STUDIA Edisi 271/Tahun ke-6
(12 Desember 2005)
‘Say No to Free Sex and Drugs’. Tulisan poster itu mendominasi perayaan Hari AIDS di seluruh
dunia tanggal 1 Desember kemaren. Perayaan tahunan ini ngingetin kita akan
bahaya Human Immunodeficiency Virus (HIV). Suatu virus yang menyerang
sel darah putih manusia dan menyebabkan menurunnya kekebalan/ daya tahan tubuh,
sehingga mudah terserang infeksi/penyakit. Kalo udah parah, tubuh penderita
bakal menjadi sarang berbagai penyakit yang tak kunjung sembuh. Kondisi inilah
yang disebut AIDS alias Acquired Immunodeficiency Syndrome.
Sejak pertama kali dikenali tahun 1981, HIV udah ngabisin kontrak hidup lebih dari 25
juta orang pengidapnya. Kini, pengidapnya sudah melebihi 40 juta orang. Hal tersebut
terungkap dalam laporan terakhir epidemi HIV/AIDS PBB yang disiarkan di New
Delhi, India, Senin (21/11). (Metrotvnews.com, 21/11/05). Sementara di
Indonesia, Jumlah pengidap HIV/AIDS mencapai angka 8.251 orang.
Data itu berdasarkan hasil laporan Departemen Kesehatan per
tanggal 31 September 2005. Dengan angka ini Indonesia menempati urutan ketiga
sebagai negara pengidap HIV/AIDS terbesar di Asia setelah Cina dan Vietnam. (Indosiar.com,
08/11/05). Ini yang terdata lho. Yang belon terdata, mungkin lebih banyak
lagi. Gawat!
HIV menular melalui cairan tubuh seperti darah, air mani, cairan
vagina, atau air susu ibu. Ini artinya, perilaku seks bebas, penggunaan jarum
suntik yang nggak steril di kalangan pecandu narkoba (IDU), transfusi darah,
atau wanita hamil yang terjangkit HIV berisiko memberikan tongkat estafet
mewabahnya HIV. Di antara perilaku yang memancing kehadiran HIV ini, Injection
Drug Use (IDU) memimpin klasemen.
Menurut Badan Narkotika Nasional (BNN), per 30 September 2005 dari
32 provinsi ada sekitar 600 ribu orang Indonesia terjangkit HIV/AIDS. Di Papua, penyebaran HIV melalui narkoba,
jumlahnya mencapai 14 ribu atau 30 % dari total kasus. Di Pontianak, 70 % dari
total kasus, dimana 3/4 dari mereka adalah pengguna narkoba. Di Bali 53 % dari pengguna narkoba suntik
positif HIV. Dan di DKI Jakarta 48 persen pengguna narkoba suntik positif HIV.
HIV/AIDS itu belum ada obatnya
Sobat, meski para ilmuwan udah banyak ngabisin waktu untuk nyari
penangkal HIV, ternyata hasilnya masih nihil. Berbagai tes klinis menunjukkan
mayoritas pasien yang telah menerima vaksin pun, tetap menunjukkan gejala AIDS.
Para ilmuwan menduga bahwa HIV mempunyai kemampuan untuk terus-menerus
memutasikan dirinya sehingga antibodi yang sudah terbentuk tidak dapat mengenalinya
lagi dan infeksi berlangsung terus tanpa bisa dihentikan (Chemistry.org).
‘cerdas’ juga ya?
Kalo kita pikir, boleh jadi kemunculan virus HIV yang ‘cerdas’ dan
mematikan ini sebagai peringatan dari Allah Swt. kepada para pelaku seks bebas,
penyimpangan seks, atau pemakaian narkoba. Juga kepada masyarakat dan negara
yang cuek dengan kemaksiatan ini. Catet tuh!
Perilaku seks bebas yang lahir dari gaya hidup permisif alias serba boleh ini kian menjamur seiring
masuknya budaya sekular-Barat ke negeri-negeri Muslim. Melalui jalan masuk
kecanggihan teknologi dalam tv kabel dan internet, setiap orang dengan mudah
mengakses segala info tentang seks. Nggak cuma teori, tapi merambah sampe
tontonan yang dijadikan tuntunan. Walah!
