juga sebuah kisah lain yang tidak sama dengan yang di
atas. Nih akhwat cakep banget dan di masa jahiliyah sebelum paham Islam dengan
baik dan benar, pacar-pacarnya selalu cakep dan kaya. Setelah ngaji, ia pun
memPHK pacarnya dan tak mau lagi berhubungan dengan mereka.
Dua tahun mengaji, ada ikhwan datang meminangnya. Kondisi ikhwan
ini sangat jauh dari tipe laki-laki yang pernah menjadi pacar-pacarnya. Secara
fisik, nih ikhwan lebih pendek dari si gadis. Apalagi kakinya juga cacat
sebelah. Secara harta, ia pun masih awal dalam pekerjaannya. Tapi apa yang
dilakukan oleh si gadis? Ia menerima ikhwan ini karena satu hal, kesholehannya.
Kemungkinan ini sangat bisa terjadi. Mungkin secara fisik dan
harta, jodohmu tak seindah yang pernah menjadi pacar-pacarmu. Tapi satu hal,
bila kesholihan seseorang yang kamu jadikan patokan, maka insya Allah akan
barokah dunia akhirat. Dan yang utama, niat atau motivasi kamu dalam beramal
sangat menentukan kualitas dirimu ke depan.
“Aku baik-baik saja”
Yakinkan dirimu dengan prinsip: “Aku akan baik-baik saja” (meski
tanpa si doi). Jangan terlalu memanjakan perasaan. Kenangan itu hadir kalo kamu
emang berusaha menghadirkannya. Emang sih, kenangan itu nggak mungkin bisa
terhapus dari memori hatimu. Bahkan, ia merupakan bagian dari proses
pendewasaan kamu untuk melangkah ke masa depan. Tapi, itu bukan alasan untuk
kemudian berlarut-larut dalam kenangan yang tak berkesudahan. Sebaliknya,
tanamkan dalam diri bahwa kamu akan menjadi seseorang yang lebih baik dengan
menanggalkan masa lalu yang berlumur
dosa akibat menjadi aktivis pacaran.
Jangan mengulang kesalahan yang sama ketika kamu sudah
meng-azzam-kan diri alias bertekad untuk berubah. Kalo ternyata sikap dan
kelakuan kamu masih sama, bukan nama kamu saja yang bakal jelek. Tapi citra
muslimah berjilbab dan anak ngaji pun akan tercoreng. Ibarat susu sebelanga,
jangan sampai kamu menjadi nila setitik itu.
Pancangkan tekad kuat bahwa kamu nggak akan pernah tergoda lagi
untuk ngulangin pacaran. Kamu nggak akan terbuai oleh embel-embel Islam padahal
sejatinya adalah maksiat. Dan supaya nggak terjatuh ke lubang yang sama, kamu
kudu rajin mencari ilmu tentang batasan pergaulan dalam Islam. Jangan menjadi
anak ngaji hanya karena pingin dapat jodoh dari sana. Sesungguhnya setiap
amalan dinilai Allah berawal dari niatnya.
Yakinlah kamu akan baik-baik saja kok meski tanpa sang mantan or
si ikhwan jadi-jadian. Jodohmu sudah tertulis sejak mula ruhmu ditiupkan.
Bahkan Allah telah menjanjikan bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang
baik dan perempuan yang baik juga untuk laki-laki yang baik. Begitu sebaliknya
(coba deh kamu buka al-Quran surat an-Nuur ayat 26). Kamu nggak usah resah dan
gelisah masalah jodoh. Toh kita hidup bukan cuma ngurusi masalah satu ini kan?
Selama kamu maksimal beikhtiyar dengan jalan yang baik dan benar, jodoh yang
datang nanti juga nggak jauh dari kualitasmu. Yakin aja.[ria:
riafariana@yahoo.com]