Parahnya, kondisi yang memancing hasrat seksual ini seperti kurang
mendapat perhatian serius dari pemerintah. Kemampuan negara untuk menyensor
tayangan pornografi dan porno aksi yang beredar di televisi seolah tumpul di
hadapan kebebasan pers yang diusung media massa. Penjualan atau penyewaan
vcd/dvd porno tak pernah tuntas diberantas. Bahkan prostitusi yang udah
jelas-jelas jadi penyakit masyarakat, dilegalkan dengan pemberian tempat
lokalisasi. Kalo udah gini, sama aja ngasih dukungan bagi HIV untuk berkembang
biak dari satu raga ke raga lainnya. Menyedihkan?
Lebih menyedihkan lagi jika penularan virus mematikan ini
menghampiri korban yang tidak berisiko menjadi pengidap seperti bayi dan pasien
transfusi darah. Lantaran sang ibu atau kantung darahnya telah terinfeksi HIV.
Juga kemunculan anak-anak yatim-piatu yang ditinggal mati orangtuanya akibat
AIDS. Masa’ sih kondisi ini akan terus dibiarkan?
Wajib dihentikan
Pasti. Penyebaran HIV emang kudu kita stop. Banyak cara dilakukan
orang-orang yang peduli untuk menghentikan laju wabah HIV. Seperti kampanye safe
sex yang pernah dipopulerkan mendiang Harry Roesli melalui iklan layanan
masyarakat. “Kenakan kondom atau kena!”. Ketika budaya seks bebas sulit
dikendalikan, penggunaan kondom dijadikan andalan. Sehingga karet pengaman ini
dengan mudah diperoleh di warung-warung. Malah ada penemuan yang menghadirkan
mesin penyedia karet KB ini layaknya sebuah ATM yang ditempatkan di mal atau
pusat perbelanjaan. Tapi benarkah alat pengaman ini bener-bener aman?
Dalam konferensi AIDS Asia Pacific di Chiang Mai, Thailand (1995)
dilaporkan bahwa penggunaan kondom aman tidaklah benar. Disebutkan bahwa pada
kondom (yang terbuat dari bahan latex) terdapat pori-pori dengan diameter 1/60
mikron dalam keadaan tidak meregang, sedangkan bila dalam keadaan meregang lebarnya
pori-pori tersebut mencapai 10 kali. Sementara kecilnya virus HIV berdiameter
1/250 mikron. Dengan demikian jelas bahwa virus HIV dapat dengan leluasa
menembus pori-pori kondom. Masa’ saringan pasir dipake buat nyaring beras?
Hehehe...
Makanya kampanye safe sex with condom nggak akan pernah
bisa menahan laju penyebaran HIV. Malah mungkin makin mempercepat. Soalnya para
pelaku seks bebas ngerasa aman sehingga berani gonta-ganti pasangan (padahal
mah boro-boro aman. Udahk kena HIV, dosa lagi. double tekor tuh!).
Pakar AIDS, R, Smith (1995), setelah bertahun-tahun mengikuti
ancaman AIDS dan penggunaan kondom, mengecam mereka yang telah menyebarkan safe
sex dengan cara menggunakan kondom sebagai “sama saja dengan mengundang
kematian”. Selanjutnya beliau mengetengahkan pendapat agar risiko
penularan/penyebaran HIV/AIDS diberantas dengan cara menghindari hubungan
seksual di luar nikah (Republika, 12 November 1995). Tuh kan? Jadi
jangan termasuk mitos ye.
Cara lain yang modelnya kurang lebih sama adalah penerapan metode harm
reduction di berbagai kantong pengguna narkoba. Metode harm reduction
dalam jangka pendek berupaya mengurangi dampak buruk penularan HIV lewat
penggunaan jarum suntik yang tidak steril. Caranya dengan menyuruh pengguna
narkoba untuk tidak bergantian menggunakan jarum suntik yang sama, menyediakan
jarum suntik steril, atau mengajari pengguna narkoba mensterilkan jarum suntik.
Dalam jangka panjang, harm reduction memberikan penyuluhan dan berbagai
upaya peningkatan life skill agar pemakaian narkoba berhenti. (Kompas,
19/05/05). Ah, yang benar aja neh?
Sobat, dua model kampanye di atas merupakan ciri khas masyarakat
kapitalis yang kian frustasi ngadepin wabah HIV. Demi mengurangi risiko
terinfeksi HIV, mereka tega ngebiarin orang tetep terjerumus. Padahal
seks bebas juga berisiko menyebarkan Penyakit Menular Seksual (PMS). Dan
pengguna narkoba bisa OD dan madesu alias masa depan suram. Kalo kita mau berpikir lebih jernih, tentu
bukan toleransi terhadap seks bebas atau penggunaan narkoba yang dikampanyekan
sebagai wujud kepedulian terhadap HIV/AIDS. Melainkan mendesak pemerintah agar
melarang dengan tegas segala bentuk seks bebas, penyimpangan seks, dan narkoba
serta mengkondisikan masyarakat agar dapat menjauhi perilaku maksiat itu. Dan
satu lagi yang nggak boleh lupa, terapkan hukum Islam oleh negara. Akur dong?
Pasti!
Kiat Islam menggasak HIV/AIDS
Sobat muda muslim, masyarakat mungkin frustasi ngadepin HIV yang
tetep mewabah. Tapi kita selaku muslim, justru kudu optimis kalo Islam pasti
punya jalan keluarnya. Pada masa Rasulullah saw., pernah ada satu daerah yang
terjangkiti wabah penyakit tha’un (sejenis kolera.). Penyakit ini dengan
mudah dan cepat menular kepada yang
lainnya. Mendengar berita ini Rasulullah saw bersabda: “Jika kamu mendengar
waba’ (tha’un) sedang berjangkit di suatu tempat, maka jangan kamu masuk ke
tempat itu. Dan jika berjangkit dalam negeri yang kamu sedang berada di
dalamnya, maka jangan kamu keluar daripadanya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan pada kita upaya yang bisa dilakukan untuk
mencegah penyebaran penyakit menular ke orang lain. Sepertinya upaya ini juga
bisa dipake untuk kasus HIV/AIDS. Ada baiknya jika pengidap HIV/AIDS
dikumpulkan pada satu daerah dengan kelengkapan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan
hidup yang memadai.
Meski terkesan agak ‘kejam’ dengan mengisolasi para ODHA bukan
berarti mereka dikucilkan lho. Karena penyebaran virus HIV ini tidak melalui
udara, jabatan tangan, atau sekeaar ngobrol, boleh jadi mereka tetep bisa
sosialisasi dengan yang lain di luar komunitasnya. Negara tetep memenuhi
kebutuhan hidup mereka seperti yang lain. Hanya saja, dengan dikumpulkan di
satu daerah, tentu penyebaran HIV akan lebih mudah terawasi oleh pemerintah.
Sehingga diharapkan wabah HIV bisa lebih cepat ditangani oleh negara.
Bagi yang belum terinfeksi, tentu negara bakal gencar
mensosialisasikan informasi seputar HIV/AIDS, bahayanya, dan cara
menghindarinya. Selain itu, negara juga kudu
turun tangan untuk ngebenahin kondisi yang bisa memancing orang ngeseks
bebas dan make narkoba. Dengan menutup semua lokalisasi/pub/diskotik, mencekal
tayangan erotis di televisi dan bioskop, dan pemberantasan narkoba tanpa
kecuali. Ditambah pemberlakukan hukuman jilid (cambuk) atau rajam
bagi pelaku seks bebas. Juga jilid plus penjara bagi bandar, penjual,
pengedar, peracik, atau pengguna narkoba.
Semua langkah-langkah di atas akan terlaksana sesuai harapan kita
kalo negara mau nerapin hukum Islam secara menyeluruh. Seperti diperintahkan
Allah swt dan dicontohkan Rasulullah saw. Tapi kan negara kita sekarang bukan
negara Islam?
Itulah masalahnya. Ketika hukum Islam dicuekin oleh negara, nggak
sedikit rakyatnya yang ikut-ikutan cuek. Akibatnya, kesengsaraan hidup seperti
penyebaran HIV/AIDS bakal diperoleh. Padahal Allah udah ngingetin dalam
firmanNya: “Siapa saja yang mengikut petunjukKu, ia tidak akan sesat dan
tidak akan celaka. Siapa saja yang berpaling dari peringatanKu, maka
sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (QS Thaahaa [20]:
123-124)
Untuk itu, mari kita sama-sama suarakan kebenaran Islam di tengah
masyarakat. Kita desak negara agak mau pake sistem Islam untuk ngatur
rakyatnya. Kita bongkar kebusukan sistem kapitalisme yang selama ini mengatur
hidup kita. Kita lawan produk-produk sistem ini yang mengajak masyarakat untuk
hidup sekuler, serba boleh (permissif) dalam berbuat demi meraih keuntungan,
gaya hidup hedonis, atau memuja materi dan kesenangan dunia. Dan kita perdalam
Islam dengan ikut ngaji. So, tunggu apalagi. Safe Our Live With Islam! [Hafidz:
hafidz341@telkom.net]